Hersri Setiawan:

 

 

Di Sela Intaian

(catatan tapol g30s/sht-cia pulau buru)

nomor foto: 5937

 

1

 

Perjalanan Menuju "Pulau Harapan"

 

Persiapan

 

 

Kamp Salemba.

Beberapa bulan sebelum Agustus 1971.

Komandan Kamp, Lettu CPM Mardjuki, memerintahkan kami agar mendalami Pancasila. Bukan sekedar menghafal segala bahan yang diberikan dari atas, tapi kepada kami bahkan diharapkan agar menghasilkan satu konsepsi segar tentang Pancasila. Konsepsi yang tidak berbau Tubapi Jubir Manipol-UsdekRuslan Abdulgani, tidak juga yang dibayangi pikiran-pikiran Muhammad Yamin dan Bung Karno.

Di semua blok di penjara Salemba, yaitu dari Blok A sampai Blok R dan Blok RS (Rumah Sakit), tapol dikelompokkan dalam grup-grup belajar dan diskusi. Pengaturan kegiatannya diatur menurut cara-cara seperti dalam penyelenggaraan sekolah-sekolah kader organisasi di masa lalu. Jadi mulai saat itu kegiatan tapol sehari-hari bertambah: mendalami Pancasila! Kegiatan rutin lainnya ialah: senam pagi di masing-masing blok; korve pembersihan blok , seperti menyapu, mengosek wc dan kamar mandi; menunggu pembagian jatah air minum tiga kali satu hari; menunggu pembagian jatah makan siang dan sore; bagi yang tercatat beragama Islam salat lima kali sehari semalam, dan belajar mengaji dan membaca Al Kuran; satu minggu satu kali kebaktian bagi yang tercatat beragama Katolik dan Kristen; sesekali kebaktian bagi yang tercatat beragama Hindu-Buda. Semuanya itu diseling dengan acara yang menggembirakan sekaligus menegangkan, yaitu menunggu besukan keluarga yang terjadi tiga kali dalam setiap minggu. Terutama bagi tapol yang menerima besukan, dari yang satu minggu tiga kali, dua kali, satu kali ..., tak menentu, dan bahkan bagi yang tak pernah menerimanya sekali pun.

 

Entah dari sumber mana perintah itu datang. Jika pada suatu hari (dan "suatu hari" ini sering terjadinya) terdengar kabar Mayor Saniganja, Komandan Kamp Tangerang, datang ke penjara Salemba, kabar itu segera tersebar ke seluruh penjuru blok. Dari mulut ke mulut berbisik sangat cepat, ibarat desis naga siluman dari dunia persilatan. Dan dengan rasa takut menyumbat kerongkongan, semua grup diskusi dan belajar Pancasila segera membubarkan diri. Masing-masing berpura-pura sama sendiri. Terjadilah berbagai macam tingkah dan ulah yang aneh-aneh. Ada yang segera membuka Al Kuran dan mengaji, ada yang membalik-balik Al Kitab, dan ada yang meneruskan membuat kerajinan tangan masing-masing. Tas anyaman pilinan tali plastik, dari kantung-kantung plastik besukan, menyulam label dengan "benang" warna-warni, membuat pipa tempurung kelapa, dan macam-macam lainnya lagi. Tapi ada juga yang berbaring melihat langit-langit penjara, menganyam angan-angan sendiri.

Desis suara naga siluman itu tidak hanya memberitakan tentang datangnya sang Dan Kamp Tangerang Saniganja, tapi juga berisi peringatan dan perintah: segera membubarkan diri dari kelompok belajar apa pun! Dan Kamp Salemba, Lettu Mardjuki, tak mau bertanggungjawab, jika Saniganja sampai melihat adanya kegiatan seperti itu. Apalagi jika sampai kedapatan ada pensil dan kertas catatan! Tapol yang bersangkutan harus mempertanggungjawabkannya sendiri.

Aneh. Aku sesungguhnya tidak mengerti. Bagaimana ada satu kapal dengan dua nakoda. Mardjuki memerintahkan begini, tapi Saniganja begitu. Tapi aku tidak merasa perlu untuk mencoba mengerti. Membuang energi yang sia-sia. Tapi ada sementara sesama tapol yang berhobi menjadi pengamat politik, dengan bermodal model teori di masa Nasakom berjaya. Model teori dua aspek. Aspek pro-Rakyat versus aspek anti-Rakyat. Saniganja ditaruh di aspek yang anti-Rakyat, dan Mardjuki didudukkan di aspek yang pro-Rakyat. Gunanya? Tidak satu orang pun dari sesama tapol politikus dan teoritikus itu bersedia menerangkannya kepadaku.

 

***

 

 

Beberapa minggu menjelang bulan Agustus 1971.

Berita pembebasan dilancarkan. Konon sumber pertama berita itu sangat handal, karena tak lain Dan Kamp itu sendiri: Lettu (CPM) Mardjuki. Hari-hari menyongsong Hari Proklamasi 17 Agustus menjadi terasa luar biasa istimewa. Sibuk dan penuh teka-teki. Tapol-tapol tertentu, boleh dibilang umumnya yang tergolong masih muda, dipanggil "ke depan". Ke kantor RTC, Rumah Tahanan Chusus. Interogasi ulang, pemeriksaan darah, pencacaran, dan pemotretan dari segala sisi : depan belakang kiri dan kanan, kecuali dari atas dan bawah tidak! Kepada setiap kami, sehabis difoto, diberitahu nomor foto masing-masing. Aku termasuk di antara mereka yang "dipanggil ke depan".

+ Berapa nomor foto kamu? Tanya seorang yang tampaknya paling kuasa. Di ruangan itu, selain tukang foto, ada beberapa tentara jaga.

Aku menjawab dengan menyebut sederetan enam angka-angka.

+ Ya! Awas, jangan lupa! Serunya memperingatkan.

Aku lalu ingat ketika masih di SMP. Tahun berapa persisnya, tak ingat lagi. Tapi suasana habis perang dunia belum hilang. Film itu, kalau tidak salah, berjudul "Achter de wolken". Di balik awan. Diputar di gedung bioskop "Indra", di depan pasar besar Yogya: Beringharjo. Kami sesekolah, rombongan demi rombongan, dibawa masing-masing guru kelas menonton film itu. Salah satu adegan yang tak pernah hilang dari ingatanku, yaitu ketika para tapol dikumpulkan di lapangan kamp konsentrasi Nazi. Semua berpakaian seragam lorek, seperti kain selimut. Seorang demi seorang dipanggil dalam deretan angka-angka. Bukan nama-nama. Nama sudah tidak ada lagi bagi tapol. Karena nama hanya milik manusia. Kata Jawa untuk "nama" pun "jeneng". Dan "jeneng" ialah "subjek". Tapol bukanlah subjek!

Semakin dekat ke "hari pembebasan", 17 Agustus 1971, desas-desus pembebasan mulai disangsikan sementara orang. Alasan mereka sederhana saja. Yang dipanggil ke depan orang-orang yang berumur rata-rata di bawah 40 tahun dan berbadan sehat. Mungkinkah mereka akan dibebaskan? Sedangkan yang tua-tua yang berpenyakitan dibiarkan tetap meringkuk di sel? Aku sendiri yakin. Ini persiapan gelombang ketiga pemberangkatan ke Buru. Alasanku juga sederhana. Map kertas-kertas proses verbalku, kulihat ketika aku diinterogasi ulang, di sudut kanan atas tertulis mula-mula huruf "C". Huruf ini disilang goresan spidol merah, dan di bawahnya ditulis: "B2", dan di bawah kode ini ditulis kata-kata: "PKI Malam".

Jadi aku PKI Malam? Pikirku. Masa PKI Malam dipanggil ke depan, disuruh cacar dan periksa darah, disuruh menghafal nomor foto ... untuk dibebaskan?

 

Sementara itu ada lagi kejadian menarik, yang tidak mendukung desas-desus pembebasan. Berpuluh-puluh tapol dari penjara Tangerang dipindah ke RTC Salemba. Hampir semua mereka masih muda-muda, di bawah tiga puluh tahun. Mereka semua dimasukkan ke Blok D dan diisolasi berat. Berita yang tersebar, konon mereka terlibat dalam kasus terbunuhnya seorang tapol bernama Silitonga, yang dikenal sebagai tapol cecunguk.

Mereka dipindah ke Salemba konon untuk pemeriksaan dan pengusutan. Siapa yang bertanggung jawab akan diajukan ke pengadilan. Pengadilan seperti apa itu kiranya nanti? Tapol yang sudah bertahun-tahun ditahan tanpa proses, akan diajukan ke pengadilan untuk kasus pembunuhan sesama tapol?

