di kaki prambanan
1. siapa di belakang itu
membayangi langkahku
menggelapi mataku
menghitami mimpiku
aku ini pemimpi
pencari cakrawala
mata dan mimpi
tindas-menindas sendiri
hingga rindu mencari
tempat mana bisa bicara
aku ini musafir
pencari batas dunia
2. habis sudah semua tenaga
di atas bahu tinggal sebelah
malam-malam panjang
dan angin terlalu lelah
3. benarkah 'jalan tak ada ujung'
hingga lengkung langit dan hari
tinggal jadi lembaran udara
dan jika segala habis sudah
mati pun jadi sia-sia
4. jangan gelapi langitku
dengan puji dan belaian layu
biar aku di teluk sendiri
karena disitu rumahku sekarang
5. takut
lupakah kamu jalan
yang pernah aku ambil
untukmu dan aku
6. takut
apakah kamu asing segala rahasia
lupa akan perjanjian
lupa akan kata-kata kita
7. aku melihat airmataku
seperti kunang-kunang
menggelepar mencari terang
di nyala api
aku melihat
bayangan bahagia
menggigit ujungjari
aku melihat
bayangan Ibuku
belaian beludru
putih
8. aku selalu merasa
seperti ada orang lain
aku seperti darah mengalir
yang ketika kuikuti arusnya
bertanya sama sendiri:
aku ini siapa
namaku itu apa
9. kurenungi apa yang pernah terjadi
kuhidupi apa yang bisa terjadi
tubuh kleting kuning yang disiksa
para kleting sesama saudara
njerbabah memeluk tanah:
tanah negriku
sawah gunung
dan kampung-kampung
lalu aku berkata:
aku pasti mati
seperti semua orang
tapi seperti kleting kuning
tidak mati dalam siksaan
10. kembali aku merasa
seperti ada orang lain
kembali aku darah mengalir
11. tapi kali ini mengapa
aku termangu
dalam arusnya
kayumanis 25.11.97
pesan
syair-syair yang sudah
kutulis dan kubaca sendiri
hilang dan kulupakan
sebelum sempat habis
kata yang tersusun
bukan pisau bedah
bukan ujung bayonet
apalagi peluru
syair-syair yang kubaca
di gedung dan tanah lapang
atau terbit di kertas terbuang
hanya mencari kepuasan
aku bukan penempa baja
aku bukan pujangga bahasa
aku hanya kekasih hati
dan sahabat kertas
bicaralah terus engkau
tahu aku pun masih terus
jalan menuju batas
lihatlah aku pun mau terus
mencatat dan bicara
antara kita
kayumanis 02.12.97
janji
pada diri-sendiri
jika aku mesti cerita sekarang
tentang percakapan diri, dan padamu
dialah yang tumbuh dan besar oleh matahari
diteguhkan siraman hujan dan tamparan angin
jika aku mesti bicara sekarang
tentang kemerdekaan diri, dan awaslah
sekarang aku mengerti bahasa hidup
senyum dan keteguhan di depan lalim
adalah hakku membangun keangkuhan
dan melempar kembali laknatmu, ketahuilah
jatuh dan bangun itu jalan dan haridepanku
(dari catatan 1962)
di depan pusaramu
untuk jitske
apa yang kukerjakan, istriku
kualirkan tawamu di dalam darah
apa yang kulestarikan, istriku
kunyanyikan lagumu di mana-mana
kockengen 19.2.1998
(versi98 sajak62)
Hersri Setiawan:
Buru Pulau Purgatorio
Sesudah 20 Tahun
(dialog antara ego dan alter-ego)
II
SEKARANG aku sudah di Jakarta, kota megapolitan. 21 November 1997. Kutelpon kawan lama. Sebut saja seorang demang di kawasan Wi-Ragunan Jakarta Selatan. Di masa muda kami sama-sama cantrik, dari pendekar persilatan Mataram: Gajah Permada.
+ Mas Demang. Aku sudah di kotamu sini. Mau pamit.
- Lho, lhadalah! Mau ke mana Dhi Lurah? Oleh Mas Demang ini, dan juga kerabat-kerabatnya, aku diberi gelar "Lurah Kokengen".
+ Ke Malvinas. Jawabku.
- Gandrik! Terdengar nada suara yang kaget. Sampéyan 'tu gimana to, Dhi Lurah? Belum saatnya, belum ...!
+ Lha yang sampéyan bilang saatnya 'tu kapan?
- Lha ya nanti dong ..., mbok ya sabar sedikit! Suara Ki Demang makin mendayu.
+ Sabar sih sabar, tapi itungannya gimana? Suaraku jadi sengit.
