Hersri Setiawan:

 

 

$uharto Orang Jawa yang 'Ora Jawa'

"Butir-Butir Budaya Jawa" - Hardiyanti Rukmana

 

(ditulis lagi untuk Mas Permadi SH dan Mas Wahana)

 

II

 

Tentang Jayabaya.

B3J menyebut (hal.200,201, 203) al.: "Sementara menyebutkan zaman ini sebagai Zaman Kencana I." Dan bahwa "Zaman Jayabaya akan terus terulang kembali di dalam jalan sejarahnya kebudayaan Jawa." Maksud anda? Hendak memberi isyarat, bahwa anda ialah "Jayabaya II", dan bahwa di bawah rezim anda "Zaman Kencana I" akan terulang kembali?

Sementara itu B3J, yang gegap gempita memuji zaman Jayabaya, lupa pada dua hal. Pertama, bahwa bagi kepercayaan rakyat di Jawa, Jayabaya nama raja pujangga pengarang "Jangka Jayabaya", sebuah "serat" atau kitab yang berisi "jangka" atau ramalan tentang masa depan "bangsa Jawa". Kedua, bahwa ada sementara yang menuduh tangan Jayabaya, raja yang anda sanjung puji ini, berlumuran darah Mpu Sedah. Sedah dihukum kisas, karena menggunakan permaisuri Jayabaya sebagai model penggambaran permasuri raja Salya dalam kakawin nya, yang (versi lain lagi menambahi) tidak lain kekasih Sedah sendiri yang dirampas Jayabaya.

 

Tentang Nitisastra.

"Nitisastera" (selanjutnya NS) terdiri dari 126 bait. Sekurang kurangnya 62 bait di antaranya dikutip B3J, ada yang seutuh nya dan ada yang - seperti dikatakan R.M.Ng. Poerbatjaraka di atas: "mustahil tanpa mengubah atau menambahi nya".

Kapoestakan Djawi (Jakarta, 1952) R.M.Ng. Poerbatjaraka, tentang NS menyebut al.: sebagai "ular ular agesang Jawi" (tuntunan hidup orang Jawa). Tapi, perhatikan juga tambahan keterangan selanjutnya yang menyatakan, bahwa "serat" ini menjadi semacam kamus sebelum di Surakarta ada sekolahan (kursif penegas dari saya: HS).

Dalam Kata Pengantar NS Balai Pustaka 1950, yang merupakan salinan dari Nitisastra (tepatnya kutipan judul buku ini "sa" harus "c cedille", dan "a" dengan tanda pemanjang di atas nya), R.Ng.Dr.Poerbatjaraka (1933), menyatakan al.: "berisi nasihat-nasihat serta angan-angan tentang kesusilaan yang berlaku di zaman Majapahit." (kursif penegas saya: HS).

 

Jadi menjadi jelas lah.

"Ular ular agesang Jawi" dari "zaman Majapahit", atau setidaknya dari jaman "sebelum di Surakarta ada sekolahan" itu lah, yang diangkat $uharto ke dalam B3J. Untuk apa? B3J hal. iv (Foreword) dan hal. v (Prakata) mengharap:

"dapat menjadi salah satu buku petunjuk dan pegangan dalam kehidupan bermasyarakat".

 

Kemudian, B3J hal. x (Introduction) dan hal. xi (Kata Pengantar) menyatakan:

"akan menjadikan manusia Indonesia memiliki sifat Berbudi Bawaleksana ialah manusia Indonesia yang bersifat Becik Sejatining Becik, dan tidak akan sukar meningkatkan kesadarannya sebagai Bangsa Indonesia ..."

 

Itulah impian $uharto dan "PPP" nya. Kalau Soekarno, presiden pendahulu nya, telah meninggali bangsa nya Pantjasila, Sarinah, Mentjapai Indonesia Merdeka dll., mengapa dirinya tidak? Bersyukur lah bangsa ku, bahwa $uharto sudah turun dari singgasana nya Mei yang lalu. Seandainya tidak, tidak mustahil B3J akan diresmikan menjadi GBHN, atau dijejalkan di mulut para peserta penataran P4.

 

Serat Sasanasunu : Bukti Watak Korup $uharto

Menurut Kapoestakan Djawi tersebut di atas, Nitisastra Kawi pernah digubah oleh Yasadipura I dalam Kawi Miring (1798), dan oleh Yasadipura II dalam Kawi Jarwa (1808). Dalam hubungan ini perlu dikemukakan, bahwa selain itu Yasadipura II atau Raden Tumenggung Sastranegara, juga menulis Serat Sasanasunu. Yaitu sebuah kitab ajaran tentang tata cara hidup Jawa Islam pada jaman itu.