Barangkali bukan pengusutan, tapi peng-kusutan lah, yang hendak dicapai penguasa. Dan memang! Berita pembunuhan terhadap Silitonga itu bersamaan dengan berita lain yang lebih hebat. Yaitu terbongkarnya jaringan organisasi PKI di Kamp Tangerang. Di samping puluhan tapol muda yang dipindahkan ke Salemba, ada dua tokoh pimpinan mereka: Slamet Wijaya dan Sts Sp. Desas-desus mengatakan, juga mereka berdua ini akan diajukan ke pengadilan.

Menyebarkan ke tengah masyarakat kata-kata "pengacau" atau "mengacau", adalah salah satu bentuk cara mengacau suasana. Dan mengacau suasana memang merupakan bagian dari pekerjaan intelijen.

Barangkali awal 1971 ketika itu. Di dalam kamp sudah disebar desas-desus akan adanya pembebasan tapol pada Hari Proklamasi, dan di luar kamp masyarakat dipaksa ramai-ramai "pesta demokrasi". Hari terakhir kampanye Pemilu untuk PDI. Tanggal berapa aku tak tahu. Karena selama di dalam kamp mengingat-ingat tanggal bagiku, termasuk membuang energi yang tanpa guna saja. Tapi dari lapangan sepakbola di luar kamp, sejak hari masih pagi, suara pengeras suara terdengar keras berseru-seru. Terus-menerus. Guntur Sukarnoputra akan berpidato. Pukul empat sebentar nanti.

Komandan Kamp Lettu Mardjuki tak kalah tangkas. Pagi itu juga para Kablok (Kepala Blok) dipanggil ke depan. Tak lama sesudah pelajaran agama Islam selesai, tiap hari biasanya sekitar jam 10-11 siang, para Kablok kembali ke blok masing-masing, dengan membawa pengumuman. Pertandingan antarblok bola voli dan bola tangan akan diselenggarakan sore hari itu. Dimulai sekitar jam 3 siang, dan diakhiri menjelang jam 6 petang. Yaitu sebelum datang korve pembagian air minum dan beduk salat magrib berbunyi. Semua tapol yang tidak ikut bermain diwajibkan keluar ke lapangan untuk menonton, menjagoi para pemain dari blok masing-masing. Bahkan tapol-tapol yang masih dalam isolasi juga tak terkecuali dari perintah "korve tepuk" dan "korve teriak" itu.

pertandingan di mana-mana

satu harus menang

dan yang lain harus kalah

 

Itu sepenggal dari baris-baris sajak Ho Chi Minh, entah berjudul apa, yang pernah kubaca nun di waktu silam.

Begitulah kami. Asal main. Yang satu harus menang dan yang lain harus kalah. Yang menang itu tentu saja Lettu Mardjuki, dan yang kalah itu kami semua tapol. Lapangan apel penjara Salemba sore itu memang penuh sorak sorai dan tepuk tangan. Tapi sebenarnya bukan ulah raga yang wajib kami lakukan dan saksikan itu. Melainkan ulah operasi intelijen Komandan Kamp. Agar suara Guntur yang berkampanye di luar kamp tidak tertangkap oleh pendengar tapol. Walaupun begitu banyak tapol yang terkecoh ulah intel ini, dan dengan mudah membuat tafsir sendiri: "Hari pembebasan sudah dekat. Kita sudah boleh berulah raga. Bahkan blok-blok isolasi juga sudah dibuka!" Mereka itu tapol-tapol yang, oleh berbagai alasan yang berbeda-beda, mempunyai ikatan terlalu kuat dengan masa lalu. Sehingga tidak sedar terhadap masa sekarang yang dijalani, apa lagi melihat ke masa depan yang sedang menunggu.

 

 

1 Agustus 1971.

Rombong demi rombong, truk demi truk, tapol mulai dipindahi. Yang dari Salemba ke Tangerang, dan sebaliknya yang dari Tangerang ke Salemba. Karena skenarionya berkembang begitu, maka tafsirnya pun mengikuti. Semuanya itu tetap dalam rangka pembebasan, dan pembebasan itu dilakukan dari RTC Tangerang. Impian yang semakin menjadi-jadi di kalangan banyak tapol itu tampaknya diketahui benar oleh Komandan Kamp. Pada hari-hari itu ketenangan di dalam kamp benar-benar dikacaunya. Berapa kali dalam satu hari terjadi panggilan apel di setiap blok. Beberapa tapol dipindah dari blok satu ke blok lain, beberapa tapol dipanggil ke depan untuk dipotret, dan beberapa lainnya lagi diperintahkan untuk mengemasi barang-barang miliknya, segera lari ke lapangan apel dan berbaris keluar menuju ke truk-truk yang sudah menunggu berderam-derum.

Sepanjang hari itu suara Lettu Mardjuki menghardik, dan tamparan tangannya, banyak terdengar.

"Goblok! Tolol! Kamu sudah krasan di sini? Kamu tidak mau bebas? Selama-lamanya mau di sel? Dasar babi! Kerbau! ..." Dan berbagai macam lagi kata-kata caci maki seorang kuasa atas tawanan-tawanan yang tak berdaya.

 

Giliranku tiba pada tanggal 3 Agustus.

Beberapa kawan merangkul-rangkul aku dengan senyum berhamburan. Salah seorang di antara mereka itu Mas Pracoyo, pegawai tinggi Departemen Perhubungan Laut. Sesudah peristiwa G30S terjadi, di tengah tarik menarik antara kekuatan pro dan kontra Sukarno, ia menjadi salah seorang pimpinan "Barisan Sukarno" (Basuka). "Basuka" ini dibentuk pada akhir 1965, dimaksud untuk mendukung Presiden Sukarno, sesudah kekuatan massa PKI dan PNI (Ali-Surakhman) pendukungnya lumpuh. Pimpinan tertinggi barisan yang setengah resmi di tangan Letjen Amir Mahmud.

"Wah dik! Ternyata adik dapat giliran lebih dulu ..." Impian kebebasan memancar-mancar dari sepasang matanya yang penuh gairah.

"Selamat dik!" Kata Pak Sudadi.

Pak Sudadi kawanku satu sel dan pasanganku bermain bridge. Kelak, ketika aku sudah di Buru, juga kawanku satu unit: Unit XIV Bantalareja. Ia senang bercerita tentang dirinya yang anak lurah salah satu desa di Bantul Yogya, masih ada hubungan keluarga dengan Pak Harto yang berasal Kemusu.

Di masa revolusi fisik, selagi masih muda, ia anggota Lasykar Pesindo. Kemudian pernah duduk di Pimpinan Pusat Serikat Buruh Perkebunan RI (Sarbupri), dan menjadi orang pertama SOBSI Daerah Jakarta Raya. Ketika Angkatan Darat membentuk Badan Kerja Sama Pemuda Militer (BKSPM), yang belakangan menjadi BKS BUMIL (Badan Kerja Sama Buruh Militer) ia duduk di dalamnya sebagai wakil Sobsi. Kemudian ia dipecat dari kedudukannya sebagai pimpinan Sobsi Daerah dan CDB (Comite Daerah Besar) PKI Jakarta Raya, karena penyelewengan penyelewengan atas berbagai macam fasilitas yang diperolehnya dari kedudukannya di dalam BKS Bumil.

"Hati hati, dik!" Pesannya membapak. "Tolong saja lah. Sampaikan kabar ke keluarga saya."

Ke dalam saku bajuku ia menyelipkan lipatan-lipatan kecil kertas, masing-masing sudah dibubuhi dengan alamat keluarganya di Jakarta. Tampaknya ia tidak ingat lagi bahwa kertas, di dalam penjara tapol, merupakan salah satu benda konsinyes berat. "Konsinyes" sepatah kosakata penjara yang berarti "terlarang". Atau mungkin juga ia ingat, tapi tak perlu dihiraukan lagi, oleh karena aku sebentar lagi akan ada di dunia bebas. Dan dunia bebas tidak mengenal berbagai konsinyes!

"Selamat jalan!" Katanya akhirnya. Dengan wajah cerah penuh keyakinan ia menjabat tanganku kuat kuat. Diikuti oleh kawan kawan lain yang berdiri memagari pintu blok penjara.

"Sampai ketemu di luar, dik!" Seru mereka.

"Ya. Sampai ketemu!" Sambutku tak kalah hangat. Tapi aku sengaja tak menirukan kata kata mereka "di luar". Aku benar tidak yakin, bahwa kami akan saling bertemu "di luar".

Mimpi memang tak kenal batas. Terkadang bahkan juga tak kenal malu. Entah itu impian di waktu tidur, entah pula impian di waktu jaga. Entah itu impian orang merdeka, entah pula (atau apa lagi) impian orang terpenjara bertahun-tahun ...

