Di Sela Intaian

(catatan tapol g30s/sht-cia pulau buru)

nomor foto: 5937

 

 

Perjalanan Menuju "Pulau Harapan"

 

Meninggalkan Tangerang

 

 

Seluruh penghuni Kamp Tangerang baru saja dilepas dari isolasi berat. Dilepas bukan karena bisikan hati nurani penguasa. Tapi karena dua alasan, paling tidak. Pertama, ke mana muka akan disembunyikan dari tatapan mata hari, jika setiap hari ada sekitar sepuluh tapol mati kelaparan - seperti yang terjadi dalam tahun tahun 1967-68? Kedua, kesibukan penguasa menyusun skenario "Buru Pulau Harapan", yang ibarat gunting bermata dua. Mata yang satu berujung pada pembuangan dan pembunuhan tapol perlahan lahan jauh dari pusat kekuasaan, dan mata yang lain berujung pada pemanfaatan tenaga kerja yang mubazir. Demi menunjang "program pembangunan nasional" di kawasan timur Indonesia. Dalam dunia pewayangan, sama seperti keluarga Pandawa yang digelandang untuk dijadikan sebagai "bekakak" kesejahteraan kerajaan Astina.

Dari sudut ini maka apa yang disebut "Peristiwa Tangerang", dari terbunuhnya tapol Silitonga sampai tergulungnya PKI bawah tanah Slamet Wijaya, hanya satu atau dua adegan dari skenario panjang "Buru Pulau Harapan", yang sedang sibuk mereka rancang itu.

Hari-hari itu suasana dalam kamp juga berubah. Tidak ada kegiatan mengaji dan pengkajian Pancasila. Waktu lalu kuisi dengan menemui teman-teman yang pernah kukenal, yang dalam satu blok tentu saja, mendengarkan cerita pengalaman mereka, khususnya tentang proyek pertanian Kodam V Jaya yang dikerjakan Tapol Tangerang. Dalam pada itu ada sementara teman tertentu, barangkali sisa-sisa kader Slamet Wijaya yang lolos dari pembersihan, mengajak bicara tentang apa yang harus dilakukan selama di kapal, bagaimana mengatur tenaga menggendong teman-teman yang tua atau lumpuh dari sejak mendarat sampai ke unit dan sebagainya. Tidak kurang penting masalah me-"rehab" teman-teman yang lumpuh dan kurus kering, sebagai akibat isolasi berat beberapa bulan di Tangerang.

Teman-teman yang gemar merajin lain lagi kesibukan mereka. Mereka menawarkan jasa untuk membuat ransel dari bahan goni, karung bekas pupuk urea, atau kantung gandum. Entah dari mana mereka pada bisa mendapatkan bahan bahan itu, aku tak mengerti. Tentu saja dengan sekedar imbalan dari si peminta jasa. Misalnya, gula merah, tembakau, singkong rebus, sejumlah uang dari tiga ringgit sampai dua puluh lima rupiah. Pendeknya apa atau berapa saja. Ada lagi yang membuat label indah-indah, dengan "benang" warna-warni yang dilolosi dari berbagai gombalan. Ada lagi yang menganyam tas tas dari pintalan tali tali plastik, kemudian dijual dengan harga sepuluh sampai lima belas rupiah. Tidak usah heran jika kusebut perkara uang. Sudah sejak di Salemba kuketahui, tentang adanya peredaran uang di kalangan tapol yang sudah bertahun-tahun di penjara itu. Tapol "kaya" dan tapol "miskin" sesungguhnya sudah terbelah sejak masih di tempat tahanan operasional, yaitu sebelum mereka dipindah ke RTC RTC Salemba, Bukitduri atau Tangerang.

