Sajak-Sajak Asahan Aidit

 

KUMPULAN SAJAK ASAHAN AIDIT

 

"23 SAJAK MENANGISI VIET TRI"

 

 

PERHENTIAN DI KILOMETER 23

 

Ketika kau masih kasar

Masih berbentuk

Cinta yang kami berikan

Juga masih kasar

Adakalanya peringatan

Kecemasan

Juga terkadang umpatan dari ibumu

Mungkin juga bagimu

Kami ini orang orang kasar

Yang telah melahirkan

Seorang putra yang juga kasar

Semua kita orang orang kasar

Manusia adalah mahluk kasar

Mereka hidup di dunia yang kasar

Kehidupan begitu keras dan kasar

Sayang

Terlalu halus hatimu

Kehalusan adalah sahabat kerapuhan

Karnanya kau telah dihentikan

Di kilometer dua puluh tiga

 

17698

 

 

 

 

 

 

 

Asahan Aidit

 

SIAPAKAH KAU SEBENARNYA

 

Kami hanya melihat cinta

Setelah kehilanganmu yang tiba tiba

Siapakah kau sebenarnya

Tidak sekedar anak dari ibumu

Atau putra dari ayahmu

Buta dan tuli masa lalu

Tak sanggup

Meraba jantungmu yang mencari

Sekarang

Ketika kau

Menjadi begitu teramat penting

Hidup ini telah kehilangan warna dan makna

 

16698

 

Asahan Aidit

 

PESTA TERAKHIR DAN PERTAMA

 

Setelah mulut dan matamu terkatup

Dering tilpon bersambung hingga larut

Pesta terahir untukmu

Dan juga yang perdana

Tahulah kami apa yang akan terjadi

Waktu dan ruang telah menghadiahkan

Warisan agung darimu

Sepi yang abadi

Indah tapi juga nyeri

 

16698

 

 

 

 

Asahan Aidit

 

PULANG KERJA LEWAT GEREJA PUTIH

 

Hari ini aku lewati lagi

Rumahmu yang baru

Chao Con!

Dalam deru motor

Kudengar jawab mesra darimu

Chao Bo!

Aku tahu kau telah menjadi milik Tuhan

Namun tegur sapa masih akan kita teruskan

Harta yang kautinggalkan cuma sebuah nama

Viet Tri

Timbanglah ini cinta dari kerajaanNYA

 

14698

 

"Chao Con" (bahasa Vietnam) adalah tegur sapa yang berarti:

"Apa kabar, anakku?"

"Chao Bo" (bahasa Vietnam) berarti: "Apa kabar, Pa?"

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asahan Aidit

 

ANUGRAH YANG TERCURI

 

Kita adalah

Orang orang yang berusaha keras

Tapi juga tak berdaya

Tak disinggahi nasib baik

Selamanya terasing oleh nasib buruk

Anugrah Tuhan yang kita terima

Cuma bakat yang perlu diurusi

Itu pun tak menemu tanah subur

Yang tinggal cuma kesialan

Dan berdatanganlah mahluk mahluk licik

Menghisapi yang manis

Yang kita sendiri

Tak mampu memfaedahkannya

Tercuri habis anugrah Tuhan

Apa yang masih kita miliki

Cuma samudra kedukaan

Sebagaimana yang pernah kau dapatkan

Kemusnahan

Ciptaan bersama

Orang orang yang menyalahgunakanmu

Getir sungguh

Madu racun yang mereka tuangkan

 

18698

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asahan Aidit

 

 

SETELAH DUA MINGGU

 

Telah dua minggu tilpon kita

Tak lagi berdering

Kembali ia jadi pendiam

Seperti watakmu

Hari hari tamu berkabung

Bukan sepanjang abad

Mereka juga harus bekerja

Rumah kita kembali hening

Sebagaimana sediakala

Dan teman temanmu yang SETIA

Juga cepat menghilang

Mencari korban korban baru

Begitulah kerja mereka

Tragedi di dunia

Yang baru kautinggalkan

Adalah peristiwa sehari hari

Besok kembali ayah akan bekerja

Menghapus wajah duka

Dan itu perlu

Kerja adalah kerja

Bukan tempat menyebarkan duka

Sedangkan hati telah hancur luluh

Detik demi detik selalu mengenangmu

Masihkah ada artinya

Dari apa yang masih tersisa

 

