hersri setiawan:
tanahair tragedi
(kepada para sahabat di tanahair)
setiap kali benturan lalu
segera segala dibenahi lagi biar semua kembali rapi
reruntuk dan puing puing disapu rata dan disiram agar truk bermuatan mayat bisa lari sekencang bisa
seperti negeri belantara lumpur debu dan arang berhamburan serpihan kaca kain kain bermandi darah
seperti bangunan rumah tua
yang diancam kehancuran waktu pilar-pilar menunggu ditopang jendela dan pintu belum dipasang
peristiwa demi peristiwa
datang pergi silih berganti menambah timbunan kisah kisah tua hanya pesona bagi pecinta hidup gambar demi gambar disiarkan kisah demi kisah diceritakan kekuasaan seperti buta dan tuli
kekuasaan seperti musuh kemanusiaan
orang orang berdiri di pinggiran menyusut airmata yang lama kering seperti penonton atas nasib sendiri tanpa wewenang barang sehelai
para serdadu dengan karaben di tangan
menyusut keringat yang tak kunjung kering seperti sudah dengan sendiri
bermain-main atas nasib manusia
mereka yang berdiri di pinggiran habis bicara selain sama sendiri ketika datang saatnya sudah
untuk mengangkat kepala tegak tegak
untuk menangkap suara sumbang para pembesar untuk mengambil sikap terakhir dan berseru:
tidak!
maka ketika ada petinggi negri
mencoba mengais-ngais alasan tua membasuh tangan berdarah biang bencana
jadilah peringatan peneguh kepercayaan:
kami tahu, di mana tempat berdiri
kami tahu, ke mana jalan menuju
wahai para petinggi yang kecut hati
kami tahu, korban masih terus berjatuhan
satu saja kami minta pada kalian:
jangan bikin mereka mati sia-sia!
kockengen akhir 1998