 

Seorang pemuda bernama Suripto, berasal Solo, anggota Cabang Lekra dan Pemuda Rakyat. Sesudah dimutasi ke Jakarta, ia aktif di Paduan Suara "Gembira" yang semasa dipimpin Subronto K. Atmodjo pernah sangat terkenal. Pagi itu ia menyodorkan kepadaku sebait syair untuk lirik lagu "Mars Ransel Goni" yang sedang disiapkan nya. Bukan saja untuk menyemangati teman-teman sependeritaannya yang hendak "diburukan", tapi juga untuk mengabadikan kejadian itu dalam sebuah lagu. Rupanya ia terpengaruh oleh kecenderungan pimpinan nya, Bung Bronto, yang selalu rajin berusaha mengabadikan kejadian-kejadian sejarah dalam lagu, khususnya pidato-pidato 17 Agustus Bung Karno setiap tahun. Lagu lagu "jenis sejarah" komposisi Bung Bronto itu, di antara, "Nasakom Bersatu", "Resopim" (Revolusi - Sosialisme - Pimpinan Nasional), "Sukarelawan".

Sebuah lagu berirama mars, enam baris sederhana, akhirnya jadi tersusun oleh Bung Ripto. Ia menulis seluruh notasinya, dan aku memoles kata-kata syairnya. "Sayang" sekali Bung Ripto sendiri tidak pernah ikut "diburukan", sehingga sejak itu sampai sekarang tak kutahu di mana dia berada ...

 

*

 

Jatah satu muk air bening panas dari penjara sudah dibagi-bagi. Sepotong singkong rebus, sisa besukan teman seriungan kemarin, juga sudah di tangan kami masing-masing. Terlalu pagi hari itu kami sarapan. Tergerak oleh suasana tak menentu yang semakin terasa memburu. "Ambil cepat tiap sempat!", memang menjadi semboyan kami setiap tapol. Juga dalam hal makan. Masuk mulut dan telan selagi sempat.

Memang tidak jarang terjadi, kami sudah duduk bersila "ngariung". Makanan jatah penjara ditambah besukan sudah dibagi-bagi, suap pertama sudah diangkat ... tiba-tiba, sebelum sendok masuk mulut, petugas sudah berdiri di depan pintu sel, dan berteriak menyerukan nama-nama. Itu berarti yang terpanggil harus segera berdiri, dan bersiap menghadap ke depan! Dan "menghadap ke depan" itu bisa berarti macam macam. Interogasi ulang, dan ini biasanya berangkai dengan caci maki dan siksaan; pindah sel, pindah blok, pindah kamp; atau dibon. Dan "dibon" ini bisa berakhir dengan hal yang paling buruk: "dimangkubumikan". Karena itu tidak ada tapol yang menunda-nunda waktu makan. Kecuali jika dia sedang terlalu sakit.

"Jatah makan sendiri saja, sebelum masuk perut, belum tentu itu milik kita!"

Begitu Siswondo berkata. Lain lagi Karta bin Deris, tapol muda yang tak pernah bermuram muka, bekas Pemuda Rakyat Pasar Minggu Jakarta.

"Ayo, mau apa sekarang? Sesumbar nya seusai makan. Mau perang kek, samber geledek kek ... pokonya gue udah makan nih!"

 

Pagi hari itu pun demikian.

Air belum diminum, dan singkong belum habis dimakan. Tiba-tiba di pintu gerbang blok sudah muncul seorang petugas.

"Semua siap!" Perintahnya. "Panggilan ke depan segera akan mulai!"

Memang. Dari arah lapangan apel pengeras suara segera terdengar bunyi dengung dan cuat cuit memekakkan. Kemudian bunyi kepala mikrofon diketuk ketuk: "satu dua tiga satu dua tiga percobaan percobaan ... satu ..."

Langit Tangerang terasa seperti sesak tiba-tiba. Pengeras suara, megafon, deram derum entah berapa puluh kendaraan bermotor. Belum lagi teriakan perintah para petugas dari sel ke sel, kata kata caci maki, bentakan dan jerit tapol yang kena pukul atau tendang.