- Lha ya nggak bisa diitung to Dhi! Gimana, wong sembarang kalir serba nggak transparan? Jadi ya pake intuisi aja. Model Gendeng Pamungkas gitu lho!
+ Wo lha kalow model gendeng-gendengan pake intuisi, sih, intuisiku bilang: Tunggu kapan lagi, Bung!?
- Wah sampéyan itu! Dari dulu kok sukaknya vivere peri coloso ..., kayak Bung Karno saja!
AKHIRNYA berangkatlah kami. Aku dan Willy van Rooijen, wartawan Onze Wereld. Sebagai Dhongkolan Tapol Buru (Dhongkolan = Mantan; Eks) aku perlu orang kedua untuk menyertai 'perjalanan kesaksian' ke tanah suci ini. Memang, bulan April 1997 lalu Kompas sudah bisa masuk Buru tanpa perlu ijin khusus. Tapi itu Kompas! Begitu pikirku. Koran paling bergengsi di seantero tanahair, lagi pula koran nasional, "sebangsa dan setanahair". Sedangkan kami? Kami cuma turis-turis berpaspor Belanda. Yang satu bule, Belanda totok beneran. Dan aku? Aku Belanda hitam kelahiran Yogya (terbaca di paspor); dan kalau buka suara bergaya Jawa medhok. Ditambah lagi Negeri Belanda, jika bicara tentang HAM di Indonesia, terkenal paling besar mulutnya. Padahal ya cuma mulut doang!
Jadi, karena itu, peranan Willy dalam perjalananku ke 'Pulau Malvinas' ini memang besar. (Terimakasih Wil!).
Mengingat pengalaman Kompas tersebut, mungkin saja untuk kami pun tidak akan diberlakukan aturan khusus. Bukankah kami cuma wisatawan? Sedang wartawan pun sudah boleh kusak-kusuk di sana. Tapi siapa tahu, buaya-buaya muara Wai Apo akan menyambarku diam-diam? (Perangai buaya memang selalu diam-diam bila menyergap mangsanya). Karena itu aku lalu ingat (dan ingin meniru) Jaka Tingkir, ketika menyeberangi Kedhung Srengéngé, hendak masuk untuk menghancurkan Kerajaan Demak dari dalam. Aku pun perlu bantuan pengawalan buaya. Sampan Radèn Jaka Tingkir didukung dan dikawal empat puluh buaya. Tapi aku cukup satu saja. Tapi buayaku buaya putih! Buaya raja lagi sakti, di tengah-tengah buaya-buaya hitam. Seperti kata dongeng Aji Saka, bajul putih tidak bisa dikalahkan, tapi hanya bisa didesak mundur, masuk laut untuk sementara.
*
Dari Bandara Pattimura Ambon, dengan taksi (tiga puluh lima ribu rupiah), kami langsung ke Keuskupan Ambon. Menemui Mgr. Andreas Sol MSC (83), Uskup Emiritus Amboina.
Sejak memulai tugasnya Monsinyur Sol, rohaniwan kelahiran Amsterdam ini (1915), terus-menerus di Maluku Tenggara. Ketika masih sebagai pastor muda (1946), sampai sesudah ditahbiskan sebagai Uskup (1964) dan sejak mundur dari jabatan Uskup (1994), sampai saat sekarang (1998). Lebih dua-pertiga usia (1915-1946:1946-1998) Romo Sol "makarya" di Maluku. Dengan demikian, maka Rohaniwan ini pun salah seorang saksi-mata di sepanjang "jaman tapol". Ada dua dongeng tutur yang menarik dari Monsinyur ini. Yang satu kisah tentang "Pahlawan Sopi", menurut penuturan Pastor Rovink, yaitu tentang seorang Sersan yang mabok-mabok minum sopi. Ia mati terbunuh dalam perkelahian dengan sesama anggota pleton kawal, tapi dikubur dengan upacara kebesaran militer dan sebagai pahlawan. Kisah kedua tentang dua Suster di Namlea, yaitu Suster Cecilia dan Suster Fransisca, yang mendapat julukan para tapol sebagai Dan dan Wadan "Unit XXI". Entah dari mana angka "XXI" diambil, karena unit-unit tapol yang ada ketika itu hanya Unit I s/d Unit XVIII, ditambah Unit Ancol, Unit R, Unit S, dan Unit T. Tapi julukan Komandan dan Wakil Komandan, karena dua suster ini terkenal berani dalam membela kepentingan tapol. (Kedua Suster pemberani itu sudah tutup usia di Ujung Pandang; sedangkan Pastor Rovink, yang dipersona non grata dari Indonesia itu pun, sudah meninggal di Amerika Latin).
