Hersri Setiawan:
Buru Pulau Purgatorio
Sesudah 20 Tahun
(dialog antara ego dan alter-ego)
(I)
+ Bung Sobron! Kataku satu hari di telpon. Mau pamitan nih. Gue mau ke tane suci!
- O, ye? Bener?! Nada suaranya kudengar heran bercampur kaget.
+ Masak telpon mahal-mahal buat ngebohong sih!
- Ah, sori. Alhamdulile. Bagus, bagus sekali. Gue sokong. Mudah-mudahan semue-mue lancar. Dan gue kecipratan berkahnye.
+ Mekasi. Tapi tane suci gue mah, bukan Rome bukan Meke lho!
- Nah lu! Lantas ke mane dong?
+ Buru! Buat kami pulo itu 'pan pulo purgatorio?
- Busyet! Kayak Dante aja sampeyan!
PULAU BURU, sudah sejak mula jadinya, barangkali tidak pernah dikenal lebih dari sebuah noktah di atas peta kawasan Maluku. Walaupun noktah ini terlukis lebih besar ketimbang Pulau Bali, apalagi Ambon, yang "ibu negeri Tanah Maluku" itu.
Buru, sudah sejak sebelum Perang Dunia II, di samping Ambon, merupakan pulau utama penghasil minyak kayuputih. Produksi sagu, yang diperdagangkan di pasar-pasar di Jawa dengan sebutan "Sagu Ambon", sesungguhnya lebih banyak mengalir dari rawa-rawa sagu Pulau Buru. Sagu dari (rawa-rawa) Tui, yang di "jaman tapol" termasuk areal Unit XIV Bantalareja - di mana aku pernah bermukim beberapa tahun -, dikatakan orang setempat sebagai sagu yang paling enak. Tapi oleh tandusnya sebagian besar tanah untuk dicetak menjadi lahan pertanian (kecuali Lembah Wai Apu), serta panas teriknya sengatan matahari, miskinnya binatang buruan, buah-buahan dan umbi-umbian liar di hutan-hutan dan semak belukarnya (karena itu tidak ada kera, dan ular sawah pun langka adanya), jarangnya penduduk dan 'keterbelakangan' budayanya, jauhnya jarak dari pulau-pulau sekitar, semuanya itu menjadi faktor penyebab Pulau Buru terisolasi dari lalu lintas dan tak dikenal dalam 'pergaulan'. Namun sebaliknya, justru oleh "sikon"-nya yang begitu itulah, rejim Orba RI dengan tepatnya telah menjadikannya Pulau ini sebagai "tanah buangan" bagi orang-orang tahanan. Buru menjadi sama seperti "Sélong" di jaman VOC (dari kata Ceylon, Srilangka sekarang), atau "nDigul" di jaman Hindia Belanda.
Demikianlah. Tiga tahun sesudah rejim Orba berkuasa Pulau Buru dibuka sebagai "Pulau Tutupan" (tutupan = tahanan), dan karenanya menjadi pulau tertutup. Di sana sepanjang tahun 1969 - 1976 telah dibuang, oleh rejim Orba, sebanyak tak kurang dari 11.948 orang tahanan politik G30S-PKI. Sejak itulah Buru menjadi dikenal dan bahkan terkenal di seantero benua. Kata "Buru" menjadi sama dengan "nDigul" atau "Sélong", yaitu tempat buangan bagi pemberontak dan pembunuh dan komunis! Kata "disélong" dari jaman VOC sama dengan "dindigulkan" di jaman Hindia Belanda, sama juga dengan "diburukan" di jaman RI-Orba. Tiga kata itu mempunyai arti setali tiga uang saja: dibuang.