Aku pun telah siap menunggu giliran. Sejak pindah dari Salemba ke Tangerang aku memang terus selalu siap. Bahkan pada waktu tidur pun kemeja dan celana panjang selalu kupakai. Sehingga kapan saja panggilan datang, aku tinggal menggulung tikar. Dan siap.

Nama nama tapol demi tapol, lengkap dengan bin atau bintinya, ditambah dengan nomor register dan nomor foto, diteriakkkan melalui megafon berturut-turut. Pada sekitar jam sepuluh, melihat ketinggian matahari, nama ku diserukan. Aku segera bergabung dalam barisan tapol yang berjalan sangat perlahan, satu demi satu, meliwati pagar para petugas. Suasana hiruk pikuk seperti keramaian pasar malam.

Di depan beberapa petugas di ujung sana, kami harus membuka barang bawaan kami masing-masing. Kecuali pakaian, sikat gigi dan sabun - bagi yang punya - tidak ada barang-barang lain boleh dibawa. Tikar, selimut, bantal dan kasur - aku heran ada sejumlah tapol yang punya bantal dan kasur! - alat makan dan minum juga tidak boleh dibawa. Petugas-petugas penggeledah melempar lemparkan barang-barang larangan itu ke pinggir lapangan apel.

Wasga, seorang teman tapol asal Indramayu, sembunyi-sembunyi berusaha menyelamatkan piring dan cangkir miliknya.

+ Buang! Perintah petugas dengan mata mengancam.

- Ini baru Pak! Kata Wasga. Kiriman keluarga saya. Baru kemarin ...

+ Goblok! Tinggal! Dan ditendangnya tangan Wasga. Piring dan cangkir di tangan nya melayang jatuh berkeping-keping.

+ Goblok! Di sana kamu semua nanti dibagi piring cangkir porselen bagus-bagus dari Cinkom. Kesukaanmu!" Suara petugas lain. "Juga kasur, bantal dan tikar. Kamu semua akan dikasih. Tinggal saja kasur dan tikar bodol-bodol begitu. Biar nanti dibakar para petugas ..."

Memang bukan main banyak nya petugas hari itu. Melihat seragam yang mereka pakai, terdiri dari berbagai kesatuan: Hansip, Korpri penjara dan kejaksaan, dan terutama Angkatan Darat tentu saja.

Selesai penggeledahan satu demi satu kami dibariskan ke tempat lain. Di sana seorang petugas meneriakkan nama kami, yang harus kami jawab dengan teriakan tak kalah lantang: nomor register dan nomor foto. Sesudah tunduk menghormat, petugas lain memberi kami anugerah: kemeja lengan pendek dan celana panjang keki berwarna coklat-hijau, dan topi bambu bikinan Tangerang. Topi bambu. Aku lalu ingat pelajaran sekolah, ketika masih di kelas I SD. Pak Bei Harjautama, dalam pelajaran "ilmu bumi", mengatakan, sejak jaman Belanda dulu Tangerang terkenal dengan kerajinan anyaman bambu.

"Nomor bajumu (sekian)." Kata petugas itu sambil menulis-nulis di lembaran kertas lebar. "Hafalkan itu. Jangan sampai lupa!" Perintahnya.

"Awas kalau lupa!" Timpal yang lain.

Aduh! Batinku. Tambah sederet angka-angka lagi harus kuhafal. Dengan otak yang setiap hari ditunjang dengan sepuluh suap nasi apak dan secangkir air bening! Harus menghafal begitu banyak deretan angka angka?

Kami lalu digiring ke penjuru lain di lapangan itu. Bergabung dengan banyak teman yang sudah lebih dulu menunggu di sana. Di sini kami harus telanjang. (Pemandangan yang aneh juga! Begitu banyak petugas, tapi tidak ada seorang pun petugas perempuan? Negri ini memang negri laki laki serdadu saja rupanya!). Kami semua mengganti pakaian sendiri yang melekat di badan, dengan pakaian jatah pembagian dari "pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Bapak Jendral Suharto yang baik hati". Kata-kata itu entah sudah berapa puluh kali pagi itu kami dengar dalam setiap pidato, setiap kali kami pindah dari barisan satu ke barisan lain.

