Hersri Setiawan:
Buru Pulau Purgatorio
Sesudah 20 Tahun
(dialog antara ego dan alter-ego)
III
JAM enam pagi Kerapu II memasuki Teluk Kayeli. Kubangunkan Willy. Ia segera menyambar alat potretnya. Membidik kesibukan penumpang, matahari fajar, bukit-bukit hutan kayuputih di belakang Namlea yang kecoklatan merana. Kubah mesjid tampak berkilat-kilat menyilaukan di pantai. Mesjid itu juga yang tertangkap penglihatanku pertama tentang Namlea dan Buru, ketika KM "Tokala" - kapal pengangkut ternak Pelni yang disewa Abri untuk mengangkut kami: 850 tapol - merapat pada 12 Agustus 1971. Di dekat mesjid itu tentulah warung nasi Jawa, berdinding papan bercat hijau - mengingatkan aku pada warung sate kerang Kudus di depan gedung Wayang Orang "Sobokarti" Semarang.
Di warung itulah Dhik Heru, sobatku terdekat, membeli gula jawa dan tembakau bugis, dengan 150 rupiah dari kantongku - kiriman terakhir di Tangerang dari saudara-saudaraku. Berseberangan warung itu tentulah kantor Kecamatan, yang bersebelahan dengan kantor Markas Komando Inrehab. Hanya bangunan-bangunan itu saja yang berdinding papan dan beratap seng. Rumah-rumah penduduk di sana-sini berdinding gaba-gaba dan beratap welit daun sagu. Di balik rumah penduduk, di belakang dermaga, pasar Namlea; dengan dagangan pokok bahan pangan, khususnya sagu. Uang sebagai nilai tukar belum terlalu penting, karena perdagangan masih dilakukan secara baku pélé, saling pilih alias barter.
Di depan kantor-kantor kekuasaan itu jalan panjang, urat nadi utama Namlea (Buru Utara Timur), jalan tanah berbatu-batu koral, meliwati Pastoran dan gereja Katolik, dan "berujung" di desa Jiku Kecil. Di sana terletak unit transito tapol, sebelum mereka digiring menuju unit masing-masing. Kelak unit transito ini dipakai sebagai "kamp di dalam kamp", untuk menghukum tapol-tapol yang melanggar konsinyes keras. Sebagai unit tapol hukuman, kemudian dikenal sebagai Unit Jikukecil. Sebutan yang bagiku selalu menimbulkan rasa bergidik, sama dengan nama Nusakambangan bagi angan-angan bocahku dahulu. Karena pulau itu menjadi tempat pembuangan "penjahat", termasuk salah seorang di antara mereka adalah pamanku, yang menjadi penjahat bagi pemerintah Hindia Belanda, karena mencetak dan mengedarkan uang palsu. Juga karena pulau ini menjadi tempat persemayaman para lelembut, penjaga Kembang Wijayakusuma, lambang kewibawaan raja-raja Jogya dan Solo.
*
Dengan gambaran Namlea di angan-angan seperti itu, aku siap turun feri "Kerapu II". Memandu wisatawan Willy van Rooijen, menuju Wisma Kartini, audiensi pada Pastor Namlea, mencari hotel, dan meninjau beberapa unit di mana masih ada dongkolan tapol. Kugendong ranselku, siap berjalan kaki, sama seperti 20 tahun lalu. Bedanya sekarang aku tidak membawa gulungan tikar dan bantal, jatah yang diterima tiap-tiap tapol selama "Tokala" terapung-apung di laut Jakarta - Namlea. Ranselku pun ransel 'beneran' made in Itali, bukan ransel goni made in tapol penjara Tangerang.
Apa yang kureka-reka di angan-angan ternyata tidak menjadi kenyataan. Dermaga lama bersejarah, yang pernah menerima 11.948 tapol selama kurun 1969-76 itu, ada di arah kanan sana. Tinggal berupa sisa-sisa tonggak hitam, samar-samar diselimuti kabut pagi, diayun-ayun gelombang seperti menggapai-gapai hendak berkisah tentang beribu kejadian yang pernah mereka saksikan.