 

 

Meninggalkan RTC Salemba

Maka kutinggalkan lah sel dan blok RTC Salemba yang dingin pengap itu. Keluar pintu Blok I, sambil mengepit gulungan tikar di ketiak, menyusur tembok blok G, F, E dan D. Meliwati pintu besi berlapis dua, yang memisahkan blok blok "dalam" dengan blok blok "luar", yaitu blok A, B dan C.

Di sepanjang jalan, sebelum sampai pintu besi terakhir, di mana berdiri banyak penjaga, lipatan-lipatan kertas di saku baju itu kukunyah sejadi-jadinya. Lalu kusemburkan bersama ludah di sepanjang pagar tanaman hidup. Aku yakin, bahwa kami tidak sedang menuju pembebasan. Tapi pemindahan. Entah ke Tangerang, Nusakambangan, atau Pulau Buru. Seperti dua rombongan yang telah berangkat sebelumnya. Maka yang terpikir olehku hanya satu: Tidak sempat berkabar pada keluarga adik atau kakakku

Sesungguhnya hari itu adalah hari besukan. Istilah ini berasal dari kata Belanda "bezoek", artinya "kunjungan". Tapi di penjara istilah ini mempunyai arti khusus. Yaitu kiriman keluarga berupa apa saja. Tentu saja umumnya makanan dan minuman, karena yang selain itu merupakan barang-barang konsinyes. Tapi terkadang juga uang, yang bisa dikirim dengan "jalan khusus" dan di luar hari-hari besukan. Itu bisa terjadi karena petugas bersangkutan menerima "pelincir" tertentu dari keluarga, selain kepada tapol yang bersangkutan juga bisa ditarik "cukai" - yaitu istilah penjara untuk pemotongan sebagian atas barang kiriman, yang biasanya sebagian besar dan tanpa setahu tapol yang berhak. Barang tertentu keperluan kamp, atas perintah petugas, ada kalanya bisa juga dipesan kepada keluarga untuk dibesukkan. Misalnya bola lampu, ember dan tali timba, dan cat tembok.

Hari-hari besukan di RTC Salemba ada tiga dalam satu minggu, yaitu hari Senin, Rabu dan Jumat. Pada waktu itulah keluarga yang mampu dan berani akan antre di depan loket penjara di pintu gerbang sana, menunggu giliran untuk bisa mengirim masuk tas-tas besukan mereka. "Gemuk" atau "kurus" tas besukan, "tinggi" dan "rendah" mutu isi tas, sudah tentu bergantung pada kemampuan keluarga yang bersangkutan. Begitu juga "frekuensi" datangnya kiriman. Misalnya, apakah besukan itu datang tiga atau satu kali setiap minggu, satu atau dua kali setiap bulan, ataukah hanya "insidentil" saja. Semua kata-kata di bawah tanda kutip adalah kata-kata yang lazim digunakan oleh kalangan tapol RTC Salemba dan Tangerang.

 

Hari besukan kali itu datang bersamaan waktu dengan kesibukan luar biasa di dalam dan antar- kamp. Pemindahan tapol dari Salemba ke Tangerang, dan sebaliknya, dan dari blok satu ke blok yang lain di Salemba sendiri. Jam buka loket penerimaan besukan ditunda, menunggu sampai tapol yang harus dipindah diberangkatkan semua.

Aku berangkat hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Baju dengan 1001 tambalan, sampai tak jelas lagi bahan dan warna dasar apa aslinya semula. Baju semacam ini tapol menamainya baju "antrakusuma". Yaitu kutang warna-warni, azimat Satria Pringgadani Raden Gatutkaca, yang apabila dikenakan menyebabkan sang Raden bisa terbang walaupun tanpa sayap. Celana panjang yang kupakai berwarna hijau lumut, pemberian dari Mas Pracoyo. Beberapa potong pakaian yang kubawa ketika masuk Salemba, satu setengah tahun lalu, habis dirampas tahanan-tahanan kriminil anak buah Kablok Johny Ayal, takrimil (tahanan kriminil militer) eks-letnan Angkatan Darat yang ditangkap karena merampok sebuah toko mas di Mayestik Kebayoran Baru. Ketika itu aku masih harus diisolasi selama kira-kira delapan bulan, di blok militer kriminil: Blok E2.

Barang-barang milikku hanya selembar tikar tua, kiriman keluarga adik atau kakakku ketika masih di tahanan KKO Cilandak Jakarta Selatan, sebuah alat pemotong kuku, dan sikat gigi yang sudah berkali-kali patah dan kusambung lagi dengan dibakar.

 

Ternyata bukan truk yang menunggu kami. Tapi bis-bis penjara bercat hitam. Berpintu besi, dilengkapi dengan rantai dan gembok besar. Di kiri dan kanan pintu dua orang pengawal duduk, memegang karaben dengan bayonet telanjang. Di sebelah sopir, terlihat dari jendela kaca selebar kipas, duduk seorang tentara lain lagi. Tiga puluh lima tapol berikut barang mereka masing-masing diisikan di dalam setiap satu bis.

 

Memasuki RTC Tangerang.

Gerbang RTC Salemba perlahan kami liwati. Beriring-iring bis-bis itu merayap sambil perlahan menggeram-geram. Dari jendela kaca berjeruji sebesar besar jari aku melihat ibu-ibu dan anak-anak berjubel. Ada yang sengaja datang untuk melihat, mencari dan mencuri pandang barangkali akan terlihat saudaranya ada di dalam bis hitam itu, ada yang secera kebetulan saja karena mereka bermaksud besuk. Tukang becak, orang-orang lalu, penjula baso dan kopi di pinggir jalan, semua berhenti dan seperti tak berkerdip mata mereka memandang ke bis. Ya, tatapan mereka menguak di sela-sela jeruji besi. Juga mata kami yang di dalam bis. Semua mencari-cari di tengah orang-orang yang berjubel di halaman dan jalan depan penjara. Tak ada terlihat lambaian tangan. Tapi getaran rasa iba terpancar dari wajah-wajah mereka. Ada yang tak kuasa menahan air matanya mengalir di pipi, berkilatan diterpa sinar matahari menjelang lohor.

Kami memandangi mereka dengan geraham terkunci. Tidak ada airmata. Sudah sejak lama airmata kami habis. Mati sudah sumbernya, dibakar oleh setruman listrik yang menyengat, atau telah mampat oleh tindisan sepatu bot, atau telah rusak oleh sabetan buntut ikan pari yang berduri-duri atau kopel rim serdadu-serdadu Jendral Suharto.

 

Masuk halaman Kamp Tangerang matahari sudah menuruni lereng langit. Satu demi satu kami diperintah melompat turun dari bis. Lututku terasa gemetar ngilu, seperti tak kuat menupang berat tubuh sendiri yang kurus. Pengaruh rasa takut mungkin. Atau karena duduk terlalu lama tanpa bisa bergerak. Ditambah lagi, pasti karena lapar. Sejak pagi seteguk air putih pun belum sempat kami minum.

Beberapa petugas Kamp Tangerang siap menerima kami. Tubuh kami digeledah. Bawaan kami dibuka dan dibongkar bangkir isinya. Alat pemotong kuku di saku bajuku diambil, dan dilempar ke pinggir halaman. Mataku terperanjat protes. Aku hendak berlari mengambil kembali benda itu. Tapi Alibasah, seorang tapol bekas pimpinan Serbaud (Serikat Buruh Angkatan Udara) Irian Barat, yang sudah lama ditahan dan sering mondar mandir pindah antara Salemba dan Tangerang, menangkap lenganku. Matanya memancarkan protes terhadapku.

+ Itu masuk kategori alat tajam, dik Her. Bisiknya, setelah kami selesai diperiksa, dan berjalan menjauh dari para petugas.

- Apa orang bisa mati karena potongan kuku?

+ Jangan tanya aku dong!

Lalu kami harus berbaris dalam sikap bersiap. Harus pasang telinga, mendengarkan suara panggilan, nama demi nama kami masing-masing. Kami dibagi dalam beberapa kelompok barisan. Masing-masing kelompok berarti blok blok, ke mana masing-masing kami harus bergabung. Blok blok itu, seperti juga di RTC Salemba, ada yang berupa kamar besar dihuni bersama; tapi ada juga yang berupa deretan sel-sel, yang setiap sel 2 x 4 meter diisi dengan 5 sampai 7 tapol.

