hersri setiawan:
amsterdam cs*
satu ruangan besar
dan beberapa ruangan kecil langit langit tinggi lantai dan tembok beton papan tulis raksasa
penuh barisan simbol
angka huruf dan garis garis melambai lambai berkejaran
deretan loket dan toko dinding dinding dan gardu yang hidup dan yang otomatis lorong lorong dan tangga mengalir manusia dan benda dari segala penjuru
orang orang bersimpang siur ada yang lurus
ada yang menikung
ada yang saling menyilang ada yang sejajar
semua menuju depan
begitu banyak manusia setiap kali wajah baru menyebar campur baur
di negeri orang orang putih menyebar campur baur
hitam coklat kuning
apa yang mereka cari semua
mencari apa
ada langkah memburu
ada langkah tanpa peduli
ada langkah melenggang santai semua di hadapan waktu
ada yang merintang rintang ada yang melawan
ada yang menunggu
jalan lari dan berdiri
yang pendek dan yang tinggi yang kurus dan yang besar yang laki dan yang perempuan
dari bayi dalam kandungan sampai nenek nenek tertatih dari orok di kereta dorong
sampai kakek kakek di kursi roda orang orang segala umur
semua mencari
apa
di sana burung burung gereja berebut remah remah manusia
di sana sepasang merpati menggelepar melepas syahwat
di sana sepasang manusia asyik masuk dalam berahi di sana seorang perempuan
menciumi anjing di pangkuan di sana sekerumun manusia mencoba lari dari kenyataan terbang bersama asap ganja
lalu dari langit langit terdengar suara berseru: perubahan peron keberangkatan pengunduran jadwal perjalanan seribu satu alasan pemaafan gambar tempel di sana sini memperingatkan: awas copet!
semua mencari
waktu
ruang
kemungkinan
papan tulis raksasa itu
masih terus menari nari menghibur orang orang gelisah di antara mereka aku berdiri
bayangan anganku melayang
ke jakarta
hanyut dalam arus
gelisah
waktu
ruang
kemungkinan
kockengen, nov. '98
*stasion kota amsterdam