Kitab Sasanasunu terbagi dalam 12 bab, hanya 2 bab saja yang tidak diambil masuk di dalam B3J. Yaitu bab tentang: agar orang menjadi Islam, dan bertauladan kepada Nabi Muhammad; serta bab tentang: tata cara tidur, makan, berjalan, dan bepergian.

Sekali lagi: hanya dua bab itu lah yang tidak diambil dalam B3J. Walaupun begitu, B3J tidak menyebut sepatah kata pun tentang kitab ini. Apakah ini namanya, kalau bukan "korup"? Korup 10 bab!

Ada lagi dua nama (paling tidak yang saya ketahui), yang butir butir kata kata mutiara mereka dikutip, tapi tanpa disebut sebut siapa nama tokoh tokoh itu. Dua tokoh itu ialah, yang satu Ki Hajar Dewantara (paling tidak kata kata mutiara nya "tut wuri handayani"), dan yang lain Mas Marco Kartodikromo (paling tidak mutiara semboyan nya "rawe rawe rantas malang malang putung"). Kenapa Tuan $uharto tidak berani menyebut kedua nama itu? Karena Ki Hajar "tidak bersih lingkungan" dan Mas Marco jelas jemelas "gembong Gombinis"? Mengapa Tuan begitu picik? Ingat lah Tuan pada ajaran kearifan yang tersimpul dalam pepatah Melayu ini: "Intan tetap intan, walau keluar dari mulut anjing sekali pun!"

 

Dua kutipan B3J dari NS perlu saya kemukakan, sebagai contoh tentang nafsu $uharto yang korup (menambah, mengurangi, dan mengubah) dalam kutip mengutip, serta tentang taraf "ngelmu kejawen" nya yang sejauh memamah biak pada apa yang tersurat belaka.

B3J hal. 40 (bhs.Jaw.) dan 41 (bhs. Ind. dan Ing.), butir 24 (dengan italic penegas saya-HS):

 

"Yang dapat menyebabkan mabuk adalah: 1) rupa cantik/bagus, 2) harta, 3) kebangsawanan. 4) umur yang muda. Arak dan lain-lain minuman keras juga dapat membuat mabuk orang. Jikalau ada orang kaya, rupawan, pandai, berharta, bangsawan lagi pula masih muda, padahal tidak mabuk, itu dikatakan orang yang berwatak utama."

 

Pada teks Jawa terbaca (saya kutip sebagian):

"Sing bisa gawe mendem iku: .... Arak lan kekenthelan uga gawe mendem ... , mangka ora mendem, ..."

 

Pada teks Inggris (saya kutip sebagian):

 

"... Rice wine and other alcoholic drinks can also ..."

 

NS IV:19, saya kutip (dengan penyesuaian ejaan saya):

 

"Yang bisa membikin mabuk, ialah keindahan, harta benda, darah bangsawan, dan umur muda. Juga minuman keras dan keberanian bisa membikin mabuk hati manusia. Jika ada orang kaya, indah rupanya, pandai, banyak harta bendanya, berdarah bangsawan lagi muda umurnya, dan karena semua itu ia tidak mabuk, ia adalah orang yang utama, bijaksana tak ada bandingnya."

 

Bagaimana "dan keberanian" bisa menjadi "lan kekenthelan" atau "dan lain-lain minuman keras" atau "and other alcoholic drinks"? Pertama, pertanda bahwa B3J tidak pandai membaca huruf Jawa, sehingga kata "kekendelan" (keberanian) dikutip sebagai "kekenthelan", yang dengan nekat diterjemahkan sebagai "lain-lain minuman keras"; dan kedua, B3J malas mencocokkan nya dengan teks Kawi NS, yang mencantumkan kata "sura" (yi. "keberanian").

Bandingkan juga kata kata NS: "dan karena semua itu ia tidak mabuk", dengan B3J: "padahal tidak mabuk". Ini selain menyatakan watak korup si Raja Naga, sekaligus juga memamerkan betapa dangkal "konsep" Kejawen yang dimilikinya. Jika "mabuk" pada NS ialah mabuk psikis (ungkapan Indonesia nya "lupa daratan") yang disebabkan oleh keistimewaan keistimewaan yang dimilikinya; maka "mabuk" B3J ialah mabuk teler yang disebabkan kebanyakan minum minuman keras!