Meliwati gerbang pintu blok dadaku sejurus bergetar. Angin dingin seperti mengusap belakang leher ku. Begitu selalu setiap aku berhadapan dengan sesuatu yang mengerikan perasaanku. Misalnya ketika untuk pertama kali aku berkenalan dengan apa yang disebut sel penjara. Ruangan yang gelap, pengap dan dingin. Jeruji-jeruji besi, gembok dan rantai berkarat. Bau yang anyir memualkan. Lalu ketika di depan meja interogator. Kulihat cambuk seperti akar, ujungnya berduri-duri dan pangkalnya diberi tangkai pemegang. Itulah ekor ikan pari. Kabel dan cincin-cincin tembaga. Itulah alat penyetrum. Tapi bukan saja alat penyiksa dan pengurung, bahkan alat dan ransum makan pun membuat penglihatan ku sebentar terasa gelap. Itu terjadi pada hari pertama, sekitar tengah hari, di sel Blok D RTC Salemba. Waktu makan siang datang. Pintu sel ku tidak dibuka, karena aku masih dalam isolasi keras. Dari rongga antara pintu dan lantai, petugas penjara memasukkan jatah ku. Satu piring aluminium, omprèng kami menamainya, yang pinggirnya sudah robek robek dan tak keruan bentuk nya, tampak kotor, meluncur di lantai. Tanpa sendok. Di dalamnya nasi kecoklatan warnanya, sekitar lima suap, terendam air kehijauan, dan beberapa lembar daun bayam. Ketika kupegang piring itu terasa licin, dan ketika kucium jatah makanku di dalamnya, bau amis menusuk hidungku. Aku memuntahkan isi perut yang kosong, selain air ludah yang terasa pahit. Kemudian aku jatuh sakit beberapa hari. Pada waktu sakit itulah, ketika yang terasa hanya demam dan pusing, inderaku telah menjadi tumpul terhadap bau amis dari piring yang licin. Dan pada waktu itu juga lah aku belajar makan jatah ransum penjara ...

 

Yang menyongsong kedatanganku di Kamp Tangerang lebih mengerikan lagi. Dibanding Salemba, blok blok penjara Tangerang lebih kecil ukurannya. Padahal penghuni tapolnya lebih banyak. Karena itu Kamp Tangerang menjadi terkesan lebih kotor dan sesak. Sebagian besar tapol benar-benar tampak seperti jerangkong hidup. Malah banyak yang telah menjadi lumpuh sama sekali, dan bergeletakan di sel sel. Satu dua orang yang mengenal ku, berusaha datang untuk menyalami. Mereka berjalan tanpa mampu mengangkat kaki dan melenggang tangan. Wajah dan mata mereka layu dan redup. Ketika kujabat, telapak tangan mereka kering dan dingin.

Aku lalu ingat lagu "Hidup di bui", yang pernah kudengar ketika aku masih ditahan di Paskoarma II (Pasukan Komando Armada II) KKO Cilandak, dinyanyikan oleh Sersan KKO Sugiarto. Konon lagu itu, yang akhirnya aku pun pandai menyanyikannya, diciptakan oleh tapol entah siapa di Tangerang. Begini syair lagu itu:

Hidup di bui bagaikan burung

Bangun pagi makan nasi jagung

Tidur di ubin pikiran bingung

Apa daya badan ku terkurung

 

Terompet pagi harus bangun

Makan diantri nasinya jagung

Mau merokok rokoknya puntung

Mau mandi tidak ada sabun

 

Oh kawan dengar lagu ini

Hidup di bui menyiksa diri

Jangan sampai kawan mengalami

Badan hidup terasa mati

 

Apa lagi penjara Tangerang

Masuk gemuk pulang tinggal tulang

Karena kerja secara paksa

Tua muda turun ke sawah.

 

 

Tapi apa yang kusaksikan di Tangerang, masih jauh lebih mengerikan dari yang dilukiskan oleh lagu di atas. Apa gerangan sebabnya?

Menurut cerita Alibasah begini. Hampir bersamaan dengan peristiwa pembunuhan atas tapol cecunguk Silitonga, terbungkarlah organisasi PKI bawah tanah di Kamp Tangerang. Setumpuk dokumen daftar pimpinan dan anggota organisasi, serta diktat-diktat bahan pendidikan disita. Akibatnya, bukan hanya tapol anggota PKI bawah tanah itu, tapi semua tapol di dalam kamp ditindak keras dan kejam. Disiksa dengan segala macam alat penyiksa, dan Kamp Tangerang tiga bulan diisolasi sama sekali. Pintu sel selalu terkunci, kecuali pada waktu-waktu tertentu untuk beberapa menit; besukan keluarga dilarang; proyek pertanian ditutup, dan semua tapol yang di proyek ditarik kembali ke kamp.

Sebelum kejadian itu tapol di Kamp Tangerang dibagi dua. Sebagian tinggal di dalam dan sebagian lagi di luar kamp. Yang tinggal di luar umumnya yang berumur muda dan berbadan sehat. Karena tenaga mereka diperlukan untuk mengerjakan berbagai proyek Kodam V Jaya (sekarang Kodam VII), khususnya proyek pertanian sawah dan ladang di luar kota Tangerang.

Sementara itu, di tengah kesibukan dan ketegangan yang merajalela, terdengar kabar burung. Ya, tapi dalam kehidupan di penjara - apa lagi penjara tapol - semua kabar memang kabar burung. Begini katanya.

Saat itu di Pulau Buru sudah ada enam ribu tapol. Dan jumlah itu, dalam tahun 1971 ini, akan ditambah menjadi sepuluh ribu. Maka untuk itu, lalu terjadilah semacam perdagangan tapol. Setiap orang konon berharga sepuluh ribu rupiah. Siapa pembeli dan penjualnya kabar burung membiarkannya sebagai tebak-tebakan. Tapi karena semangat antidiktatur militer dan anti-imperialisme, khususnya imperialisme AS, yang tinggi di kalangan tapol G30S pada umumnya, maka tebak-tebakan itu pun mudah dijawab. Si penjual ialah rejim Suharto, dan sang pembeli ialah AS, si musuh rakyat-rakyat sedunia nomor satu. Itu ungkapan kasarnya kabar burung. Inti sarinya yang halus, bahwa proyek pemanfaatan tenaga kerja tapol di Buru, berhasil dilaksanakan berkat bantuan biaya negara asing.

Tapi bagaimanapun juga sebutan "tefaat" itu sendiri seperti sudah memberi petunjuk tentang maknanya. Tempat Pemanfaatan! Sebagai instansi, jelas lah bahwa Tefaat Buru merupakan wadah tenaga kerja tapol. Sebagai tapol mereka orang-orang kasta "paria baru" yang tersia. Namun sebagai tenaga kerja, mereka merupakan kekuatan potensial untuk dimanfaatkan sebanyak banyaknya. Yaitu guna menggarap proyek-proyek apa saja, yang akan menunjang rencana pembangunan pemerintah.

 

 

Kamp Salemba 3 - 5 Agustus 1971.

Tidak ada kegiatan. Yang ada hanya keharusan tetap siaga memenuhi panggilan petugas sewaktu-waktu. Tak kurang dari tiga kali dalam satu hari kami harus pindah blok atau pindah kelompok atau sel.

Sel atau kelompok sebenarnya berfungsi sebagai satuan terkecil dalam pengaturan tapol di dalam kamp. Satu kelompok rata-rata beranggota lima sampai tujuh orang. Tapi pernah juga sampai sembilan atau bahkan sebelas orang. Itu terjadi pada saat gelombang "pencidukan" meningkat. Pengelompokan diperlukan selain untuk kebutuhan korve - pembersihan blok, membagi air minum, dll - juga untuk meratakan "kesejahteraan". Yang akhir ini mengingat, karena besukan yang diterima setiap tapol berbeda beda isi dan mutunya. Karena fungsinya yang demikian itu, maka sebutan yang diberikan kepadanya pun ada dua: "kelompok korve" atau "kelompok riungan".

 

Kabar burung tentang pembebasan ternyata juga santer disebarkan di kamp Tangerang. Malah lebih tegas dan rinci dikatakan. Pengelompokan dan pergantian penghuni blok yang terus menerus berubah-ubah itu sehubungan dengan penyusunan barisan apel pembebasan nanti. Konon masalah tapol G30S sudah harus selesai sebelum 17 Agustus 1971! Apel Pembebasan akan berlangsung di halaman Balai Kota Jakarta Raya, atau di lapangan Ikada dengan Inspektur Upacara Ali Sadikin, selaku Gubernur DKI Jaya ...

Tanggal 5 Agustus 1971. Ketegangan suasana mencapai puncaknya. Segala mimpi tentang pembebasan mendapat jawaban yang jelas dari penguasa kamp. Siang hari itu delapan ratus orang tapol benar bebas, dari sel penjara ke alam bebas dikelilingi pagar kawat berduri. Dari Jakarta ke Pulau Buru. Dari tapol tawanan ke tapol buangan. Dari status tapol mubazir ke status dimanfaatkan. Tanpa sidang pengadilan, dan tanpa pemberitahuan. Tapi dengan desas-desus kebohongan.

