Hersri Setiawan:
in memoriam rejim orde baru
Penculikan-penyiksaan-pembunuhan yang semakin gila-gilaan, yang dijalankan oleh centeng-centeng Suharto, terhadap siapa saja (yang dipandang sebagai) lawan-lawan mereka, tidak usah berketiak-ular kita perdebatkan. Siapa yang bertanggung jawab sudah jelas. Pertama-tama dan terutama tidak ada lain orang: Suharto itu lah! Bacalah pengakuan dia sendiri yang tertulis jelas-jemelas di dalam mahakaryanya, Suharto Otobiografi Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Tidak perlu dibaca semua, muak untuk itu!, cukup beberapa kalimat yang menyangkut perihal "Petrus" (hlm. 389-391). Dia katakan di situ: "Itu untuk shock therapy, terapi goncangan". Bedanya, dulu terhadap "penjahat" kejahatan sosial, sekarang terhadap "penjahat" kejahatan politik. Pendek kata korban-korban penculikan sampai pembunuhan yang berjatuhan terus alkhir-akhir ini, tidak lain ialah korban-korban politisasi politik Petrus-nya Suharto.
Saya turunkan sebuah sajak tua saya, lebih tepat sebut lah "pamflet, yang saya tulis pada tahun 1976 di Unit XV Indrapura Pulau Buru. Pamflet ini tentang matinya seorang tapol bernama Munajid bin Asmorejo, kawan sebarak saya (Barak IV) di Unit tersebut. Ia tertangkap basah, ketika pada saat istirahat siang, menyelinap ke belakang gudang untuk membaca sobekan harian "Kompas". Sesudah 3 harmal ditahan di Unit kami sendiri, kemudian dipindahkan ke Markas Komando di pinggir Kali Wai Apo. Ternyata, selang beberapa hari kemudian, Bung Munajid tinggal pulang nama. Keterangan resmi para centeng mengatakan: Munajid ditemukan sudah menjadi mayat (15 Juni 1975, dalam umur 28 tahun), di bawah beberapa sampan yang "parkir" di bawah pohon lo, di Sungai Wai Apo itu. Bahwasanya ketika mayat diangkat masih dengan kedua tangan diborgol di belakang, saya dengar dari keterangan Bung Mulyono, tapol jururawat, petugas "RS" Mako.
Malam menjelang ia dipindah ke Mako itu dia mendapat ijin tidur di barak. Hari Sabtu malam Minggu waktu itu. Di Unit kami ketika itu sedang datang tim interogasi dari Jakarta (terhadap kami memang sering dilakukan interogasi-ulang). Kawan-kawan seniman dan hiburawan (di antara kami memang tidak ada seniwati dan hiburawati) terkena korve menghibur para interogator yang sudah lima hari kelelahan membentak-bentak tapol siang-malam. Kawan-kawan tapol lainnya terkena korve nonton. Korve mata atau korve tepuk tangan, istilah kami. Seperti biasa saya lebih suka tinggal di barak. Ketika itulah Munajid, menjelang kami tidur dan kawan-kawan sebarak belum pada pulang, datang menghampiri saya: berpamitan, mengucapkan janji, dan kami saling berpelukan.
Inilah pamflet itu.
Kompas
in memoriam munajid
dia yang kemudian terbaring
dengan tangan terikat
dan geraham terkunci
sungguh lebih dari pesakitan
ketika ia diseret
ke depan penguasa unit
dengan dada telanjang
tidak lebih bertaruh mati
karena dia anak dewasa
anak dewasa
di depan altar peradilan
tentara penguasa bumi
disiksa bukan diperiksa
diperkosa bukan ditanya
bisa apa dia
kecuali bertahan
di dalam mulut
tertutup
sesobek koran
dia telan
maka duri-duri ekor pari
melecut merobek tubuh
darah mengucur
darah mengucur
bisa apa dia
selain bertahan
dan berkata terpatah:
aku anak dewasa
yang berjanji berani
mengangkat sumpah
ekor ikan pari
gagang karaben
cincin listrik
gilir berganti
menyadap darah
dan rebah
ujung telunjukmu terbayang
bergetar menuding udara
bersama bisik suara penghabisan:
aku anak kemenangan
anak kemenangan
dia sudah bertahan
dia sudah berlawan
kemudian dia rebah
ada kompas dalam nafas
gulung bergulung
dalam kubur
ada amanat dalam maut
nyaring kumandang
dari kubur
unit xv indrapura: 1976
Kala Hitam Repiblik Orde Baru
keroncong kincir in memoriam orba
tuntutan pada maharaja $uharto
tiga puluh dua tahun yang lalu
tuan katakan orde baru harus dibangun
dan itu suara barisan serdadu ganda mait
niscayalah bukan kedar raungan macan kertas
niscayalah pernyataan jembatan emas bagi sendiri
tapi tidak adalah yang semua-mua hampa
butir-butir jernih keringat serta merah darah
di mana-mana banjir merah putih
kata tuan demi kebenaran dan keadilan
kata tuan demi ampera dan pancasila
tiga puluh dua tahun yang lalu
tuan katakan yang gombinis hantu dajal
dan itu suara pedang kabir berganda sakti
hari ini komunis ditebas bagaikan pacing
hari esok akal sehat dipenjara dan diburu
paduan suara serdadu bayaran kabir
memang bukan cuma angin padang pasir
plonco plonci hura-hura menyanyi-nyanyi
konon demi repiblik dan demi proklamasi
konon demi ini itu selain demi kamu sendiri
bahkan tuhan pun tidak kuasa bilang jangan