Maka di balik bunyi sepatah kata "buru" ini lalu timbul daya gaib (di "jaman pantun" inilah yang disebut Van Ophuysen sebagai "magi bahasa"). Ada magi yang berdaya hitam menyeramkan, seperti pada kata "buru" itu, misalnya; ada magi yang putih mempesona, seperti pada "putri sagu", misalnya (begitulah bayanganku ketika pertama kali aku membelah batang sagu di tengah rawa Tui yang sunyi mistis). Karena itu aku paham jika sekarang di Jawa, justru oleh sementara kalangan ET (eks-tapol), daya gaib yang seram itu mereka coba untuk diperlembut. Ini hanyalah petunjuk, bahwa betapapun juga suasana 'traumatis' dari jaman tapol itu belum lagi hilang. Malahan, kalau boleh meminjam bahasa Freud, suasana traumatis itu sudah "mengendap dalam bawah sadar". Kata "Buru", oleh kawan-kawan se-ET di Jawa, telah mereka ganti dengan kata "Malvinas". Nama gugus kepulauan di seberang pantai timur petitnya benua Amerika Selatan itu.
Orang-orang Orba, khususnya para dedengkotnya seperti Suharto-Sudomo-Sumitro (Jendral), tentu tidak menduga bahwa tapol-tapol buangan itu mampu survive. Padahal tenaga mereka diperas habis-habisan, terkadang dari jam 4 subuh sampai jam 12 tengah malam berikut. Padahal hidup di bawah syarat minimum dan di pulau sarang malaria! (Tapol Buru malahan punya istilah pengganti untuk "menggigil karena serangan malaria", yaitu "naik honda". Juga ini tergolong magi bahasa tentunya).
Pada ingatanku masih jelas tergambar, ketika kami dari dermaga Namlea oleh para serdadu pengawal diperintahkan berkakeas (berlari-kecil) menuju unit transito Jiku Kecil. Liwat di depan rumah penduduk (yang berdinding gaba-gaba atau plupuh) di sana-sini, di sepanjang jalan sekitar 5 Km itu tampak mata mata mereka mengintip kami dengan sorot ketakutan.
Di relung telingaku, sampai sekarang pun, masih nyaring saja terdengar suara kata-kata Dantonwal (Komandan Pleton Pengawal), yang menggiring kami dari Desa Sanleko menuju ke lokasi Unit XIV Bantalareja.
"Nah. Di sinilah tuan-tuan akan tinggal dan bekerja. Selama-lamanya sampai tuan-tuan mampus satu satu!"
Kami harus mampus. Atasnama dan demi Perikemanusiaan Pancasila Sakti. Karena itu harus mampus tidak oleh regu tembak atau algojo tiang gantungan, melainkan oleh siksaan, kerja paksa, kelaparan, dan ganasnya alam. Ternyata mereka salah hitung. Tapol-tapol itu tetap menthèlès. Lebih dari itu, mereka seakan-akan bahkan lalu bertiwikrama. Seperti dari kawah pelebur Candradimuka bayi Bandung Bandawasa atau Gatotkaca keluar sebagai pemuda-pemuda ber-"otot kawat balung wesi". Buru, bagi tapol, menjadi ibarat pulau purgatorio. Di sanalah mereka menjadi "bersih", dan karenanya pula "perkasa".
Tapol-tapol itu bukan tunduk menyerah pada "keputusan nasib". Mereka seakan-akan bahkan menantang. Seperti kata-kata Iqbal, yang pernah kukutip, melukiskan:
Engkau menciptakan malam, dan aku membikin pelita
Engkau menciptakan tanah liat, dan aku membikin tembikar
Engkau menciptakan gurun, gunung dan belantara
Dan aku membuka sawah, ladang dan kebun buah
Akulah yang mengubah batu karang menjadi cermin
Dan racun jadi penawar
Buru ternyata berkembang tidak sesuai dengan rancangan. Yang mereka rancang, menggali lubang kubur komunis. Tapi yang tumbuh padi dan palawija, meranti dan kayuputih, sagu dan gula. Buru tidak menjadi "Pasétran Ganda Mait" (Negeri kerajaan Batari Durga; harfiah berarti "Kawasan Berbau Mayat"). Sebaliknya dengan amat cepat telah berubah, Buru menjadi tulangpunggung "hidup mati" Provinsi Maluku.
+ Sejak kapan Buru ramai begini, Pak? Tanyaku pada Pak Alex, guru SMP Katolik Namlea.
- Sejak 1969, ketika tapol dari Jawa mulai di sini. Lalu makin pesat sekitar sepuluh tahun kemudian. Yaitu sesudah tapol dibebaskan, dan transmigrasi banyak didatangkan.