Hari berikut setiba kami, untuk pertama kali sesudah beberapa bulan ditutup, loket besukan Kamp Tangerang dibuka. Bisa dibayangkan, betapa banyak keluarga tapol yang antre di depan halaman penjara sana. Aku tidak tahu. Bagaimana masyarakat mendapat tahu tentang hari istimewa itu, dan tentang pemindahan tapol antarkamp Tangerang-Salemba. Juga aku tidak tahu. Bagaimana hari itu aku, yang selama di penjara hampir tak pernah menerima besukan, pun termasuk mendapat "panggilan besukan".

Isi besukan yang kuterima benar-benar jenis barang yang diperlukan untuk hidup tapol di penjara militer. Tidak ada barang mewah. Aku lalu ingat ketika masih di SMP, pada hari-hari tertentu pamit tidak hadir di kelas sepanjang jam-jam pelajaran. Alasanku, karena perlu "membesuk" kakak di Sekolah Rakyat "Netral" Yogya, yang waktu itu dipakai sebagai kamp penahanan orang-orang FDR (Front Demokrasi Rakyat) di sekitar Peristiwa Madiun. Berbagai macam makanan enak dan beberapa potong pakaian baru dan bagus kami kirim. Tapi semuanya itu ternyata tidak pernah sampai, atau kalau pun sampai sebagian kecil saja. K.M.K., kependekan dari Komando Militer Kota, instansi penerima besukan "tahanan Madiun" - ketika itu belum ada istilah "tapol" - lalu mendapat kepanjangan baru di kalangan keluarga tahanan: "Kumpulan Maling dan Kècu. "Kècu" ialah kata Jawa untuk "perampok".

Label tas plastik besukan ku terbaca nama dan alamat adikku, perwira KKO-AL. Isi besukan, selain selembar tikar pandan, ialah: sedikit nasi dan sayur, sedikit sambel goreng kacang teri, beberapa gelundung gula merah, tembakau hitam dan daun kaung, agak banyak bulgur mentah, sepasang bakiak - aku tidak tahu, bagaimana timbul gagasan tentang bakiak! - dan - inilah kejelian saudara-saudaraku melihat ruang dalam kesempitan! - di dalam label karton nama dan nomor fotoku kudapati dua helai lembaran kertas berwarna merah: dua ratus rupiah!

Hati ku menangis menerima besukan yang datang tepat waktu itu. Tapi tas besukan tidak bisa kukirim kembali. Loket besukan sudah tutup ketika tas besukan diterimakan padaku. Aku tidak sempat mengirim sandi tentang keberangkatanku ke tanah pembuangan. Padahal kupikir, barangkali kali itu lah kemungkinan terakhir untuk sekedar menunjukkan tanda berita hidup. Karena sementara itu pun aku berpikir, perjalanan ke Buru itu merupakan awal perjalanan menuju akhir hidup selama-lamanya.

Aku membayangkan betapa jauh jarak Jakarta - Tangerang. Alangkah melelahkan curahan panas sinar matahari sepanjang jalan. Dalam bayangan pikiranku berlintasan berbagai kejadian dua tahun lalu, yang tak pernah kulihat melainkan hanya kudengar beritanya. Adikku, mayor KKO-AL, ditangkap, diinterogasi, ditahan, dan dipecat dari segala jabatan dan pangkat. Semata-mata karena ia memberi tumpangan hidup pada kakaknya selama empat tahun. Sejak Agustus tahun 1965, ketika ia diusir dari Srilangka dan kembali ke tanahair, untuk kemudian ditangkap dan ditahan sejak 1969. Persona non grata di negeri orang, persona non grata di negeri sendiri ...

 

 

Di Sela Intaian

(catatan tapol g30s/sht-cia pulau buru)

nomor foto: 5937

 

 

Perjalanan Menuju "Pulau Harapan"

 

Meninggalkan Tangerang

 

 

Seluruh penghuni Kamp Tangerang baru saja dilepas dari isolasi berat. Dilepas bukan karena bisikan hati nurani penguasa. Tapi karena dua alasan, paling tidak. Pertama, ke mana muka akan disembunyikan dari tatapan mata hari, jika setiap hari ada sekitar sepuluh tapol mati kelaparan - seperti yang terjadi dalam tahun tahun 1967-68? Kedua, kesibukan penguasa menyusun skenario "Buru Pulau Harapan", yang ibarat gunting bermata dua. Mata yang satu berujung pada pembuangan dan pembunuhan tapol perlahan lahan jauh dari pusat kekuasaan, dan mata yang lain berujung pada pemanfaatan tenaga kerja yang mubazir. Demi menunjang "program pembangunan nasional" di kawasan timur Indonesia. Dalam dunia pewayangan, sama seperti keluarga Pandawa yang digelandang untuk dijadikan sebagai "bekakak" kesejahteraan kerajaan Astina.

Dari sudut ini maka apa yang disebut "Peristiwa Tangerang", dari terbunuhnya tapol Silitonga sampai tergulungnya PKI bawah tanah Slamet Wijaya, hanya satu atau dua adegan dari skenario panjang "Buru Pulau Harapan", yang sedang sibuk mereka rancang itu.

Hari-hari itu suasana dalam kamp juga berubah. Tidak ada kegiatan mengaji dan pengkajian Pancasila. Waktu lalu kuisi dengan menemui teman-teman yang pernah kukenal, yang dalam satu blok tentu saja, mendengarkan cerita pengalaman mereka, khususnya tentang proyek pertanian Kodam V Jaya yang dikerjakan Tapol Tangerang. Dalam pada itu ada sementara teman tertentu, barangkali sisa-sisa kader Slamet Wijaya yang lolos dari pembersihan, mengajak bicara tentang apa yang harus dilakukan selama di kapal, bagaimana mengatur tenaga menggendong teman-teman yang tua atau lumpuh dari sejak mendarat sampai ke unit dan sebagainya. Tidak kurang penting masalah me-"rehab" teman-teman yang lumpuh dan kurus kering, sebagai akibat isolasi berat beberapa bulan di Tangerang.

Teman-teman yang gemar merajin lain lagi kesibukan mereka. Mereka menawarkan jasa untuk membuat ransel dari bahan goni, karung bekas pupuk urea, atau kantung gandum. Entah dari mana mereka pada bisa mendapatkan bahan bahan itu, aku tak mengerti. Tentu saja dengan sekedar imbalan dari si peminta jasa. Misalnya, gula merah, tembakau, singkong rebus, sejumlah uang dari tiga ringgit sampai dua puluh lima rupiah. Pendeknya apa atau berapa saja. Ada lagi yang membuat label indah-indah, dengan "benang" warna-warni yang dilolosi dari berbagai gombalan. Ada lagi yang menganyam tas tas dari pintalan tali tali plastik, kemudian dijual dengan harga sepuluh sampai lima belas rupiah. Tidak usah heran jika kusebut perkara uang. Sudah sejak di Salemba kuketahui, tentang adanya peredaran uang di kalangan tapol yang sudah bertahun-tahun di penjara itu. Tapol "kaya" dan tapol "miskin" sesungguhnya sudah terbelah sejak masih di tempat tahanan operasional, yaitu sebelum mereka dipindah ke RTC RTC Salemba, Bukitduri atau Tangerang.

 

Seorang pemuda bernama Suripto, berasal Solo, anggota Cabang Lekra dan Pemuda Rakyat. Sesudah dimutasi ke Jakarta, ia aktif di Paduan Suara "Gembira" yang semasa dipimpin Subronto K. Atmodjo pernah sangat terkenal. Pagi itu ia menyodorkan kepadaku sebait syair untuk lirik lagu "Mars Ransel Goni" yang sedang disiapkan nya. Bukan saja untuk menyemangati teman-teman sependeritaannya yang hendak "diburukan", tapi juga untuk mengabadikan kejadian itu dalam sebuah lagu. Rupanya ia terpengaruh oleh kecenderungan pimpinan nya, Bung Bronto, yang selalu rajin berusaha mengabadikan kejadian-kejadian sejarah dalam lagu, khususnya pidato-pidato 17 Agustus Bung Karno setiap tahun. Lagu lagu "jenis sejarah" komposisi Bung Bronto itu, di antara, "Nasakom Bersatu", "Resopim" (Revolusi - Sosialisme - Pimpinan Nasional), "Sukarelawan".

Sebuah lagu berirama mars, enam baris sederhana, akhirnya jadi tersusun oleh Bung Ripto. Ia menulis seluruh notasinya, dan aku memoles kata-kata syairnya. "Sayang" sekali Bung Ripto sendiri tidak pernah ikut "diburukan", sehingga sejak itu sampai sekarang tak kutahu di mana dia berada ...