Benar. Di dada kemejaku tercetak angka berwarna hitam, besar: 348. Demikian juga di pantat celana, tercetak angka yang sama. Ingatanku melayang ke abatoar di pinggir Kali Gajahwong di Yogya. Sapi sapi yang digiring ke pembantaian, semua dicap dengan angka angka dari logam panas yang dibakar, pada kedua sisi pinggul mereka yang gembung itu. Andai kata sapi sapi itu bercelana dan berbaju, tentu saja mereka tak perlu menderita merasai panasnya logam bakar. Ah, kami para tapol masih beruntung ketimbang sapi. Benar. Pak Harto dan Orde Baru nya memang baik hati. Terimakasih, ya Pak!

 

Tanpa diberi kesempatan beristirahat, jangan sebut makan dan minum, kami harus menunggu sampai semua urusan rampung.

Jarum pendek jam tembok tua di atas pintu gerbang penjara menunjuk angka dua. Kami diperintahkan meninggalkan lapangan, berbaris menuju truk truk terbuka, yang sudah menunggu kami, berderet deret di halaman dan jalan depan penjara. Setiap truk diisi satu kelompok lima puluh orang, yang berdasar atas urutan nomor baju. Kelompok dan urutan nomor ini diharuskan terus berlaku, baik nanti di kapal maupun suatu hari jika sudah mendarat, dan masuk ke barak barak di unit yang dituju.

Hampir semua tapol menggendong ransel goni. Satu dua saja tapol yang kaya. Mereka menggendong ransel dari kantung urea atau kantung terigu. Ada yang tipis gendongan mereka, tapi banyak juga yang bukan main besar - entah apa saja isinya! Barangkali sekedar gombalan gombalan, seperti layaknya jika orang tua sudah "nyusuh". (Kata orang Jawa, orang tua yang sudah mulai suka "membuat sarang" demikian, pertanda ia sudah pasrah pada akhir hidup nya). Pada umumnya hanya menggendong satu ransel, atau menjinjing satu bungkusan kecil, tapi tidak sedikit juga yang merepot diri sendiri dengan terlalu banyak bawaan. Seperti orang mau berangkat transmigrasi.

Aku sudah di atas truk. Sepatah keharusan sudah tertunai. Ketegangan mulai sedikit mengendur. Mataku punya kesempatan melihat kawan-kawan di sekitar. Aneh, pikirku. Sesudah lima tahun lebih di penjara, masih ada juga yang tidak canggung bersepatu dan berarloji tangan. Lagi pula, pikirku lagi, bagaimana mereka bisa menyembunyikan barang-barang itu dari mata petugas? Sedang aku? Alat pemotong kuku pun aku tidak bisa menyelamatkan!

Aku pun masih bersepatu dan berarloji, ketika dipindah dari tempat penahahan KKO-AL di Pasar Minggu dan masuk ke RTC Salemba. Jadi selama masih di tahanan operasional "Ikan Paus" belum semua hak ku dirampas sama sekali.

"Arloji dan sepatu tinggal saja sini!" Perintah seorang Peltu, yang menerima aku di Salemba hari itu. "Kami simpan semua di gudang. Besok kalau sudah bebas boleh diambil." Tambahnya, tanpa menyebut kapan "besok" itu.

Aku turuti perintah Peltu itu. Kenapa tidak? Jangan lagi sepatu dan arloji, bahkan pemotong kuku terlarang dimiliki tapol. Tapi aku tidak ada nafsu untuk bertanya. Ah, apa guna pertanyaan seorang daif di depan kekuasaan?

Ya. Aku cuma bisa berdialog dengan diri sendiri.