 

Tentang bohong

Ini menarik. Ya, bicara tentang "bohong" dalam hubungan nya dengan tokoh bernama $uharto. Bukankah sepanjang 32 tahun kekuasaan nya dihias dengan kebohongan dan kebohongan belaka? Maka itu mari kita lihat, bagaimana B3J bicara tentang bohong.

Inilah kata B3J hal. 94 (bhs. Jaw.) butir 143, atau hal. 95 (bhs.Ind. dan Ing.), butir yang sama (saya kutip yang teks Indonesia, dengan kursif penegas pada beberapa kata):

"Bohong yang tidak kena hukuman itu ada lima macam: 1) Kalau sedang ada di pertemuan. 2) Ketika jadi pengantin sehabis dipertemukanpertama kali. 3) Kalau perlu untuk menjaga harta benda. 4) Kalau diperlukan untuk menjaga umur. 5) Kalau perlu untuk menjaga ketentraman keluarga. Bohong lima macam itu disebut bohong sembada. Bohong lainnya mendapat hukuman."

 

Bahwa "butir mutiara" di atas justru dimasukkan di dalam golongan "Pituduh" (Guidance), dan bukan "Wewaler" (Prohibitions), diperjelas lagi dengan bunyi teks Bahasa Jawa dan Inggris untuk kata "bohong sembada", menegaskan kualitas batin si Raja Naga dan "niyatingsun" nya yang hendak melegitimasi kebohongan dirinya sendiri.

Ini lah kata nya (semua italics dari saya-HS):

 

"Dora limang werna iku diarani dora sembada (goroh wenang)". [hal.94].

 

Lebih tegas lagi ini:

 

"These five categories of lies are called white lies (legitimate lies]." [hal.95].

 

Jelas bukan? Dari lima butir "bohong" yang menurut $uharto "tidak bohong" bahkan "sembada" itu, hanya satu butir yang saya tidak tahu. Yaitu butir ke-2, karena yang bisa menyangkal atau membenari nya hanyalah bini $uharto, yang sayangnya sudah almarhumah. Adapun selebih nya tampaknya $uharto sudah selalu melaksanakan "guidance" ini dengan amat sangat baik.

Apakah butir butir itu timbul dari kekayaan batin si Raja Naga pribadi? Ternyata juga tidak! Ini pun hasil srobotan (sori, maksud saya jiplakan tanpa "nyuwun pamit") dari NS., yang dilakukan nya dengan gaya "kupat diremet remet" yang khas $uharto. Butir butir itu disrobot dari NS VI:4, sambil memenggal (main penggal juga gaya khas $uharto) dari kesinambungan nya dengan bait sebelum nya (NS VI:3), dan tidak berusaha mencari tahu bagaimana mula buka "butir" itu lahir.

Saya kutip NS VI:3 dan NS VI:4

 

"Jika engkau berbohong kepada binatang, engkau akan mendapat hukuman sepuluh tahun lamanya; begitu lah bunyi buku pelajaran.

Jika berbohong kepada sesama manusia, akan disiksa seratus tahun lamanya di neraka.

Jika engkau membohongi Yang Mahakuasa, akan mendapat hukuman seribu tahun.

Jika engkau berbohong kepada guru, siksaan bagimu akan tiada hentinya." (NS VI:3]

 

"Ada lima macam kebohongan yang dapat dilakukan dengan tidak ada hukumannya: di waktu sedang berpesta, waktu pertemuan pengantin (waktu pengantin lelaki dan perempuan pertama kali bertemu), guna menjaga harta benda, guna melindungi nyawa dan di waktu bersenda gurau.

Di luar kelima macam ini, engkau akan dibawa ke kawah (neraka)." (NS VI:4]

 

Coba lah pikir barang sedikit. Apa kah ada "butir butir budaya" yang tentu saja selalu bermaksud menyampaikan ajaran moral dan "bagusing ati" (istilah anda pribadi), justru memberi "pituduh" alias "guidance" (juga istilah istilah anda) agar orang membohong. Dalam lima pasal lagi! Karena itu layak dipertanyakan, apa kah dengan maksud membela diri dari kebohongan kebohongan nya, maka $uharto telah menjiplak dan mengkorup semena mena butir NS VI:4 tanpa mengutip butir sebelum nya?

Semua Kitab Suci tidak ada yang menganjurkan perbuatan bohong. Juga kitab ajaran moral Nitisastra tidak. Camkan lah, betapa keras kitab ini menyikapi kebohongan. Saya kutip butir VI:2 (kursif penegas saya: HS):

 

"Tidak ada kesanggupan yang lebih baik dari pada cinta kepada kebenaran; wajib lah orang menepati kebenaran itu.