 

*

 

Jatah satu muk air bening panas dari penjara sudah dibagi-bagi. Sepotong singkong rebus, sisa besukan teman seriungan kemarin, juga sudah di tangan kami masing-masing. Terlalu pagi hari itu kami sarapan. Tergerak oleh suasana tak menentu yang semakin terasa memburu. "Ambil cepat tiap sempat!", memang menjadi semboyan kami setiap tapol. Juga dalam hal makan. Masuk mulut dan telan selagi sempat.

Memang tidak jarang terjadi, kami sudah duduk bersila "ngariung". Makanan jatah penjara ditambah besukan sudah dibagi-bagi, suap pertama sudah diangkat ... tiba-tiba, sebelum sendok masuk mulut, petugas sudah berdiri di depan pintu sel, dan berteriak menyerukan nama-nama. Itu berarti yang terpanggil harus segera berdiri, dan bersiap menghadap ke depan! Dan "menghadap ke depan" itu bisa berarti macam macam. Interogasi ulang, dan ini biasanya berangkai dengan caci maki dan siksaan; pindah sel, pindah blok, pindah kamp; atau dibon. Dan "dibon" ini bisa berakhir dengan hal yang paling buruk: "dimangkubumikan". Karena itu tidak ada tapol yang menunda-nunda waktu makan. Kecuali jika dia sedang terlalu sakit.

"Jatah makan sendiri saja, sebelum masuk perut, belum tentu itu milik kita!"

Begitu Siswondo berkata. Lain lagi Karta bin Deris, tapol muda yang tak pernah bermuram muka, bekas Pemuda Rakyat Pasar Minggu Jakarta.

"Ayo, mau apa sekarang? Sesumbar nya seusai makan. Mau perang kek, samber geledek kek ... pokonya gue udah makan nih!"

 

Pagi hari itu pun demikian.

Air belum diminum, dan singkong belum habis dimakan. Tiba-tiba di pintu gerbang blok sudah muncul seorang petugas.

"Semua siap!" Perintahnya. "Panggilan ke depan segera akan mulai!"

Memang. Dari arah lapangan apel pengeras suara segera terdengar bunyi dengung dan cuat cuit memekakkan. Kemudian bunyi kepala mikrofon diketuk ketuk: "satu dua tiga satu dua tiga percobaan percobaan ... satu ..."

Langit Tangerang terasa seperti sesak tiba-tiba. Pengeras suara, megafon, deram derum entah berapa puluh kendaraan bermotor. Belum lagi teriakan perintah para petugas dari sel ke sel, kata kata caci maki, bentakan dan jerit tapol yang kena pukul atau tendang.

Aku pun telah siap menunggu giliran. Sejak pindah dari Salemba ke Tangerang aku memang terus selalu siap. Bahkan pada waktu tidur pun kemeja dan celana panjang selalu kupakai. Sehingga kapan saja panggilan datang, aku tinggal menggulung tikar. Dan siap.

Nama nama tapol demi tapol, lengkap dengan bin atau bintinya, ditambah dengan nomor register dan nomor foto, diteriakkkan melalui megafon berturut-turut. Pada sekitar jam sepuluh, melihat ketinggian matahari, nama ku diserukan. Aku segera bergabung dalam barisan tapol yang berjalan sangat perlahan, satu demi satu, meliwati pagar para petugas. Suasana hiruk pikuk seperti keramaian pasar malam.

Di depan beberapa petugas di ujung sana, kami harus membuka barang bawaan kami masing-masing. Kecuali pakaian, sikat gigi dan sabun - bagi yang punya - tidak ada barang-barang lain boleh dibawa. Tikar, selimut, bantal dan kasur - aku heran ada sejumlah tapol yang punya bantal dan kasur! - alat makan dan minum juga tidak boleh dibawa. Petugas-petugas penggeledah melempar lemparkan barang-barang larangan itu ke pinggir lapangan apel.

Wasga, seorang teman tapol asal Indramayu, sembunyi-sembunyi berusaha menyelamatkan piring dan cangkir miliknya.

+ Buang! Perintah petugas dengan mata mengancam.

- Ini baru Pak! Kata Wasga. Kiriman keluarga saya. Baru kemarin ...

+ Goblok! Tinggal! Dan ditendangnya tangan Wasga. Piring dan cangkir di tangan nya melayang jatuh berkeping-keping.

+ Goblok! Di sana kamu semua nanti dibagi piring cangkir porselen bagus-bagus dari Cinkom. Kesukaanmu!" Suara petugas lain. "Juga kasur, bantal dan tikar. Kamu semua akan dikasih. Tinggal saja kasur dan tikar bodol-bodol begitu. Biar nanti dibakar para petugas ..."

Memang bukan main banyak nya petugas hari itu. Melihat seragam yang mereka pakai, terdiri dari berbagai kesatuan: Hansip, Korpri penjara dan kejaksaan, dan terutama Angkatan Darat tentu saja.

Selesai penggeledahan satu demi satu kami dibariskan ke tempat lain. Di sana seorang petugas meneriakkan nama kami, yang harus kami jawab dengan teriakan tak kalah lantang: nomor register dan nomor foto. Sesudah tunduk menghormat, petugas lain memberi kami anugerah: kemeja lengan pendek dan celana panjang keki berwarna coklat-hijau, dan topi bambu bikinan Tangerang. Topi bambu. Aku lalu ingat pelajaran sekolah, ketika masih di kelas I SD. Pak Bei Harjautama, dalam pelajaran "ilmu bumi", mengatakan, sejak jaman Belanda dulu Tangerang terkenal dengan kerajinan anyaman bambu.

"Nomor bajumu (sekian)." Kata petugas itu sambil menulis-nulis di lembaran kertas lebar. "Hafalkan itu. Jangan sampai lupa!" Perintahnya.

"Awas kalau lupa!" Timpal yang lain.

Aduh! Batinku. Tambah sederet angka-angka lagi harus kuhafal. Dengan otak yang setiap hari ditunjang dengan sepuluh suap nasi apak dan secangkir air bening! Harus menghafal begitu banyak deretan angka angka?

Kami lalu digiring ke penjuru lain di lapangan itu. Bergabung dengan banyak teman yang sudah lebih dulu menunggu di sana. Di sini kami harus telanjang. (Pemandangan yang aneh juga! Begitu banyak petugas, tapi tidak ada seorang pun petugas perempuan? Negri ini memang negri laki laki serdadu saja rupanya!). Kami semua mengganti pakaian sendiri yang melekat di badan, dengan pakaian jatah pembagian dari "pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Bapak Jendral Suharto yang baik hati". Kata-kata itu entah sudah berapa puluh kali pagi itu kami dengar dalam setiap pidato, setiap kali kami pindah dari barisan satu ke barisan lain.

Benar. Di dada kemejaku tercetak angka berwarna hitam, besar: 348. Demikian juga di pantat celana, tercetak angka yang sama. Ingatanku melayang ke abatoar di pinggir Kali Gajahwong di Yogya. Sapi sapi yang digiring ke pembantaian, semua dicap dengan angka angka dari logam panas yang dibakar, pada kedua sisi pinggul mereka yang gembung itu. Andai kata sapi sapi itu bercelana dan berbaju, tentu saja mereka tak perlu menderita merasai panasnya logam bakar. Ah, kami para tapol masih beruntung ketimbang sapi. Benar. Pak Harto dan Orde Baru nya memang baik hati. Terimakasih, ya Pak!

 

Tanpa diberi kesempatan beristirahat, jangan sebut makan dan minum, kami harus menunggu sampai semua urusan rampung.

Jarum pendek jam tembok tua di atas pintu gerbang penjara menunjuk angka dua. Kami diperintahkan meninggalkan lapangan, berbaris menuju truk truk terbuka, yang sudah menunggu kami, berderet deret di halaman dan jalan depan penjara. Setiap truk diisi satu kelompok lima puluh orang, yang berdasar atas urutan nomor baju. Kelompok dan urutan nomor ini diharuskan terus berlaku, baik nanti di kapal maupun suatu hari jika sudah mendarat, dan masuk ke barak barak di unit yang dituju.

Hampir semua tapol menggendong ransel goni. Satu dua saja tapol yang kaya. Mereka menggendong ransel dari kantung urea atau kantung terigu. Ada yang tipis gendongan mereka, tapi banyak juga yang bukan main besar - entah apa saja isinya! Barangkali sekedar gombalan gombalan, seperti layaknya jika orang tua sudah "nyusuh". (Kata orang Jawa, orang tua yang sudah mulai suka "membuat sarang" demikian, pertanda ia sudah pasrah pada akhir hidup nya). Pada umumnya hanya menggendong satu ransel, atau menjinjing satu bungkusan kecil, tapi tidak sedikit juga yang merepot diri sendiri dengan terlalu banyak bawaan. Seperti orang mau berangkat transmigrasi.