urusan politik tuan-tuan kemas menjadi iman
nafas massa tuan-tuan santhèt menjadi thuyul
dalam kurungan gading para pakar serta jamhur
digulung mantra hongwilahèng asap kemenyan
dan semua-mua
selain para paria
dibuai ayun ambing
lelap senyap
jatuh tertidur
dan semua-mua
selain para paria
yang di-penjara dan di-kubur
dibanjir yen dan dolar
terlelap tidur
tiga puluh dua tahun yang lalu
telah tuan-tuan bangun taman orde baru
balé kambang di lahan telaga darah dan luh
dipayungi intimidasi bayangan palapa dua
dan permadani poster-poster porno tergelar
kemudian sejurus sementara semua terkesima
monumen sukarno dibangun khidmat di sana
di pakistan ali bhutto mati digantung
di jalan jakarta allende diberondong
berseru-seru wertheim mcvey dan anderson
kemudian jadilah sementara semua terguncang
ketika matahari sudah terlalu tinggi di langit
ketika timor timur dibikin menjadi karang-abang
dan mengapa ada pastor berdiri di kedungombo
dan karena upah kerja marsinah harus mati
lalu semua bersaksilah
di mana kartini
di mana marsinah
oi keroncong kincir
kincir dari betawi
lalu semua diam kelu
mana aidit lukman njoto
mana tiongjing mana nio
oi keroncong kincir
kincir dari betawi
merah putih jadi azimat
pancasila jadi mantra
saptamarga jadi senjata
lalu semua sarat
sumbang berpadu suara
indonesia raya
merdeka merdeka
tanahku negriku
yang kucinta
indonesia raya
ah
kamu
yang
cuma
tumbal bekakak
mati
mati
mati
mati
mati
kemudian semua melihat dan mendengar
ada asap kelabu bergulung membubung
dari buku-buku terlarang yang dibakar
ada suara jerit tangis yang meraung
dari yang hidup hanya jadi bilangan
merdeka
dalam satu suara
bersama
dalam genggaman monopoli
saparuik periuk konglomerasi
dan tuan-tuan terkesima
dan tuan-tuan terjaga
dan tuan-tuan mencari
di depan beribu jalan
mencari jalan
la léla léla lédhung
cep menenga cep menenga
ada borgol setan subversi
ganas bagai setan banaspati
tapi jiwa siapa bisa didhadhung
tiga puluh dua tahun telah lalu
tuan katakan orde baru harus dibangun
dan dua puluh tahun sejarah republik
tuan katakan hikayat orde lama
musti dibersihken dèngen cara apa pun
lalu tuan-tuan bersorak sorai
sukarno gestapu agung
hartini lonté agung
gerwani lonté pé-ka-i
aidit kerak neraka
satu jendral seketi komunis
tumpas sekar-akarnya
tumpas
tumpas
tumpas
gantung
gantung
gantung
hidup pak anu hidup pak ini
hidup anuku hidup biniku
tiga puluh dua tahun yang lalu
ada fatwa darah kominis hala tumpah
dua puluh sejarah republik melangkah
dua kali kaum komunis dibikin tumbal
tuan katakan demi tuhan dan nabi-nabi
tiga puluh dua tahun yang lalu
warna jaket kuning
baret hijau dan merah
wajah-wajah maha hukum
wajah-wajah maha kuasa
adhuh yana adhuh yana
sesambat ki badranaya
dak-nembanga sekar sétan
gendruwo blorong théthékan
mimba-mimba imam mahdi
tani-tani desa
kuli-kuli kota
tanah dan ladang
bengkel dan pabrik
berdarah darah
tanah ladang
bengkel pabrik
jadi kuburan
tanah air
jadi penjara
adhuh laé adhuh laé
disulap azimat supersemar
sang dasamuka mengéjawantah
meredam benih gårå-gårå
dewi pertiwi bertaruh mati
garuda orba menyebar berita
klenteng cina klenteng cina
gudang cung gudang cung
rumah cina rumah cina
bakar bakar bakar
garuda orba menyebar berita
pé-ka-i malam meracun sumur
mbah suro di gunung wilis
benteng penghabisan gestapu-sukarno
digempur habis balatentara langit
Ki Badranaya sesambat
adhuh yana dak-nembanga
tembang mutiara-mutiara mazmur
pesona cabar menghablur
rerepèn sepi sendiri
lalu imperium orde baru tuan bangun
di atas lahan telaga darah dan aluh
berlapis pondasi tap-tap mprs ala kkn
lalu tanpa syarat tanpa pamrih (heh-heh-heh!)
bersumpah pejah-gesang ndhèrèk sang bapaŁ
pembangunan hidup pembangunan
gampang sukrasana memutar taman gantung
lebih gampang $uharto pasang nyala pelita
konsesi diteken utang anak cucu ditambang
konsesi diteken hutan nenek moyang ditebang
hura huré hura huré
mumpung gedhé rembulané
mumpung gedhé komisiné
dak-gasak gasaké dhéwé
horé swasembada beras
membanting tulang
tulang siapa
kerja keras
bagian siapa
adhuh yana dak-nembanga
tembangé mas-ku-mambang
jakarta yatalah pangéran
payungan beton jalan layang
dalam gedhé para panggedhé
swasembada kondom: horé
dua anak cukup: horé
demi tinggal landas
demi tinggal landas
demi demikian
demi demikian
harus ada landasan
harus ada harus
ada yang dilindas
ada yang melindas
adhuh yana dak-nembanga
tembangé tembang megat-ruh
diredam maut santa cruz
demi sumpah palapa dua
gentayangan siluman ninja
adhuh laé adhuh laé
keroncong kincir kincir betawi
lagu talkin rejim sang raja ...
(
bersambung)