Sesungguhnya apa salahnya tapol, bahkan takrim pun, bersepatu dan berarloji. Aku lantas ingat salah satu foto ilustrasi Di Bawah Bendera Revolusi Bung Karno. Bung Karno sedang menaiki tangga kapal, yang hendak membawanya ke pulau pembuangan, Endeh. Gagah dia. Berpeci hitam, bercelana panjang putih, kemeja putih lengan panjang, berdasi bersepatu hitam mengkilap. Sudah pasti dia berarloji. Dan di belakang dia, para pengiring terutama Ibu Inggit. Istrinya. Jadi, ketika itu, bahkan membawa istri pun boleh. Tapi Bung Karno tapol tahun 30-an, dan kami tapol tahun 70-an. Bung Karno tapol pemerintah kolonial Hindia Belanda yang sipil, sedang kami tapol pemerintah merdeka Republik Indonesia yang militer. Bayangkanlah, andai kata ketika itu Bung Karno dan Ibu Inggit juga diberi pakaian keki bernomor besar-besar di dada dan di pantat, dan menggendong ransel goni!

Berangan-angan begitu aku menarik napas dalam dalam. Mudah-mudahan, betapa juga pun, rombongan ini - juga seperti Bung Karno dan kawan kawan - berangkat menyongsong hari depan mereka dengan kepala tegak dan dada membusung ...

 

Hari masih panjang. Kisah belum lagi habis. Justru sedang hendak dimulai. Menjadi tapol yang dibuang berarti menjadi orang yang telah kehilangan segala-galanya. Sampai "nama" atau "jênêng" pun hilang sudah. Bagi tapol, dalam keadaan yang seperti itu, kesempatan untuk berusaha memperpanjang umur pun telah menjadi semakin sempit. Kesempatan itu, tidak bisa lain, harus dicuri untuk mendapatkannya. Pada teman-teman tapol muda dari Tangerang, yang sekarang di sekitar ku inilah, aku perlu belajar banyak. Belajar mencuri pertama-tama. Membèbèd, istilah mereka. Membebed hak untuk hidup. Kepandaian mereka mencuri hasil produksi pertanian itu, yang notabene hasil keringat kerja sendiri, tak lain adalah pernyataan usaha pembebedan kesempatan agar tetap survive.

 

Truk truk yang mengangkut kami bercat hijau tua. Truk truk Angkatan Darat, yang kelihatan masih serba baru. Di samping sopir, duduk seorang pengawal berpangkat kopral. Memegang karaben, dengan bayonet terpasang. Dua orang CPM berpestol di pinggang, di atas sepeda motor, mengapit setiap truk. Setiap truk diisi dengan 50 tapol, dihitung berurut sesuai dengan nomor baju. Truk yang kunaiki diisi tapol dari yang bernomor baju 401 sampai dengan 450. Tidak disediakan tempat duduk di atas truk itu. Semuanya berdiri, saling berpegang tubuh sesama kawan. Ada tiga yang lumpuh, akibat masa isolasi di Tangerang, dan harus selalu digendong, yaitu: Pak Ruslan (Purwokerto), Pak Aminta Kemo (Indramayu), dan Mang Jumsa bin Ebed (Jakarta).

Heru Santoso, tapol muda bekas pemimpin CGMI (Corps Gerakan Mahasiswa Indonesia) Surabaya, bernomor baju 436. Dua angka di bawah nomor ku. Satu angka langsung di bawah ku Syamsudin Gobel, Pemuda Rakyat, anggota regu pengawal Wakil Ketua II CCPKI Njoto. Ia baru khitan pada suatu hari, sesudah lama menjadi tapol dan menghuni Unit XV Indrapura Buru. Entah bagaimana ceritanya, Komandan Unit menjadi tahu bahwa ia tidak khitan, padahal tercatat sebagai Islam. Mungkin karena kulit nya yang kuning dan matanya yang agak sipit, seperti Tionghwa, sehingga dicurigai keislamannya. Atau karena dilapurkan oleh sesama "kawan" tapol. Sehingga tubuhnya "digeledah".