Jawaban itu begitu lancar diucapkannya. Tanpa takut dan tanpa dikarang-karang. Isi dan nada jawaban yang sama juga kudengar dari Pak Patty, Komis Kantor Pos Namlea; Agus, "room boy" Hotel "Duta Nusantara" Namlea; Tante Lily, pemilik restoran dan karaoke "Lily" Namlea; dan barang siapa pun yang ketemu di jalan dan disodori pertanyaan yang sama.
Sebelum jaman tapol Pulau Buru baru mengenal pertanian huma. Berladang pun belum dikenal, apa lagi bersawah. Di jaman tapol (1977) tercetak lahan sawah seluas 1.766,4846 HA. Di jaman transmigrasi sekarang luas lahan sawah 2.544 HA (1990), dan produksi beras sekitar 44.040 ton tiap tahun. Sebelum jaman tapol (pra-1969) tidak ada kendaraan apa pun. Di awal jaman tapol (1970) hanya ada satu jip, kendaraan Dan Tefaat (Mayor Rusno dan kemudian Letkol Rangkuti). Pada "akhir jaman tapol" (1980) sudah ada puluhan "Daihatsu" sebagai sarana angkutan umum dalam kota Namlea. (Seorang sopir trayek Jiku Kecil - Namlea yang kutanya bahkan menyebut angka: 200!). Ketika itu jarak tempuh Daihatsu ini paling jauh mencapai Siahoni (± 15 Km), sedangkan sekarang (1990) jarak tempuh itu sudah mencapai Tifu (68 Km) dan Wainibe (77 Km). Entah berapa ratus kendaraan angkutan umum berlalu lalang sekarang, tidak ada orang yang bisa memberi jawaban pasti.
Sejak jaman tapol Buru telah menjadi lumbung padi dan tambang "mas merah". (Sebutan lazim di kalangan penguasa unit tapol untuk kayu meranti merah waktu itu). Tapi citra buruk yang sampai sekarang sudah terlanjur terpateri padanya, notabene sebagai konsekuensi logis rancangan mereka sendiri, tidak gampang untuk ditiadakan. Maka berkatalah drs. Muhamad Tatuhey, Camat Buru Utara Timur yang juga Koordinator Pemerintahan Pulau Buru: "... Itu salah besar. Justru Pulau Buru sekarang jadi sorotan, karena diproyeksikan akan menjadi pulau sumber pangan, khususnya beras, bagi Provinsi Maluku."
Antisipasi tersebut di atas sebenarnya sudah tumbuh pada menjelang akhir jaman tapol. Yaitu dalam akhir 1970-an, ketika berangsur-angsur tapol mulai "dikejawakan" (kecuali yang memilih tetap tinggal, sengaja atau akibat "bujukan" - baca: "tekanan"). Itulah sebabnya Brigjen Wing Wirjawan, Laksus Pangkoptamtib Daerah Maluku selaku Ketua Pelaksana Brapreru ketika itu, tidak mendukung politik Pemerintah Pusat sepenuhnya. Pengubahan sebutan "tapol" menjadi "warga", dan "pengembalian" mereka "ke masyarakat": ya. Tapi pengembalian mereka ke Jawa? "Nanti dulu", atau cenderung "tidak!" Tidak tedeng aling-aling karenanya, ketika sekitar 1-2 tahun sebelum keluarga tapol dari Jawa disusulkan (1974), Dan Unit XIV Bantalareja Yusin Zainal pada suatu brifing pernah memberitakan "rencana Jakarta" untuk (mengikuti kata-kata mereka:) "mentransmigrasikan wanita-wanita tuna susila dari Kramat Tunggak" (sic!). Ya, justru "wts Kramtung"; dan bukannya para tapol perempuan dari Plantungan. Berkat tentangan Gereja dan "Mesjid" Rencana Jakarta itu menjadi urung.
Jadi jelas tidak kebetulan, jika rombongan tapol tahun kedua tapol yang dikapalkan ke Jawa, sudah "bersimpang jalan" dengan rombongan pertama transmigran yang dikapalkan ke Buru. Itu terjadi pada akhir tahun 1970-an.