Tidak ada kawah yang lebih mengerikan dari pada kawah tempat menghukum pembohong; dari itu jangan bohong.

Betara Agni, Surya, Candra, Yama dan Bayu menjadi saksi tiga jagat, agar Pengeran tetap disembah oleh seluruh dunia dengan menetapi kebenaran, biarpun sampai mendatangkan ajal."

 

Tiga puluh tahun lebih $uharto bertahta di Nusantara, termasuk Pulau Bali yang memiliki seribu keindahan. Tapi Haji kita yang seorang ini tak pernah mampu rupanya meresapi amanat Surah al-'Ash-r ("wal-Asri") yang amat pendek itu. Raja Naga ini bukan nya menghayati dan merenungi keindahan Pulau Dewata, melainkan menikmati dan sibuk menukar keindahan kekayaan Pulau Dewata dengan valuta asing.

Orang Bali mempunyai sepatah kata "pancanreta" (lima kebohongan). Kamus Bahasa Bali, pada lema ini, menerangkan: "Boleh berbohong kepada musuh, menolong jiwa yang mau dianiaya, menyelamat kan harta benda sendiri, kepada anak anak demi kebaikan nya, kepada wanita yang tidak susila".

Perhatikan baik baik. Jangan berhenti dengan memamah biak harfiah nya yang tersurat: "boleh ...", tapi resapi lah "niyatingsun" yang tersirat dari bunyi kata kata itu. Dengan demikian niscaya lah anda tidak akan sampai pada kesimpulan yang dangkal dan oportunistis "berhak bohong", karena ada lima pasal kebohongan yang termasuk "white lies" yang "tidak kena hukuman".

 

Untuk memahami mula buka lahirnya butir butir pancanreta atau lima kebohongan itu, saya anjurkan agar $uharto dan Hardiyanti Rukmana tidak berhenti pada NS (1950), yang anda jiplak dengan pembengkokan semena mena itu. Bacalah keterangan R.Ng.Dr.Poerbatjaraka dalam Niticastra ("ca" dengan "c" cedille dan "a" bertanda pemanjang) yang diterbitkan nya tahun 1933 dengan salinan nya dalam Belanda (Bibliotheca Javanica 54 No.B 1483). Dengan begitu semoga anda tidak akan lagi berulah "main kayu" dalam menyikapi kata kata mutiara leluhur bangsa.

Seandainya saya tega mengikuti ulah main kayu anda, maka saya akan menjadikan kebohongan yang berbutir lima itu menjadi berbutir enam, pancanreta menjadi sadreta, yaitu dengan tambahan begini: juga "white lie" tapol berhak ketika dia di depan interogator rezim militer fasis!

 

Beberapa contoh main kayu B3J (semua kursif dari saya, HS)

B3J hal.14 dan 15 butir 35 kita baca: "Pangeran iku menangake manungsa senajan kaya ngapa"; "Tuhan itu memenangkan manusia bagaimanapun juga"; "The Lord will make man win in any situation".

Entah dari sumber mana butir ini dicurinya, tapi diangkat dalam B3J menjadi butir yang dangkal belaka. Sudah pasti butir ini tidak hendak mengajar perkara "menang" dan "kalah", tapi tentang urusan "wewenang' atau "kewenangan" dan "ketidak-wenangan" manusia. Ingat ajaran Kitab Suci! Bukan kah manusia itu citra atau 'wakil' Tuhan di bumi? Jadi "ayat" itu harus dibaca sebagai: Bagaimana pun juga Tuhan itu memberi wewenangNya kepada manusia.

B3J hal. 26 dan 27 butir 17, kita baca: "Lamun sira durung wikan kadangira pribadi, coba dulunen sira pribadi"; "Jikalau engkau belum menemukan "kadang" (saudara) pribadimu, cobalah melihat dirimu sendiri"; "If you have not yet appreciated your fellow man, try to look at yourself".

Jika contoh pertama di atas tentang kedangkalan B3J dalam pengetahuan kebahasaan (Jawa), contoh kedua ini tentang kedangkalan $uharto dalam hal "ngelmu kebatinan". Pertama kata "wikan". Ini bukan "menemukan", tapi "tahu akan" atau "sedar akan". Kedua kata "kadang". Dalam bahasa sehari hari memang benar, berarti "saudara". Tapi sebagai istilah dunia kebatinan (supaya tidak terlalu sok-tinggi: dunia ajaran moral Jawa), "kadang" ialah "alter ego", atau "Si Begja" menurut kamus "Kawruh Begja" Ki Ageng Suryamataram. Sehingga terjemahan Inggris yang "fellow man" selain dangkal juga menggelikan.