18698

 

 

 

 

 

 

Asahan Aidit

 

DUA PERTEMUAN TERAHIR

 

Ketika kesaksian pertama untuk melihatmu

Tubuhmu telah kejang dan dingin

Mulutmu yang tipis

Belum benar benar terkatup

Dan juga matamu yang sedikit terbuka

Berulang ibumu mengatupkannya

Seolah masih ada yang ingin kau lihat

Seolah masih ada yang ingin kau katakan

Tapi tak pernah kau katakan

Kau hanya perlu melihat sedikit saja

Dan kau sudah maklum sepenuhnya

Itulah cirimu hingga saat terahir

Tapi pada perpisahan bersama

Ketika tubuhmu telah pasti didalam peti

Bibir dan matamu telah tertutup rapat

Semua muatan berat

Telah benar benar kau serahkan

 

Tuhanku

Demikian beratkah putra kami

Memikul beban

HINGGA KAU BEBASKAN CEPAT CEPAT

Dari ini kekasaran dunia yang bukan tempatnya

Dan kini pikulan berat telah berpindah ke bahu kami

Terima kasih Tuhan

Kami akan bayar ini keadilan

 

19698

 

 

 

 

 

Asahan Aidit

 

MALAM MASIH MUDA BULAN MASIH MUDA

 

 

Kami tutup jendela kamarmu

Walaupun malam masih terlalu muda

Bulan terharu

Bukankah ia tamu tetapmu

Tiba tiba kau telah pergi bersama kesunyian

Dan sejak itu

Kenangan padamu

Seberat gunung kristal

Tetes tetes yang telah membeku

Jatuh berderai dari delta pelupuk mata

Inilah kasih sayang abadi

Yang akan kausaksikan

Di balik tirai tak tertembus kehidupan

 

 

15698

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asahan Aidit

 

 

MENANGISI VIET TRI

 

 

Apakah akan kita tembaki

Setiap orang yang tidak ramah

Atau membinasakan diri dan menyerah

Pada manusia keras tanpa toleransi

 

Satu perlawanan sengit

Terbaca pada tubuhmu yang rapuh

Tapi sebuah kekuatan hitam

Telah mematikan lampu hidupmu

Kau telah lelap dalam tidur yang dalam

Meninggalkan sayat sayat

Pada jantung yang ditinggalkan

Dari orang orang yang mengasihimu

Kenangan masa lalu begitu indah

Seindah wajahmu yang tenang

Tapi juga luka

Mengandungi butir butir dendam

 

 

12698

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asahan Aidit

 

SETIAP KALI TERUCAP NAMAMU

 

Setiap kali terucap namamu

Mendadak sesak napas ibumu

Muatan duka mendesak keluar

Lalu kata sepakat kembali kami teguhkan

Kami tahu

Kau telah benar benar pergi

Namun di rumah kita

Masih ada namamu

Benda benda milikmu yang kau tinggalkan

Kursi yang biasa kau duduki di depan TV

Pancing, buku bukumu yang bertebaran

Telah menjadi sahabat sahabat kami yang abadi

Mungkinkah semua ini kami lupakan

Walau akan selalu memancing air mata

Jarak antara kita telah begitu jauh

Karna kau telah halus

Sedang kami masih kasar

Aku dan ibumu

Masih memiliki kekayaan

Rasa takut - cemas - sakit dan juga dendam

Semua barang barang jelek yang tak pernah kau sukai

Namun,

Ah,

Bagaimanapun

Tak pernah kita sedekat seperti sekarang ini

Tuhan telah mulai menjamah bahuku

 

19698