Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

Ikhlas

Penulis: KH. Abdullah Gymnastiar

 

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang ikhlas.

Karena betapapun kita melakukan sesuatu hingga bersimbah

peluh berkuah keringat, habis tenaga dan terkuras pikiran,

kalau tidak ikhlas melakukannya, tidak akan ada nilainya di

hadapan Allah. Bertempur melawan musuh, tapi kalau hanya

ingin disebut sebagai pahlawan, ia tidak memiliki nilai

apapun. Menafkahkan seluruh harta kalau hanya ingin disebut

sebagai dermawan, ia pun tidak akan memiliki nilai apapun.

Mengumandangkan adzan setiap waktu shalat, tapi selama

adzan bukan Allah yang dituju, hanya sekedar ingin

memamerkan keindahan suara supaya menjadi juara adzan atau

menggetarkan hati seseorang, maka itu hanya

teriakan-teriakan yang tidak bernilai di hadapan Allah, tidak bernilai!

Ikhlas, terletak pada niat hati. Luar biasa sekali

pentingnya niat ini, karena niat adalah pengikat amal.

Orang-orang yang tidak pernah memperhatikan niat yang ada

di dalam hatinya, siap-siaplah untuk membuang waktu,

tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang

benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini

sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna.

Apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang

tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi

dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yang

ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang

dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Jadi ketika sedang

memasukan uang ke dalam kotak infaq, maka fokus pikiran

kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi pikiran kita terfokus

bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah.

Apapun yang dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada

Allah, itulah ikhlas. Seperti yang dikatakan Imam Ali bahwa

orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya

agar setiap amalnya diterima oleh Allah. Seorang pembicara

yang tulus tidak perlu merekayasa kata-kata agar penuh

pesona, tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang

diucapkan benar-benar menjadi kata yang disukai oleh Allah.

Bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bisa

dipertanggungjawabkan artinya. Selebihnya terserah Allah.

Kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah

yang kuasa menghujamkannya kepada setiap qolbu.

Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa.

Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari

manusia. Allah Mahatahu segala lintasan hati, Mahatahu

segalanya! Makin bening, makin bersih, semuanya semata-mata

karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong segalanya.

Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu?

Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa,

ketenangan batin. Betapa tidak? Karena ia tidak diperbudak

oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan

imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang

tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian,

juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi

kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, pasti kita akan kecewa.

Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah

mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan

baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa

dipersembahkan. Jadi kalau saudara mengepel lantai dan di

dalam hati mengharap pujian, tidak usah heran jikalau nanti

yang datang justru malah cibiran.

Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak

kecewa dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan banyak

tersinggung dan terkecewakan karena ia memang terlalu

banyak berharap. Karenanya biasakanlah kalau sudah berbuat

sesuatu, kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di

sisi Allah yang pasti aman. Jangan pula disebut-sebut,

diingat-ingat, nanti malah berkurang pahalanya.

Lalu, dimanakah letak kekuatan hamba-hamba Allah yang

ikhlas? Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan

ruhiyah yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi

yang melimpah. Keikhlasan seorang hamba Allah dapat dilihat

pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik

perilakunya. Kita akan merasa aman bergaul dengan orang

yang ikhlas. Kita tidak curiga akan ditipu, kita tidak

curiga akan dikecoh olehnya. Dia benar-benar bening dari

berbuat rekayasa. Setiap tumpahan kata-kata dan perilakunya

tidak ada yang tersembunyi. Semua itu ia lakukan tanpa

mengharap apapun dari orang yang dihadapinya, yang ia

harapkan hanyalah memberikan yang terbaik untuk siapapun.

Sungguh akan nikmat bila bergaul dengan seorang hamba yang

ikhlas. Setiap kata-katanya tidak akan bagai pisau yang

akan mengiris hati. Perilakunya pun tidak akan menyudutkan

dan menyempitkan diri. Tidak usah heran jikalau orang

ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat.

Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh

Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut: Tatkala Allah SWT

menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun

menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan

kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat

terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian

mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam

penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung

batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan

diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).

Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah

sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"

Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi,

bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu

dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"

Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api

membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih

kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikat.

Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada,

yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta

terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang

raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau

mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar,

tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata

memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah

sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya

menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan

sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling

dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu

menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya

bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun

keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana

seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat

adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi

ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu

akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima

kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk

memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun

segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada

pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Nah, sahabat. Orang yang ikhlas adalah orang yang punya

kekuatan, ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera

rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan. Allaahu Akbar.***