Pada Mgr. Sol ada manuskrip buah-pena seorang Tapol anonim, bertanggal 20 Mei 1978. Naskah ini berjudul Dari Masa Ke Masa (388 hlm., belum selesai). Entah bagaimana ceritanya, tentu merupakan kisah tersendiri, manuskrip ini sekarang tersimpan di antara sekian ratus dokumentasi dan 1.200 judul buku-buku koleksi (baik kunamai saja:) "Perpustakaan Monsinyur Sol". Perpustakaan ini bernama Perpustakaan "RUMPHIUS" Keuskupan Amboina (2x3 meter), yang sejak didirikannya (1961) dikelola Mgr. Sol pribadi sampai sekarang.
*
Aku dan Willy menemui Romo Sol dengan maksud mencari bantuan pengayoman. Karena, menurut hemat kami, peranan pengayoman (khususnya kerohanian tapi juga keduniaan) merupakan fungsi utama baik bagi para rohaniwan maupun juga para pemimpin sekular pada umumnya.
Bantuan pengayoman yang kami harap dari Romo Sol berbentuk benda kongkret. Yaitu surat untuk Pastor atau Suster di Namlea sehelai saja, yang berisi agar Gereja di Namlea mengetahui dan mengayomi kami selama di sana. Secarik kertas kecil saja yang diberikannya kepada kami, tapi besar wibawa karismanya bagi penerimanya.
Tujuan pokok kami (aku, terutama), untuk menengok kembali unit-unit. Khususnya Unit IV, Unit XIV dan Unit XV, di mana aku pernah bermukim dan akrab. Walaupun di sana masih ada teman-teman yang kukenal, tetapi tidak terpikir aku untuk menginap di salah satu rumah di unit-unit itu. Apalagi aku datang bersama seorang perempuan kulit putih, yang tidak fasih berbahasa Indonesia, membawa alat-alat pemotret, alat-alat perekam suara, bloknot dan bolpen! Rasanya hanya akan memancing perhatian yang, jika menjalar, sangat gampang berkembang menjadi kecurigaan. Sementara itu aku teringat, di Desa Savanajaya (semula Unit IV Savanajaya), di jaman tapol dulu, ada beberapa "warga" (istilah resmi untuk tapol penghuni unit-unit, yang dilazimkan sejak sekitar 1976) yang digolongkan oleh sesamanya sebagai cecunguk, atau setidak-tidaknya penjilat penguasa. Termasuk mereka itu di antaranya (bukan nama sebenarnya) Masri, Kartijo dan istri dan satu-dua orang lagi.
*
Pendek cerita tanpa melalui tatacara birokrasi, tidak seperti lazimnya di Indonesia jika orang berurusan dengan kertas, secarik surat pengayoman sudah kami terima. Tidak sekeramat "Serat Kalimasada" tentunya, tapi barangkali tidak kalah harkatnya dibanding dengan Surat Kepercayaan Dutabesar. Bagi kami surat ini ibarat tambahan "sipat kandel" (penebal rasa percaya diri) alias "amulet". Amulet-amulet yang sudah di tangan kami sebelumnya berupa buku-buku novel kecil karangan Beb Vuyk, penulis Belanda yang pernah tinggal di Namlea. Siapa tahu, daya gaib semua amulet itu menjadi semacam benda-benda regalia raja, yang sewaktu-waktu dapat digunakan bilamana perlu. Beb Vuyk dan karangannya bisa kami gunakan sebagai alibi, jika ada mulut usil mencari tahu, mengapa kami berkluyuran di Buru. Sama seperti ketika aku masuk Indonesia untuk pertama kali. Aku singgah di Pulau Penyengat. Mengunjungi reruntuk bangunan dan makam keluarga raja-raja Melayu Riau-Johor, khususnya makam Raja Ali Haji tokoh Gurindam Dua Belas (1846) yang masyhur itu.
Satu pesan Romo Sol berupa nasihat, agar kami tidak mengaku diri sebagai wartawan, melainkan sekedar wisatawan. Sama "wan"-nya, tapi hanya dari kalangan orang "wisata" dan bukan orang "warta". Walaupun aneh juga sebenarnya. Jauh-jauh datang dari Belanda, kami tidak berwisata ke Bali atau Toba yang terkenal, melainkan ke Pulau Buru yang bersejarah hitam! Batu-batu hitam sisa-sisa prasasti dari "Jaman Perbudakan" Orde Baru, yang berserakan di Namlea dan di unit-unit pasti masih ada. Itu semua jelas, di samping merupakan objek-objek berita besar (karena itu pastilah perihal peka bagi telinga tentara), juga bukannya bukan objek wisata sama sekali. Kecuali jika wisata terbatas diartikan pada panorama indah, kuil-kuil kuno, dan benda-benda dan pernyataan-pernyataan adab serta budaya eksotis lain-lain semacamnya. Namun, mengingat pesan Romo Sol tersebut, semula aku ragu-ragu membawa alat-alat pemotret dan perekam suara. Tapi ibarat tentara maju perang, semua senjata harus dibawa. Mana yang nanti akan dipakai, bergantung medan dan lawan yang akan dihadapi. Cuma kamera video dengan berat hati memang tidak kubawa (yang belakangan sangat kusesali!). Pertama, untuk tidak memancing kecurigaan mata usil sejak pandang pertama; kedua, untuk tidak menambah lebar jarak antara aku dengan kawan-kawanku yang masih tinggal di unit-unit.