Sudah tentu dalam rangka menghapus citra hitam Pulau Buru yang demikian itulah pula, maka pada pertengahan Januari 1998 lalu di Unit Mako telah dilangsungkan acara dan upacara "Panen Raya". Memang "hanya" seorang Menteri yang ternyata akhirnya datang. Tapi, seandainya Jakarta tidak sedang demam tinggi oleh krisis moneter, dan Suharto tidak sakit berat, dikabarkan dia sendirilah yang semestinya memimpin acara dan upacara itu.
Panen Raya di 50 HA sawah di Unit Mako. Di tengah seluruh unit sedang dilanda kekeringan, dan sawah-sawah dibiarkan tak tergarap, akibat delapan bulan tidak turun hujan. Itu bukan pertunjukan dagelan, yang memancing tertawa sehat para petani Buru. Tetapi suatu ironi hidup yang menggugah protes seandainya orang berani. (Bersambung)
gugatan
taruna ngantung
seperti kami ini
asing sekarang
sendiri berdiri di sini
memang lain dari saudara
di sana ada cap et di ktp
sedang kami di sini
bukan cap et tapi
dua kata yang bikin seram
unit dan buru
lalu jadilah kami sekarang
seperti barang bekas
seperti barang rongsokan
orang buangan yang terbuang
bukankah negri ini kita punya?
bukankah dunia ini kita punya?
bukankah namlea dan jakarta
cina dan india
arab dan roma
belanda dan amerika
semua
itu kita punya
tapi dua patah kata
unit dan buru
bikin hilang segala
hilang
juga kami sendiri
selain tanah kering
tenaga tua
dan napas aus
lalu jadilah sekarang
benar ramai di sini
tapi terasing dan sendiri
lalu terjadilah sekarang
hanya kalian punya bicara
tentang arti kata punya
tentang isi semua kata
maka terjadilah sekarang
segala hilang dari kami
selain sisa suara komando
dan bayangan bedil tentara
namlea 24.12.97
pertemuan
cak muid dan istri
air mata itu
bening
menggenang
suara jeritan itu
hilang
di bibir
haru
gembira
duka
segala cita
segala rasa
bersatu
dalam
teluk kayeli
kelabu
gunung palatmada
rahasia jaman
tersimpan
berebut bicara
savanajaya 21.12.97
percakapan di taksi
belum pernah kudengar cerita
tentang operasi isi kepala
cuma karena sering merasa posing
tapi itu memang bisa di jakarta
belum pernah kudengar berita
tentang operasi pembuluh dada
cuma karena napas sedikit bau
tapi itu bukan mustahil di jakarta
belum pernah kudengar cerita
perintah pembakaran buku-buku
cuma karena ada ngengat yang sembunyi
tapi itu cerita sehari-hari di sana
tak ada yang aneh jika ada beredar kabar
tentang vonis hukuman mati pengadilan
cuma karena orang mencerca petinggi negri
terlalu sering pula sudah beredar kabar
tentang penduduk negri yang tak terbilang
dipenjara dan mati karena berani bicara
sepatah kata benar
kayumanis 10.12.97
istriku
di atas gurun gobi
Sekali peristiwa kutangkap bayanganmu
aku seperti di dalam pelukan abadi
berkas-berkas rasa bahagia surgawi
tapi yang abadi itu ada di dalam kita
Barangkali hanya yang hidup tanpa percaya
mereka orang-orang yang patut dilaknat
tapi di depan perangai tabularasa
siapa saja bisa dilaknat
Betapa bisa aku akan melukiskan kamu
selama ada dinding di antara kamu dan hidup
hanya kepercayaan yang bisa melukiskan kamu
hanya yang percaya bisa melihat butir-butir
nafasmu
Bukan topangan kaki dan uluran tangan,
sungguhnya
bukan juga segala rupa-rupa hidup ini
yang aku perlu daripadamu, cuma
uluran hati dan topangan cinta semata
- maafkan aku, ya Istriku
jika kelemahan adalah dosa
rasa terhempas di luasnya semesta -
Kamu yang ruh, dan aku yang berjasad
tentu mustahil lepas dari pelukanmu
bahkan lubang telinga Ruci, dewa sekelingking
terlalu lapang bagi Bima yang seanak gunung
Semakin aku pikir semakin sendiri. Sepi
di luar jendela lautan langit tanpa tepi
semakin nyata bayanganmu di sana. Sunyi
di dalam selimut awan lembut putih.