Nomor 441, Slamet Karyadi, anggota barisan keamanan kantor CCPKI di Jalan Kramat Raya 81 Jakarta. Julukan "Slamet Kondor" dari kami, diterimanya dengan lapang dada. "Kondor" ialah penyakit burut atau hernia. Karena penyakit nya itu, bola kemaluan nya membesar sebesar cengkir, akibat siksaan yang dialami selama masa pemeriksaan di Jakarta.

 

+ Pak Her! Kata Heru sambil menghadap ke belakang, bertelekan pada kepala truk. Aku tentang matanya dengan dada berdebar. Aku takut dia mau mengajak beramai-ramai melakukan "aksi perlawanan".

+ Begitu pintu gerbang kita liwati, kita menyanyi bersama.

- Lagu apa saja?

+ Apa saja. Nanti akan berantai dari truk paling depan sampai paling belakang.

 

Iring iringan truk mulai bergerak. Satu demi satu meninggal kan halaman dalam RTC Tangerang. Maka bergemalah paduan suara dari atas belasan truk. Syair demi syair membahana, "Bangun lah kaum", maksudnya "Internasionale", Halo Halo Bandung, Sorak Sorak Bergembira, Darah Rakyat, Dua Belas November, dan berbagai lagu revolusioner lainnya. Udara siang Jakarta seperti bertambah panas.

Siang itu diberangkatkan 850 tapol. Truk yang kunaiki, kira-kira berada di tengah tengah konvoi. Dalam konvoi yang amat panjang, di tengah derum deram bunyi berbagai kendaraan bermotor yang melaju sangat cepat, hingar bingar suara paduan suara itu sebenarnya hanya menambah bising saja. Lebih tertuju kepada diri para penyanyi sendiri ketimbang pada siapa pun. Lagi pula sepanjang jalan yang kami lalui sunyi lengang belaka. Lalu lintas umum ditutup. Orang lalu lalang dilarang. Masyarakat dilarang menampak kan diri di sepanjang jalan yang diliwati konvoi. Yang menampak di pinggir jalan, hanya deretan serdadu-serdadu Angkatan Darat dalam siaga tempur, yang berdiri membelakangi jalan pada jarak sekitar setiap 50 meter.

Paduan suara dari atas barisan truk yang melaju terus membahana. Perhatian ku lebih pada jalan raya sepanjang Tangerang - Jakarta yang belum pernah kukenali. Tak ada nafsu ku untuk ikut menyanyi. Entah mengapa semua lagu-lagu yang perkasa itu terdengar hambar belaka. Lagu "Bangun lah kaum" itu misalnya. Padahal sekitar dua puluh tahun lalu aku pernah dibikin nya menitik kan air mata. Ketika itu aku, bersama rombongan siswa-siswa Unra (Universitas Rakyat) Yogyakarta, berziarah ke makam Ngalihan Madiun. Di makam yang terletak di pojok sawah, di sebuah desa kecil ini, terkubur jasad tokoh-tokoh FDR (Front Demokrasi Rakyat): Amir Sjarifuddin, Maruto Darusman, Jokosuyono, Oei Gee Hwat, Suripno, dan seterusnya sampai sebelas orang. Berdiri di depan kubur mereka itu kami, dengan khidmat, bersama sama menyanyikan "Internasionale".

Angan-angan ku melayang ke masa kanak kanak.

Suatu hari di tahun '48 koran koran di ibukota RI saat itu, Yogyakarta, memuat foto sebelas tokoh FDR beberapa detik sebelum mereka dieksekusi. Tidak begitu terang foto itu. Tapi wajah dan sosok Mr. Amir Sjarifuddin, yang sangat akrab bagi angan-angan ku, dengan mudah kukenali. Kacamata, rambut ikal, tapi tanpa huncue di foto itu. Ia, seperti sepuluh yang lain, berdiri tegak menatap ke depan. Kedua tangan mereka di belakang - tentunya diikat. Di latar belakang foto, sebuah lubang kubur bersama yang panjang, sepanjang deretan mereka berdiri. Berita yang menyertai foto menyebut, antara lain, Bung Amir - begitu ia saat itu dikenal - minta waktu untuk menyanyikan dua lagu: Indonesia Raya dan Internasionale. Dan menyanyilah langit Ngalihan, yang masih basah dengan embun pagi buta itu, mengantar sebelas tokoh Komunis Indonesia, mengakhiri perjalanan peranan sejarah mereka.