Aku sudah di atas truk. Sepatah keharusan sudah tertunai. Ketegangan mulai sedikit mengendur. Mataku punya kesempatan melihat kawan-kawan di sekitar. Aneh, pikirku. Sesudah lima tahun lebih di penjara, masih ada juga yang tidak canggung bersepatu dan berarloji tangan. Lagi pula, pikirku lagi, bagaimana mereka bisa menyembunyikan barang-barang itu dari mata petugas? Sedang aku? Alat pemotong kuku pun aku tidak bisa menyelamatkan!

Aku pun masih bersepatu dan berarloji, ketika dipindah dari tempat penahahan KKO-AL di Pasar Minggu dan masuk ke RTC Salemba. Jadi selama masih di tahanan operasional "Ikan Paus" belum semua hak ku dirampas sama sekali.

"Arloji dan sepatu tinggal saja sini!" Perintah seorang Peltu, yang menerima aku di Salemba hari itu. "Kami simpan semua di gudang. Besok kalau sudah bebas boleh diambil." Tambahnya, tanpa menyebut kapan "besok" itu.

Aku turuti perintah Peltu itu. Kenapa tidak? Jangan lagi sepatu dan arloji, bahkan pemotong kuku terlarang dimiliki tapol. Tapi aku tidak ada nafsu untuk bertanya. Ah, apa guna pertanyaan seorang daif di depan kekuasaan?

Ya. Aku cuma bisa berdialog dengan diri sendiri.

Sesungguhnya apa salahnya tapol, bahkan takrim pun, bersepatu dan berarloji. Aku lantas ingat salah satu foto ilustrasi Di Bawah Bendera Revolusi Bung Karno. Bung Karno sedang menaiki tangga kapal, yang hendak membawanya ke pulau pembuangan, Endeh. Gagah dia. Berpeci hitam, bercelana panjang putih, kemeja putih lengan panjang, berdasi bersepatu hitam mengkilap. Sudah pasti dia berarloji. Dan di belakang dia, para pengiring terutama Ibu Inggit. Istrinya. Jadi, ketika itu, bahkan membawa istri pun boleh. Tapi Bung Karno tapol tahun 30-an, dan kami tapol tahun 70-an. Bung Karno tapol pemerintah kolonial Hindia Belanda yang sipil, sedang kami tapol pemerintah merdeka Republik Indonesia yang militer. Bayangkanlah, andai kata ketika itu Bung Karno dan Ibu Inggit juga diberi pakaian keki bernomor besar-besar di dada dan di pantat, dan menggendong ransel goni!

Berangan-angan begitu aku menarik napas dalam dalam. Mudah-mudahan, betapa juga pun, rombongan ini - juga seperti Bung Karno dan kawan kawan - berangkat menyongsong hari depan mereka dengan kepala tegak dan dada membusung ...

 

Hari masih panjang. Kisah belum lagi habis. Justru sedang hendak dimulai. Menjadi tapol yang dibuang berarti menjadi orang yang telah kehilangan segala-galanya. Sampai "nama" atau "jênêng" pun hilang sudah. Bagi tapol, dalam keadaan yang seperti itu, kesempatan untuk berusaha memperpanjang umur pun telah menjadi semakin sempit. Kesempatan itu, tidak bisa lain, harus dicuri untuk mendapatkannya. Pada teman-teman tapol muda dari Tangerang, yang sekarang di sekitar ku inilah, aku perlu belajar banyak. Belajar mencuri pertama-tama. Membèbèd, istilah mereka. Membebed hak untuk hidup. Kepandaian mereka mencuri hasil produksi pertanian itu, yang notabene hasil keringat kerja sendiri, tak lain adalah pernyataan usaha pembebedan kesempatan agar tetap survive.

 

Truk truk yang mengangkut kami bercat hijau tua. Truk truk Angkatan Darat, yang kelihatan masih serba baru. Di samping sopir, duduk seorang pengawal berpangkat kopral. Memegang karaben, dengan bayonet terpasang. Dua orang CPM berpestol di pinggang, di atas sepeda motor, mengapit setiap truk. Setiap truk diisi dengan 50 tapol, dihitung berurut sesuai dengan nomor baju. Truk yang kunaiki diisi tapol dari yang bernomor baju 401 sampai dengan 450. Tidak disediakan tempat duduk di atas truk itu. Semuanya berdiri, saling berpegang tubuh sesama kawan. Ada tiga yang lumpuh, akibat masa isolasi di Tangerang, dan harus selalu digendong, yaitu: Pak Ruslan (Purwokerto), Pak Aminta Kemo (Indramayu), dan Mang Jumsa bin Ebed (Jakarta).

Heru Santoso, tapol muda bekas pemimpin CGMI (Corps Gerakan Mahasiswa Indonesia) Surabaya, bernomor baju 436. Dua angka di bawah nomor ku. Satu angka langsung di bawah ku Syamsudin Gobel, Pemuda Rakyat, anggota regu pengawal Wakil Ketua II CCPKI Njoto. Ia baru khitan pada suatu hari, sesudah lama menjadi tapol dan menghuni Unit XV Indrapura Buru. Entah bagaimana ceritanya, Komandan Unit menjadi tahu bahwa ia tidak khitan, padahal tercatat sebagai Islam. Mungkin karena kulit nya yang kuning dan matanya yang agak sipit, seperti Tionghwa, sehingga dicurigai keislamannya. Atau karena dilapurkan oleh sesama "kawan" tapol. Sehingga tubuhnya "digeledah".

Nomor 441, Slamet Karyadi, anggota barisan keamanan kantor CCPKI di Jalan Kramat Raya 81 Jakarta. Julukan "Slamet Kondor" dari kami, diterimanya dengan lapang dada. "Kondor" ialah penyakit burut atau hernia. Karena penyakit nya itu, bola kemaluan nya membesar sebesar cengkir, akibat siksaan yang dialami selama masa pemeriksaan di Jakarta.

 

+ Pak Her! Kata Heru sambil menghadap ke belakang, bertelekan pada kepala truk. Aku tentang matanya dengan dada berdebar. Aku takut dia mau mengajak beramai-ramai melakukan "aksi perlawanan".

+ Begitu pintu gerbang kita liwati, kita menyanyi bersama.

- Lagu apa saja?

+ Apa saja. Nanti akan berantai dari truk paling depan sampai paling belakang.

 

Iring iringan truk mulai bergerak. Satu demi satu meninggal kan halaman dalam RTC Tangerang. Maka bergemalah paduan suara dari atas belasan truk. Syair demi syair membahana, "Bangun lah kaum", maksudnya "Internasionale", Halo Halo Bandung, Sorak Sorak Bergembira, Darah Rakyat, Dua Belas November, dan berbagai lagu revolusioner lainnya. Udara siang Jakarta seperti bertambah panas.

Siang itu diberangkatkan 850 tapol. Truk yang kunaiki, kira-kira berada di tengah tengah konvoi. Dalam konvoi yang amat panjang, di tengah derum deram bunyi berbagai kendaraan bermotor yang melaju sangat cepat, hingar bingar suara paduan suara itu sebenarnya hanya menambah bising saja. Lebih tertuju kepada diri para penyanyi sendiri ketimbang pada siapa pun. Lagi pula sepanjang jalan yang kami lalui sunyi lengang belaka. Lalu lintas umum ditutup. Orang lalu lalang dilarang. Masyarakat dilarang menampak kan diri di sepanjang jalan yang diliwati konvoi. Yang menampak di pinggir jalan, hanya deretan serdadu-serdadu Angkatan Darat dalam siaga tempur, yang berdiri membelakangi jalan pada jarak sekitar setiap 50 meter.

Paduan suara dari atas barisan truk yang melaju terus membahana. Perhatian ku lebih pada jalan raya sepanjang Tangerang - Jakarta yang belum pernah kukenali. Tak ada nafsu ku untuk ikut menyanyi. Entah mengapa semua lagu-lagu yang perkasa itu terdengar hambar belaka. Lagu "Bangun lah kaum" itu misalnya. Padahal sekitar dua puluh tahun lalu aku pernah dibikin nya menitik kan air mata. Ketika itu aku, bersama rombongan siswa-siswa Unra (Universitas Rakyat) Yogyakarta, berziarah ke makam Ngalihan Madiun. Di makam yang terletak di pojok sawah, di sebuah desa kecil ini, terkubur jasad tokoh-tokoh FDR (Front Demokrasi Rakyat): Amir Sjarifuddin, Maruto Darusman, Jokosuyono, Oei Gee Hwat, Suripno, dan seterusnya sampai sebelas orang. Berdiri di depan kubur mereka itu kami, dengan khidmat, bersama sama menyanyikan "Internasionale".