Namlea sekarang bukan Namlea dua puluh tahun lalu. Kodim sudah pindah ke Mako, pasar dan pasar ikan dibangun di belakang rumah Beb Vuyk di ujung jalan sana, semua jalan dan gang sudah beraspal, rumah gaba-gaba dan atap daun sagu hilang dari pemandangan, antena-antena parabola, hotel dan bank ...
"Kerapu II" telah membuang jangkar, merapat di dermaga pelabuhan Namlea. Pelabuhan ini kecil tapi lapang, bersih dan terkesan baru. Gardu penjaga di gerbang terlihat kosong. Memang tidak ada orang berseragam serdadu satu pun kulihat. Juga di atas feri tidak. Ada empat-lima orang berseragam memang, tapi itu seragam awak kapal dan pegawai jawatan imigrasi. Ada juga beberapa orang muda, sipil berperawakan kekar, dan bercukur crew cut. Mungkin mereka memang intel. Tapi apakah aku perlu gentar pada "kemungkinan"? Bukankah aku sedar, memang sedang melakukan perbuatan yang 'nyrempet-nyrempet bahaya'? Mungkin juga mereka orang muda biasa yang gagal masuk caper. Aku lalu teringat pada, lebih 20 tahun lalu di areal Unit XV Indrapura, percakapanku dengan bocah kampung Walgan Baru. Ia bernama Jagad yang bercita-cita menjadi Tonwal, karena tonwal "punya kuasa perintah-perintah tapol"!
Salah seorang dari orang-orang yang berpenampilan intel itu memang mendekati aku, dan mengajukan beberapa pertanyaan. Ia berusaha mencari tahu, siapa perempuan bule yang "tidur denganku" di kamar mualim.
+ Mises itu sudah bersuami, Pak? Apa pekerjaan dia?
- Wah, maaf! Saya bisa memberi tahu Anda siapa nama dia. Tapi lebih dari itu saya tidak ada hak, untuk atasnamanya memenuhi keinginan tahu Anda. Lebih baik anda tanya langsung pada dia. Lebih baik untuk Mises, juga tentunya Anda akan lebih jelas dan puas.
Tanpa sepatah kata ia meninggalkanku. Kuikuti dengan mataku ia liwat di samping tempat duduk Willy yang sedang membaca Index On Censorship. Tapi ia hanya berpaling sekilas, tanpa berani menyapanya. Aku lalu meneruskan percakapanku dengan Alexander Untailawan, guru Sekolah Katolik "Savio" di Namlea, yang sedang dalam perjalanan keluarga ke Seram. Darinya aku mendapat tahu, bahwa Namlea sekarang (1997) mempunyai dua SMP (Negeri dan Katolik), satu SMEA (Al Hilal), dan dua SMA (Negeri I Negeri II). Sedangkan di "kawasan unit" terdapat SMP Negeri Mako, SMP Negeri Savanajaya, SMP PGRI Mako, SMP PGRI Unit XVII, Tsanawiyah Unit XVII, Tsanawiyah Unit V, dan SMA LKMD Unit XVI yang persiapan negeri. Dari dia aku juga mendengar tentang gaji guru sekolah negeri yang tersendat diterima, dan gaji yang satu bulan itu (kalau diterima) akan sudah habis dalam sepuluh hari. Juga aku mendengar tentang guru-guru yang mencari pendapatan sampingan, dengan akibat turunnya mutu pendidikan dan pengajaran; begitu juga tentang buku-buku pelajaran ilmu sosial dari Jakarta yang wajib dipakai, padahal tidak sesuai dengan sikon murid daerah-daerah.
Aku tak melihat lagi, di mana laki-laki berkepala cepak itu. Apakah ia menyelinap di suatu sudut, dan dengan telpon genggamnya (yang tadi kulihat di saku pantat), sibuk melapor ke Kodim di Mako? Lalu kubayangkan sebuah motorbot akan segera memburu, dan mengambil kami kembali ke Ambon!