 

Paduan suara masih tetap membahana. Serdadu-serdadu pengawal seperti cuek saja. Pasti bukan karena belum pernah dengar, atau lupa pada lagu-lagu itu. Mereka tentu ingat, sedang lagu "Genjer Genjer" dan "Blanja Wurung" pun menjadi larangan Negara. Apa lagi lagu lagu "merah", seperti yang dinyanyikan ratusan tapol dengan penuh semangat siang hari itu. Barangkali komandan pengawal konvoi ini berpikir sama, seperti komandan regu tembak yang menghabisi nyawa sebelas tokoh FDR tiga puluh tahun yang lalu. Biarlah mereka menyanyi, sebentar lagi toh hilang sudah dari pemandangan ...

 

 

Di Sela Intaian

(catatan tapol g30s/sht-cia pulau buru)

nomor foto : 5937

 

Perjalanan Menuju "Pulau Harapan"

 

Di atas kapal "Tokala"

 

 

Tikungan bypass Yos Sudarso telah kami lalui. Dan gema paduan suara itu padam sudah. Wajah wajah tiba terasa redup letih. Semangat yang menggelora dalam lagu lagu "merah" telah hilang bersama angin darat yang menghembusnya ke laut lepas.

Hari sekitar pukul empat sore. Ada beberapa orang kuli kuli pelabuhan berdiri di ujung jalan. Mereka memandangi kami dengan wajah kosong.

Kami semua mendapat perintah turun. Melompat dari pantat truk, dan langsung berjongkok dalam barisan. Berbanjar lima lima ke belakang, tentu saja tanpa mengabaikan urutan nomor baju. Rombongan demi rombongan di atas setiap truk, menjadi barisan demi barisan di darat. Kepala tunduk ke tanah, dan dua tangan terkunci di atas kuduk. Tak ada sepatah kata dari mulut tapol terdengar. Sebuah suasana antiklimaks dari semangat yang membahana di sepanjang jalan raya Tangerang - Tanjung Priok. Hanya pada saat membuat gerakan melompat dari truk tadi aku menangkap sekilas pemandangan sekitar. Serdadu serdadu Angkatan Darat, Angkatan Laut dan KKO-AL tampak tersebar di mana mana. Barangkali jumlah mereka tak kurang besar dari jumlah kami: "Tentara Lubang Buaya" yang tidak berbaret, tapi bertopi bambu.

Barisan demi barisan kami harus "berjalan bèbèk", mengesot maju beringsut-ingsut. Kali ini tak lagi berbanjar lima lima, tapi berurut satu satu. Seperti telur katak, mereka bilang. Di satu titik seorang tentara menghitung kami. Caranya dengan memukul kan pentungan karet ke kepala masing masing tapol yang liwat di depan nya. Dan setiap tapol yang terkena pukulan harus menjawab dengan meneriakkan nomor baju masing masing.