*
Sebenarnya Ambon-Namlea juga dihubungkan melalui udara, yaitu dengan pesawat Cassa 212. Tetapi karena jarangnya penumpang, jadwal penerbangan menjadi tak menentu. Seandainya menentu sekalipun, aku tetap lebih suka jalan laut ketimbang jalan udara. Pertama, tidak terlalu jauh dari pengalamanku awal tahun 70-an, ketika kami diangkut sebagai tapol dari Tanjungpriok ke Namlea; kedua, masih ada pemandangan laut dan suasana feri bersama berbagai macam penumpang, yang sedikit banyak bisa dilihat dan dirasai; dan ketiga, kami berdua bukan wisatawan berdompet tebal.
Senja itu kami ke Galala, pelabuhan feri Ambon-Namlea. Jam delapan petang feri bertolak, dan akan mendarat di Namlea sekitar jam tujuh esok hari berikut. Hubungan laut dilakukan dengan dua buah feri, "Kerapu I" dan "Kerapu II", tiap malam bergantian bertolak dan tiap pagi bergantian berlabuh. Harga karcis sekali jalan Rp.9.600,=, ditambah sewa "kasur" Rp.4000,=. Yang dinamai "kasur" ini berupa amben kayu lebar, beralas plastik setebal kain terpal, dibagi-bagi masing-masing berukuran lk. 50 x 200 Cm, berderet-deret dan bersusun dua. Di samping itu setiap penumpang dikenai lagi bea masuk pelabuhan Rp.200,=. Jika ingin tidur di kamar (200 x 300 Cm), tentu saja tidak perlu lagi membayar sewa "kasur", kita harus membayar Rp.40.000,=. Ada empat kamar awak kapal yang semuanya disewakan untuk penumpang. Masing-masing kamar bertempat tidur sepasang bersusun, yang benar-benar dengan kasur dan bantal kapok.
Sungguh ramai suasana di feri. Sebagian besar penumpang para pedagang (tengkulak), petani (transmigran), dan sedikit saja tampak pegawai negeri, dan penumpang biasa yang hendak ke pulau-pulau Maluku lainnya. Para pedagang dan petani itu membawa barang-barang klontong dari Ambon; dan hasil bumi, ternak dan hasil hutan (termasuk burung nuri) dari Buru. Sebelum feri bertolak suasana ramai hingar-bingar, penuh teriakan para penjaja makanan, minuman rokok, dan buah-buahan. Mereka anak-anak lepas balita, anak-anak dewasa, dan ibu-ibu muda. Minyak kayuputih satu botol bir Rp.13.000,=, air "Aqua" satu botol kecil Rp.1.500,=, telur rebus Rp.2.500,= dua butir, salak pondoh Rp.500,= satu buah. Ketika feri sudah diayun-ayun laut, dan semua penumpang mulai berbaring, dari tempat tidurku aku mencium aneka macam bau menjadi satu: durian, kayuputih, pakaian dekil, pesing toilet dan keringat yang menyengat. "Ambon pulau paling panas!" Masih terngiang di telingaku kata sopir taksi siang tadi. Bangga nada suaranya dalam mengucapkan kata "paling", entah dibanding dengan pulau-pulau mana. Tapi aku ingat, 25 tahun lalu lebih, betapa panas (34°-36° C) di Buru di musim kemarau. Dengan sekali ayun saja, tajam pacul belum mau menghunjam ke tanah. Melainkan melontar bunyi denting, seperti dua logam saling berlanggaran, sambil mengalirkan semacam arus "listrik" dari genggaman tangan menjalar sampai ke pangkal lengan. (Bersambung)
Hersri Setiawan:
Buru Pulau Purgatorio
Sesudah 20 Tahun
(dialog antara ego dan alter-ego)
III
"KERAPU I" ini berkapasitas penumpang 350 orang. Barangkali sedikit lebih kecil saja dari KM."Tokala", yang hampir 30 tahun lalu dipadati 850 tapol, berlayar dari Jakarta ke Namlea. "Tokala" kapal pengangkut ternak itu mempunyai entah berapa banyak palka. Termasuk geladak, barangkali bersusun empat.