B3J hal. 44 dan 45 butir 33, kita baca: "Menang tanpa ngasorake"; "Menang tanpa merendahkan"; "Winning without humiliating".

Di sini pun $uharto tidak memperlihatkan dirinya sebagai seseorang yang bersentuhan dengan dunia batin sama sekali. Sekali lagi ia mendekati inti ajaran ini bukan sebagai "menang-kalah" dalam "peperangan batin" si penuntut kebenaran, tapi sebagai "menang-kalah" dalam peperangan fisik si penuntut kekuasaan. Bukan kemenangan karismatik, tapi kemenangan adigang-adigung-adiguna. Kemenangan karismatik tak ada hubungannya dengan masalah "unggul-asor".

 

Penutup: B3J duplikat buruk Nitisastra plus Sasanasunu

Di atas sudah dikemukakan, bahwa sekurang kurang nya 62 bait dari 126 bait Nitisastera (1950), telah disrobot masuk di dalam B3J yang mengandungi sebanyak 467 butir. Bait bait itu kebanyakan dipecah pecah, satu bait menjadi dua atau tiga butir. Misalnya bait ke-2 NS 1950 dipecah menjadi dua butir (76 dan 77) pada hal. 60; bait ke-9 NS diambil separoh yang atas, dan dipecah jadi dua butir (87 dan 88) hal. 64 dan 65. Dari kitab Sasanasunu yang 12 bab, hanya 2 bab saja yang tidak dipungut ke dalam B3J. Sehingga kesan pertama saya membaca B3J, tidak lain adalah versi buruk dari NS 1950, dan Sasanasunu, dengan sedikit tambahan butir butir yang dipunguti dari perbendaharaan tutur. Lalu untuk menggertak pembaca dideretkan lah di belakang, enam halaman "References" atau "Sumber" (hal.198-203). Tiga belas "Sumber" semuanya. Termasuk yang disebut nya "Suluk Selo" dan "Tri Dharma Pangeran Samber Nyawa", yang entah berbentuk apa itu. Dalam hubungan ini, Nitisastera 1950 dan Sasanasunu, justru "Sumber" utama nya, tidak disebut sebut sama sekali. Si pengarang ($uharto) dan si penyunting (Hardiyanti Rukmana) pikir, gertak Raja Naga yang mistis itu cukup rapih untuk menyembunyikan perbuatan korup mereka.

Sudah dikemukakan juga di atas, bahwa Nitisastra adalah buah budaya jaman Majapahit akhir. Jaman ketika kaum laki laki kerajaan besar ini telah ada di puncak kesombongan nya. Jaman ketika peranan sejarah perempuan, seperti Ken Dedes dan Ken Umang, dan bahkan Tribuwana Tunggadewi pengemban raja besar Hayamwuruk, telah ditimbun dengan sampah sampah kekuasaan laki laki. Tidak aneh jika justru Nitisastra menjadi bahan acuan B3J.

ABRI dan KORPRI yang tulang punggung, dan Dharma Wanita yang tulang rusuk. ABRI dan KORPRI yang "ing ngarsa sung tuladha", dan Dharma Wanita yang "tut wuri handayani".

Sebagai penutup saya kutip satu bait NS dan satu butir J3B tentang perempuan atau istri.

NS bait ke-16:

"Ketahuilah, bahwa di atas dunia ini ada tiga hal yang jalan nya tidak lurus, yaitu: wanita, akar dan sungai. Semua berbelok-belok jalan nya, tidak dapat diturutkan.

Jika sudah ada bunga kemuda (yi. teratai; HS) tumbuh di batu, barulah laku wanita bisa benar.

Pendek nya pesan ku: awas lah engkau jika bergaul dengan wanita, hai orang yang baik baik."

 

Dan ini lah dua butir pendek B3J yang mencerminkan keangkuhan laki laki:

"Kalau mengajar kepada istri yang sabar" (B3J 142-143: 32].

"Pada jaman kuna perang itu berebut harta, negara, dan memboyong putri, tapi jaman yang demikian itu hilang setelah mengetahui bahwa putri boyongan itu dapat melemahkan negara." [B3J 158-159: 19].

 

Itulah wajah kebatinan $uharto, sang Jendral Raja Naga, tampil melalui Butir Butir Budaya Jawa Sandyakalaning Majapahit.***[HABIS]