Hersri Setiawan:

karangan tak bernama

kepada kurban kezaliman Maharaja

Imperium Jawa Baru

tahun demi tahun berlalu

peristiwa demi peristiwa

berulang ulang sudah tapi belum juga sudah

aku tunduk mengenangmu menatap tanah

menatap tanah

juga sekarang ini

kuhadirkan arwahmu

di tengah tengah kita juga sekarang ini

bukan untuk saling

berpeluk

lalu musnah selamanya justru untuk berpisah tapi hidup selamanya

kuhadirkan jasadmu

di dalam angan angan tulang belulang

menyerpih

arang membeku hitam timbun bertimbun

tak terhitung

kuhadirkan bayangan

dan kucoba hitung berapa lubang peluru dan sayatan bayonet

di kepala, dada atau tubuh

seluruh!

satu, sepuluh atau oh, tak terbilang

kuhadirkan bayangan dan kucoba hitung

musim musim yang

berlalu

dan engkau yang

terbaring

di pelukan tanah dan

airmu

oh, alangkah banyaknya kurban yang telah jatuh

satu, dua, tiga atau ah, entahlah berapa

lagi

generasi demi generasi datang dan pergi

datang dan pergi

kurban kurban berjatuhan

daun daun berguguran tanpa diantar cucuran

hujan

tanpa diiring bisikan angin

terbanglah engkau

hai saudaraku terbanglah

pergilah engkau

hai saudaraku

pergilah

lebur dalam keabadian

aku tunduk mengenangmu menatap tanah

menatap tanah terbanglah engkau pergilah engkau

lebur dalam keabadian lebur di dalam bayangan

tinggalkanlah persabunganmu

di tengah perjalanan

ini

persabungan ini persabungan kita

perjalanan ini perjalanan kita

ketika kami para penerusmu

berdiri sekarang

di sini dan di mana

mana

tunduk menatap tanah menatap tanah meneguhkan janji meneguhkan janji

kockengen, 1 oktober 1998

 

Hersri Setiawan:

Kenanglah Kami

versi '98 "Krawang Bekasi" Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring

di seluruh penjuru tanah air

Tidak bisa bicara sepatah lagi tentang kehormatan, upah dan tanah

bahkan juga hilang sepatah seruan damai: "Mama!"

Tidak. Tidak bisa lagi kami sekarang bicara tentang perjuangan dan tentang kemerdekaan tentang cinta kasih dan tentang harapan Tapi siapakah yang mendengar kisah kami terbayang kami meronta dan tak berdaya?

Kami bicara padamu di ujung malam

di jantung amsterdam sekarang ini

Di tengah denyut hidup dan gelora semangat

kami mati dalam perkosa dan tinggal menjadi kisah

tentang serpihan tulang tulang mengarang tanpa nama

Kenang kenanglah kami

Kami sudah coba bertahan, tapi sia sia

kami sudah buat segala yang kami bisa Tapi kisah belum sudah, belum apa apa

Kami sudah jatuh menjadi kurban

sudah dirampas kami punya jiwa

sedang jalan panjang masih harus ditempuh beratus ribu atau berjuta nyawa menuntut arti

Kami cuma tinggal serpihan serpihan kisah beratus ribu atau berjuta nama tak dikenal

Kami yang kini terbaring di pelukan tanah air dan itu adalah kepunyaan mu!

Engkau lah sekarang yang tentukan nilai serpihan kisah nama nama tak dikenal

Apakah jiwa kami melayang untuk harapan kemerdekaan atau tidak untuk apa apa

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kau lah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu di ujung malam

di denyut jantung amsterdam dan gelombang semangat Kenang, kenanglah kami

Kami sekarang tinggal seribu satu kisah

Tapi berilah kami arti

Kenang, kenanglah kami

yang tak terbilang terbaring di mana mana penjuru tanah air

Kenang, kenanglah kami

Beri, berilah kami arti!

Kockengen, 1 oktober 1998

Catatan:

Dibacakan di lapangan Dam Amsterdam, tanggal 1 Oktober 1998, pada acara peringatan para kurban pembunuhan rejim Orde Suharto dari September 1965 sampai sekarang.