Dari titik ini kami harus berjalan terus, tetap dengan "jalan bèbèk", menuju ambang pintu dermaga. Baru di sana lah kami boleh mengubah diri, dari "manusia bebek" menjadi "manusia binatang" yang berjalan tegak. Serdadu serdadu di sebelah menyebelah pintu dermaga mengamati nomor baju kami, dan mencocokkan dengan catatan pada lembar lembar kertas di tangan mereka. Tetap dalam rombongan ber-50 masing masing, kami menuju ke gerombolan serdadu lain. Di sana kami masing masing menerima hadiah negara: omprèng, atau sementara teman menyebut nya "mesting", muk dan sendok bebek. Semua serba aluminium. Bukan "porselen Cina", seperti dijanjikan waktu kami masih di Tangerang. Tapi, bagaimana pun juga, siang hari itu kami banyak menerima hadiah dari negara. Karena, kata mereka, "pemerintah Orde Baru di bawah Jendral Suharto, pemerintah yang ber Ketuhanan Yang Maha Esa dan ber peri kemanusiaan. Tidak seperti PKI. Tidak kenal Tuhan dan biadab. Bapak Suharto masih menyayangi kamu. Kalau tidak kamu tentu sudah dibunuh. Karena itu kamu hendak dibina agar menjadi warga negara yang baik. Berterimakasih lah pada Bapak Jendral Suharto ...!"

 

Sebuah kapal tua seperti raksasa hitam menghalangi pandangan ku ke depan. "Tokala", terbaca di lambung kapal itu. Itu lah kapal yang akan membawa kami ke alam "kemerdekaan". Sebuah kapal milik Pelni, yang sengaja dicarter Kejaksaan Agung untuk mengangkut kami.

"Sukur lah!" Slamet Kondor melepas kelegaan bisik keluhnya.

"Kenapa sukur?" Tanyaku. Juga berbisik.

"Tidak harus naik kapal ADRI. Kalau ADRI, bisa-bisa masuk laut kita semua."

Desas desus mengatakan ADRI XII konon tak pernah sempat kembali ke Jakarta. Ia tenggelam dalam perjalanan pulang, setelah mengangkut rombongan tapol ke Buru.

Kami segera digiring naik ke kapal.

Hamparan tikar dan deretan bantal sudah menunggu kami. Rapat berjejer di setiap palka. Seorang tentara berjaga di setiap pintu palka. Masing masing kami mendapat satu kapling. Tentu saja berdasar nomor baju. Seorang kepala palka dan wakilnya ditunjuk di antara kami, atas perintah tentara tapi juga sesuai dengan kebutuhan kami. Tugas mereka membantu penguasa dalam mengapel kami tiga kali sehari, dan menyampaikan perintah perintah mereka untuk kami.

Pukul enam senja "Tokala" mengangkat jangkar. Kami bertolak. Ada sementara teman yang tersedu sedan. Tapi tidak ada yang menyanyikan lagu lagu revolusioner. Semuanya diam. Mungkin lelah, mungkin juga terpukau pada nasib sendiri. Aku ingin melihat teluk Jakarta, yang konon indah menurut Kroncong "Bandar Jakarta". Tapi yang menampak hanya kelap kelip lampunya yang sunyi. Kami mendapat perintah tetap tinggal di kapling masing masing.

Satu jam kemudian jatah makan minum dibagi. Satu ompreng padat nasi putih, satu telur, sepotong daging, dan satu muk teh manis. Sesudah sekian tahun lamanya, dalam mimpi pun tak berani tapol mengharap bertemu makan minum seperti itu, ini sungguh pesta besar. "Kaya kere nemoni malem", kata pepatah Jawa. Seperti si miskin diundang kenduri. Maka dengan ekstra lahap kami segera menyantap. Apa lagi sudah sepanjang hari penuh perut kami memang tidak kemasukan apa apa.

Sementara itu kepala palka meneruskan butir butir pengumuman dari "atas": apel malam akan diambil pada jam delapan, dan sesudah itu kami boleh anjang sana ke palka palka lain, boleh bicara tentang apa saja, boleh membaca bacaan apa yang ada (sic!). Pada jam sepuluh semua sudah harus kembali ke kapling masing masing dan tidur.

Tapi kami terlalu lelah untuk semua kebolehan itu. Juga untuk melek sampai pukul sepuluh. Kami semua berlumba tidur awal, segera sesudah apel. Masing masing membawa kesan sendiri di buaian laut yang berguncang guncang.

Malam pertama di atas laut ...(bersambung)