Angan-angan ku melayang ke masa kanak kanak.

Suatu hari di tahun '48 koran koran di ibukota RI saat itu, Yogyakarta, memuat foto sebelas tokoh FDR beberapa detik sebelum mereka dieksekusi. Tidak begitu terang foto itu. Tapi wajah dan sosok Mr. Amir Sjarifuddin, yang sangat akrab bagi angan-angan ku, dengan mudah kukenali. Kacamata, rambut ikal, tapi tanpa huncue di foto itu. Ia, seperti sepuluh yang lain, berdiri tegak menatap ke depan. Kedua tangan mereka di belakang - tentunya diikat. Di latar belakang foto, sebuah lubang kubur bersama yang panjang, sepanjang deretan mereka berdiri. Berita yang menyertai foto menyebut, antara lain, Bung Amir - begitu ia saat itu dikenal - minta waktu untuk menyanyikan dua lagu: Indonesia Raya dan Internasionale. Dan menyanyilah langit Ngalihan, yang masih basah dengan embun pagi buta itu, mengantar sebelas tokoh Komunis Indonesia, mengakhiri perjalanan peranan sejarah mereka.

 

Paduan suara masih tetap membahana. Serdadu-serdadu pengawal seperti cuek saja. Pasti bukan karena belum pernah dengar, atau lupa pada lagu-lagu itu. Mereka tentu ingat, sedang lagu "Genjer Genjer" dan "Blanja Wurung" pun menjadi larangan Negara. Apa lagi lagu lagu "merah", seperti yang dinyanyikan ratusan tapol dengan penuh semangat siang hari itu. Barangkali komandan pengawal konvoi ini berpikir sama, seperti komandan regu tembak yang menghabisi nyawa sebelas tokoh FDR tiga puluh tahun yang lalu. Biarlah mereka menyanyi, sebentar lagi toh hilang sudah dari pemandangan ...

 

 

Di Sela Intaian

(catatan tapol g30s/sht-cia pulau buru)

nomor foto : 5937

 

Perjalanan Menuju "Pulau Harapan"

 

Di atas kapal "Tokala"

 

 

Tikungan bypass Yos Sudarso telah kami lalui. Dan gema paduan suara itu padam sudah. Wajah wajah tiba terasa redup letih. Semangat yang menggelora dalam lagu lagu "merah" telah hilang bersama angin darat yang menghembusnya ke laut lepas.

Hari sekitar pukul empat sore. Ada beberapa orang kuli kuli pelabuhan berdiri di ujung jalan. Mereka memandangi kami dengan wajah kosong.

Kami semua mendapat perintah turun. Melompat dari pantat truk, dan langsung berjongkok dalam barisan. Berbanjar lima lima ke belakang, tentu saja tanpa mengabaikan urutan nomor baju. Rombongan demi rombongan di atas setiap truk, menjadi barisan demi barisan di darat. Kepala tunduk ke tanah, dan dua tangan terkunci di atas kuduk. Tak ada sepatah kata dari mulut tapol terdengar. Sebuah suasana antiklimaks dari semangat yang membahana di sepanjang jalan raya Tangerang - Tanjung Priok. Hanya pada saat membuat gerakan melompat dari truk tadi aku menangkap sekilas pemandangan sekitar. Serdadu serdadu Angkatan Darat, Angkatan Laut dan KKO-AL tampak tersebar di mana mana. Barangkali jumlah mereka tak kurang besar dari jumlah kami: "Tentara Lubang Buaya" yang tidak berbaret, tapi bertopi bambu.

Barisan demi barisan kami harus "berjalan bèbèk", mengesot maju beringsut-ingsut. Kali ini tak lagi berbanjar lima lima, tapi berurut satu satu. Seperti telur katak, mereka bilang. Di satu titik seorang tentara menghitung kami. Caranya dengan memukul kan pentungan karet ke kepala masing masing tapol yang liwat di depan nya. Dan setiap tapol yang terkena pukulan harus menjawab dengan meneriakkan nomor baju masing masing.

Dari titik ini kami harus berjalan terus, tetap dengan "jalan bèbèk", menuju ambang pintu dermaga. Baru di sana lah kami boleh mengubah diri, dari "manusia bebek" menjadi "manusia binatang" yang berjalan tegak. Serdadu serdadu di sebelah menyebelah pintu dermaga mengamati nomor baju kami, dan mencocokkan dengan catatan pada lembar lembar kertas di tangan mereka. Tetap dalam rombongan ber-50 masing masing, kami menuju ke gerombolan serdadu lain. Di sana kami masing masing menerima hadiah negara: omprèng, atau sementara teman menyebut nya "mesting", muk dan sendok bebek. Semua serba aluminium. Bukan "porselen Cina", seperti dijanjikan waktu kami masih di Tangerang. Tapi, bagaimana pun juga, siang hari itu kami banyak menerima hadiah dari negara. Karena, kata mereka, "pemerintah Orde Baru di bawah Jendral Suharto, pemerintah yang ber Ketuhanan Yang Maha Esa dan ber peri kemanusiaan. Tidak seperti PKI. Tidak kenal Tuhan dan biadab. Bapak Suharto masih menyayangi kamu. Kalau tidak kamu tentu sudah dibunuh. Karena itu kamu hendak dibina agar menjadi warga negara yang baik. Berterimakasih lah pada Bapak Jendral Suharto ...!"

 

Sebuah kapal tua seperti raksasa hitam menghalangi pandangan ku ke depan. "Tokala", terbaca di lambung kapal itu. Itu lah kapal yang akan membawa kami ke alam "kemerdekaan". Sebuah kapal milik Pelni, yang sengaja dicarter Kejaksaan Agung untuk mengangkut kami.

"Sukur lah!" Slamet Kondor melepas kelegaan bisik keluhnya.

"Kenapa sukur?" Tanyaku. Juga berbisik.

"Tidak harus naik kapal ADRI. Kalau ADRI, bisa-bisa masuk laut kita semua."

Desas desus mengatakan ADRI XII konon tak pernah sempat kembali ke Jakarta. Ia tenggelam dalam perjalanan pulang, setelah mengangkut rombongan tapol ke Buru.

Kami segera digiring naik ke kapal.

Hamparan tikar dan deretan bantal sudah menunggu kami. Rapat berjejer di setiap palka. Seorang tentara berjaga di setiap pintu palka. Masing masing kami mendapat satu kapling. Tentu saja berdasar nomor baju. Seorang kepala palka dan wakilnya ditunjuk di antara kami, atas perintah tentara tapi juga sesuai dengan kebutuhan kami. Tugas mereka membantu penguasa dalam mengapel kami tiga kali sehari, dan menyampaikan perintah perintah mereka untuk kami.

Pukul enam senja "Tokala" mengangkat jangkar. Kami bertolak. Ada sementara teman yang tersedu sedan. Tapi tidak ada yang menyanyikan lagu lagu revolusioner. Semuanya diam. Mungkin lelah, mungkin juga terpukau pada nasib sendiri. Aku ingin melihat teluk Jakarta, yang konon indah menurut Kroncong "Bandar Jakarta". Tapi yang menampak hanya kelap kelip lampunya yang sunyi. Kami mendapat perintah tetap tinggal di kapling masing masing.

Satu jam kemudian jatah makan minum dibagi. Satu ompreng padat nasi putih, satu telur, sepotong daging, dan satu muk teh manis. Sesudah sekian tahun lamanya, dalam mimpi pun tak berani tapol mengharap bertemu makan minum seperti itu, ini sungguh pesta besar. "Kaya kere nemoni malem", kata pepatah Jawa. Seperti si miskin diundang kenduri. Maka dengan ekstra lahap kami segera menyantap. Apa lagi sudah sepanjang hari penuh perut kami memang tidak kemasukan apa apa.

Sementara itu kepala palka meneruskan butir butir pengumuman dari "atas": apel malam akan diambil pada jam delapan, dan sesudah itu kami boleh anjang sana ke palka palka lain, boleh bicara tentang apa saja, boleh membaca bacaan apa yang ada (sic!). Pada jam sepuluh semua sudah harus kembali ke kapling masing masing dan tidur.

Tapi kami terlalu lelah untuk semua kebolehan itu. Juga untuk melek sampai pukul sepuluh. Kami semua berlumba tidur awal, segera sesudah apel. Masing masing membawa kesan sendiri di buaian laut yang berguncang guncang.

Malam pertama di atas laut ...(bersambung)