Akh, jangan kau gelisah! Kataku pada diri sendiri. Biarkanlah semua itu. Kalau dia memang seorang intel, bukankah semuanya itu bagian belaka dari pelaksanaan tugasnya? Memata-matai, bertanya memancing, melapor, menangkap, menakut-nakuti dan bahkan menyiksa sekalipun? Apa yang nanti terjadi, hadapilah nanti. Bukankah memang begitu semestinya, jika kita menyikapi rejim Orba yang 'berdoktrin karate-isme'? Jadi jangan sekarang kamu hendak mencebur ke laut, hanya karena bayangan "kalau"!
Dengan pikiran demikian kunikmati pelayaran "Kerapu II", yang sepanjang malam terayun-ayun gelombang Laut Maluku. Kelap-kelip gugusan kepulauan di cakrawala, lampu-lampu kapal yang berlalu-lalang, hitam wajah laut berbuih-buih putih diterjang paruh "Kerapu", dan bintang-bintang bertabur di langit ...
*
Pelabuhan baru Namlea terletak sekitar 3-4 km dari pusat kota. Para penumpang, sepeda motor dan mobil ramai berebut suara dan jalan. Para penyambut dan sopir-sopir taksi di mulut dermaga membikin suasana semakin ramai.
Seorang bertubuh kekar, berwajah Jawa, berkemeja putih, bercelana panjang putih, dan (sepagi itu) berkacamata hitam, menghampiri kami. Sedetik dadaku terkesiap. Sebelah tangannya memegang kunci mobil, tangan yang lain tersembunyi di kantung pantalon. Pestol kah? Atau telpon genggam?
+ Taksi Pak?
- Di mana Wisma Kartini? Aku ganti bertanya. Sambil hendak menanam kesan: Kami orang Gereja!
+ Jauh Pak.
Jauh? Ah, bohong! Kataku di hati. Mau cari uang saja. Pelabuhan ini memang bukan pelabuhan lama. Tapi aku masih mengira tidak jauh dari pusat kota. Tapi aku tidak berani membantah. Aku harus tetap berpura-pura, ini kunjunganku pertama ke Namlea.
- Berapa kilo? Tanya Willy.
+ Sekitar 4 atau 5 kilo, Bu.
- Berapa kalau taksi?
+ Lima ribu.
- Lima ribu? Willy membantah. Tapi, menangkap isyaratku, ia urung menawar.
Kami sudah di atas taksi. Menuju Wisma Kartini. Rasanya terlalu lama jarak 5 km ditempuh. Apakah dia sopir taksi sungguhan atau intel yang menyamar, aku masih terus bertanya-tanya. Dermaga lama sudah dilalui. Warung nasi Jawa dua puluh tahun lalu sudah tidak ada lagi. Gudang bama dan gudang alat-alat Inrehab, di mana kami dulu sering korve di situ, masih kelihatan utuh dan berdiri tegak.
Taksi mengikuti jalan raya. Kalau terus, kemudian berbelok ke kiri dan menanjak sedikit, berarti menuju Jiku Kecil. Dan itu berarti markas tentara!
+ Hai Hersri! Jangan takut! Suara alter-egoku yang kudengar. Bukankah kamu telah berniat ke Pulau Purgatorio? Tanah Penyucian? Tawakal lah, agar perjalanan ibadahmu tidak sia-sia. Camkan lah, apa itu penyucian, dan hendak ke mana kamu jika penyucian sudah dilakukan.
Ya. Mengapa aku gelisah? Tanyaku pada diri sendiri. Bukankah di sini, di pulau ini, aku sudah mengalami segala kecuali mati? Ingatkah engkau, ketika Heru dan Siregar melarikan diri dari unit? Dan engkau direndam di got, dari senja sampai tengah malam, di bawah ancaman bayonet yang siap menikam dan karaben menyembur? Bukankah engkau ketika itu sudah berdiri di ambang maut, dan berani dengan mulut terkunci?
Ya, benar. Egoku berkata pada alter-egoku. Aku siap. Hai Tuan-Tuan! Tangkaplah, jika Tuan hendak menangkapku lagi! Aku pun tak akan canggung untuk kembali memegang pacul dan sani ... (Bersambung)