di udara 1997
dari dalam bis
cengkareng-rawamangun
di lepas senja
ketika datang di ibukota
angin debu mengusap wajahku
di sela celah-celah simpang siur
merebut ruang dan waktu
di sepanjang kaki-kaki mereka
langkah-langkah orang bertahan
tenggelam semua di ruang waktu, begitu
sepi tapi gemuruh
kosong tapi menindis, seolah
ibukota empatlima telah tandus
ketika dua pengamen tiba-tiba
melompat masuk lalu menyanyi
terdengarlah suara pemberontakan
dan getirnya kehidupan
- hilang gemanya di bawah bayangan
seribu pencakar langit berkilatan
tenggelam semua di ruang waktu, begitu
keluh kesah orang-orang lemah
di tengah-tengah ibukota yang miskin
tegur sapa persaudaraan
rasa apa lagi masih tersisa
habis sudah segala perhitungan
dan kearifan jêr basuki mawa béya
di sini tak ada lagi yang kupunya
selain ingatan tentang malam-malam pekat
dan kelap-kelip bintang di langit
serta penggalan-penggalan keindahan mimpi
di sini tak ada lagi yang kupunya
di atas tanah dan di bawah langit
selain ingatan tentang waktu
di depan pandangan mataku
hanya ada satu
yaitu keakanan:
- ingatan masa lalu
impian masa depan
kayumanis 13.12.97
nyekar
semua kata yang terucapkan
datang dari satu
rasa yang tiba-tiba
jika mata berlinang
itulah doa yang telanjang
- berlintasan waktu lalu
hari-hari sarat
hidup mati hidup
tahu engkau betapa
musim kemarau sangat panjang
angin barat dan sabungan guntur
bikin keberanian jadi lumpuh
- itu tidak padamu
memang
juga tidak padaku
jika sentuhan dengan arwah
sekali bisa terdedah
bicaralah kalian semua
- tumbal-tumbal sejarah
yang bersama awan-awan
sekarang berarak terbang
di lembah waibini
di puncak kakibotol
engkau saudara-saudaraku
apa yang sekarang bisa
kubisikkan padamu
tidak ada kata sudah
tidak darimu
tidak padaku
kuburan xiv-iv
23.12.97
di ibukota
Tiga puluh tahun lalu
mengendap-endap aku
di runtuhan puing-puing
amok kami-kappi dan tentara
bersama debaran rasa
takut
disergap mata-mata kalong*
Ketika pembantaian merajalela
sembunyi di mana bisa
jika jakarta menjadi musuh
bersama debaran rasa
takut
ditangkap mata-mata datong**
Sekarang ini
tiap aku keluar rumah
seperti pengembara
hilang bayangan rasa
takut
bersama gelombang
kaum pembangkang
catatan:
* operasi kalong, jaringan intel angkatan darat
** datong sudiarto, staf ccpki yang jadi cecunguk
kayumanis 1.12.97
suara hutan walgan
kami yang terkubur di hutan walgan
satu ruh di kolong langit
Tika bin Dina terkapar di sabana
ketika hari jadi gelap
langit penuh jadi tumpah
dar der dor karaben
bukan salvo buat jenazahmu
cacimaki cukimai
memang lebih layak ketimbang doa
kami yang terkubur di hutan walgan
satu ruh di pelukan tanah
pecah kepala Miskun
seperti babi di kusu-kusu
ketika mata tonwal jadi gelap
sekarung jagung terlalu mahal
dari hidup seorang tapol
dar der dor karaben
bukan salvo buat jenazahmu
cacimaki cukimai
memang lebih layak ketimbang doa
kami yang terkubur di hutan walgan
satu ruh di palung lautan
tanpa daya Suroto bertahan
seperti kole-kole digulung gelombang
ketika peti-peti sarat peluru
harus didukung di atas punggung
dar der dor karaben
bukan salvo buat jenazahmu
cukimai cacimaki
memang lebih layak ketimbang doa
sabung bersabung
petir di langit
pandang memandang
mata di barak-barak
walgan 22.12.97