Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

Akhlak-Akhlak Sabar Dikala Sakit

Penulis: KH Abdullah Gymnastiar

 

 

Mudah-mudahan kita semua dikaruniai nikmatnya bersabar,

karena kesabaran begitu tinggi nilainya dalam Islam.

Kedudukan seseorang di sisi Allah, keakraban seseorang

dengan Allah bisa ditempuh dengan kesabaran, Innallaha maas

shobirin, "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang

yang sabar".

Jadikanlah sabar dan sholat sebagai kunci pembuka

pertolongan Allah. Adalah salah jika kita mengatakan bahwa

sabar itu ada batasnya, berarti kita membatasi pahala.

Mengatakan sabar itu ada batasnya, mencerminkan kita kurang

sabar dalam bersabar. Sabar akan membuahkan pesona yang

tiada terputus, oleh karenanya jika kita ingin menikmati

kehidupan, kita harus menikmati setiap kejadian karena

orang yang beriman tidak pernah merasa rugi. Diberi nikmat

dia bersyukur, diberikan musibah dia bersabar. Syukur

berarti kebaikan bagi dirinya, sabar juga kebaikan bagi

dirinya. Maka tidak ada yang harus kita takuti dalam hidup

ini, kecuali kita tidak punya rasa syukur dan tidak punya

rasa sabar.

Asma Allah yang bersesuaian adalah "As-Shobur",

kata Shobur terambil dari kata shod, ba dan ro, maknanya

asalnya adalah menahan ketinggian sesuatu atau sejenis batu

yang amat keras, jadi seseorang yang mempunyai kemampuan

menahan diri adalah termasuk orang–orang yang sabar.

Sabar bagi manusia bukan berarti pasrah, sabar adalah

kegigihan kita untuk tetap berpegang teguh kepada ketetapan

Allah. Jadi kesabaran itu adalah sebuah proses aktif,

kombinasi antara ridho dan ikhtiar. Kesabaran bukan proses

diam dan pasif melainkan proses aktif yaitu akal aktif,

tubuh aktif dan iman yang aktif. Justru dari musibah yang

disikapi dengan sabar akan lahir rahmat dan tuntunan dari

Allah.

Ditimpa musibah sakit, misalnya. Semua orang pernah sakit,

bahkan orang yang tidak pernah sakit mungkin saja dia tidak

disukai oleh Allah. Sakit adalah bagian dari penggugur

dosa. Rosullullah bersabda dalam sebuah hadis,

"Tidaklah seseorang merasakan sakit dihina atau

tertusuk duri kecuali Allah menggugurkan dosanya, bagai

gugurnya daun-daun", jadi proses sakit itu proses

pengguguran dosa.

 

Bagaimana sabar menghadapi sakit?

Yang pertama, kalau kita suatu saat diuji dengan sakit,

kita harus sadar bahwa kesabaran pertama yang harus

dimiliki adalah sabar Husnuzon (berbaik sangka) kepada

Allah, karena seburuk-buruk perilaku adalah berburuk sangka

kepada Allah. Husnuzon karena tubuh kita adalah milik

Allah, bukan milik kita. Kalau Allah mau membuat penyakit

pada diri kita, sehebat apapun diri kita tetap sakit. Allah

berkuasa terhadap diri kita dan Allah mudah berbuata apa

saja. "Allah Tidak membebani seseorang kecuali sesuai

dengan kesanggupannya." Yang menciptakan semua syaraf

kita adalah Allah dan Allah tahu rasa sakit yang kita pikul

karena dia yang menciptakan sakit.

Sabar yang kedua adalah sabar untuk tidak mengeluh.

Sebenarnya menceritakan penderitaan kita kepada orang lain

adalah mencerminkan ketidaksabaran, apalagi jika kita

menceritakan sesuatu seakan lebih dari kenyataan. Hati

– hati menceritakan penderitaan kepada orang lain

sebab jika tidak hati-hati bisa menjadi kufur nikmat,

sepertinya mengadukan perbuatan Allah yang Maha Agung

kepada manusia, mahluk yang lemah. Jangan keluh kesah

apalagi sampai mendramatisir, jangan sampai memprotes

perbuatan Allah yang Maha Adil. Sakit tidak membuat

seseorang jadi hina kalau disikapi dengan akhlak yang

mulia.

Sabar yang ketiga adalah sabar menafakuri hikmah sakit.

Tidak ada perbuatan Allah yang sia-sia, semua presisi.

Setiap sakit itu ada hikmahnya, maka evaluasi dan

renungkanlah, mungkin kita terlalu sibuk, dikasih sakit,

sehingga kita bisa istirahat. Kita sakit berada di kamar,

bayangkan saudara kita yang sakit dikolong jembatan, yang

tidak punya tempat tidur. Tafakuri, ketika kita gagah dan

hebat, dikasih sakit diare saja bisa menjadi lemas.

Harusnya setiap sakit dapat meningkatkan kesadaran kita

bahwa kesehatan itu amat berharga.

Sabar yang keempat adalah bersabar ketika ikhtiar.

Ketahuilah bahwa yang menyembuhkan itu bukan dokter, bukan

paranormal, yang menyembuhkan itu hanya Allah, karena Dia

yang paling tahu penyakit kita, "Tiada musibah

menimpa kecuali karena izin Allah." Ketika kita sudah

berobat ke sana sini tapi tidak juga sembuh, tidak akan

rugi sebab akan menjadi amal. Barang siapa ridho kepada

ketentuan Allah, maka Allah akan ridho, hidup terus maju,

ikhtiar saja.

Sabar yang kelima, sabar untuk berniat sembuh dan punya

niat untuk beribadah. Milikilah tekad untuk mengisi rasa

sehat yang Allah karuniakan dengan meningkatkan ibadah.

Jangan sampai kita tidak punya visi tentang bagaimana

menggunakan kesehatan. Tidak sedikit orang terangkat

derajatnya karena sakit atau cacat, bahkan ada orang yang

cemerlang justru karena kebutaannya, karena seburuk-buruk

penyakit justeru hati yang sakit.

Oleh karena itu, waspadalah jangan sampai kesehatan ini

mengecoh kita. Dengan sehat tapi banyak maksiat, itu jauh

lebih berbahaya dibanding sakit yang bisa membuat kita

dekat dengan Allah. Tidak ada musibah yang terburuk kecuali

orang yang tidak punya rasa syukur dan tidak punya

kemampuan bersabar. ***