Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

SUKU BIMA
============

Suku Bima tinggal di daerah dataran rendah, wilayah kabupaten Bima,
Dongo, dan Sangiang, propinsi Nusa Tenggara Barat. Lingkungan alam
Suku Bima berbeda-beda. Di daerah Utara Lombok tanahnya sangat subur
sedangkan sebelah selatan tanahnya gundul dan tidak subur. Kebanyakan
dari mereka bermukim sekitar 5 km atau lebih dari pesisir pantai.
mereka juga disebut suku "Oma" (berpindah-pindah) karena mereka
sering hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Suku
Bima memiliki hubungan dengan Suku Sasak yang tinggal berdekatan di
Propinsi NTB.

Mata pencaharian yang utama adalah berladang. Selain itu, mereka juga
bersawah, beternak kuda dan berburu. Suku Bima terkenal dengan
kudanya yang kecil tetapi kuat. Sejak abad ke-14 kuda Bima telah
diekspor ke P. Jawa. Tahun 1920 daerah Bima telah menjadi tempat
pengembangbiakkan kuda yang penting. Mereka memiliki sistem irigasi
yang disebut ponggawa. Para wanita Bima membuat kerajinan anyaman
dari rotan dan daun lontar, juga kain tenunan "tembe nggoli" yang
terkenal.

Pemukiman orang Bima biasa disebut kampo atau Kampe yang dikepalai
oleh kepala desa yang disebut ncuhi, ompu, atau gelarang. Ia dibantu
oleh golongan kerabat yang tua dan dihormati. Kepemimpinan diwariskan
turun temurun di antara keturunan nenek moyang pendiri desa. Bahasa
Bima terdiri atas berbagai dialek, yaitu dialek Bima, Bima Dongo dan
Sangiang. Bahasa yang mereka pakai ini termasuk rumpun Bahasa Melayu
Polinesia.

Umumnya mereka terbuka untuk dunia luar. Dahulu, sekolah dianggap
sebagai perusak adat. Saat ini anak-anak disekolahkan dari sekolah
dasar sampai perguruan tinggi, mereka cenderung beranggapan segala
yang berasal dari luar itu baik, terutama yang menyangkut kebudayaan
dan teknologi. Cara hidup dan berpikir sudah mengikuti pola modern.

Dari 500.000 orang Bima diketahui telah ada 20 jiwa orang Percaya.
Alkitab, film Yesus dan pelayanan radio belum ada dalam bahasa
mereka. Kepercayaan asli orang Bima disebut "Pare no bongi, yaoti"
(kepercayaan terhadap roh nenek moyang). Walaupun sebagian besar
masyarakat Bima memeluk Islam, Suku Bima masih mempercayai dunia roh-
roh yang menakutkan. Roh yang ditakuti ialah Batara Gangga sebagai
dewa yang memiliki kekuatan yang sangat besar, sebagai penguasa;
Batara Guru, Idadari sakti dan Jeneng, roh Bake dan roh jin yang
tinggal di pohon, gunung yang sangat besar dan berkuasa mendatangkan
penyakit, bencana, dll. Mereka juga percaya adanya sebatang pohon
besar di Kalate yang dianggap sakti, Murmas tempat para dewa: Gunung
Rinjani, tempat tingggal para Batara dan dewa-dewi. Sedangkan Suku
Bima bagian Timur menganut agama Kristen.

Tenaga kesehatan (masyarakat hanya percaya kepada para dukun), tenaga
pendidikan dan penyuluh pertanian, sangat diperlukan oleh orang Bima.
Komoditi pertanian yang diusahakan oleh pengusaha daerah mulai
terdesak oleh pengusaha kuat. Kendala pemasaran juga sangat terasa.
Semangat wiraswasta yang dimiliki leluhur perlu dihidupkan dikalangan
generasi muda.

POKOK DOA

* Berdoa agar Bapa akan mengutus Duta-duta kerajaan-Nya yang penuh
  dengan Roh Kudus dan memiliki disiplin ilmu yang berbeda seperti;
  tenaga medis, penyuluh pertanian, dan berbagai tenaga terampil yang
  bersedia mendedikasikan kehidupan mereka di tengah masyarakat Bima.

* Berdoa bagi Duta Injil untuk sanggup bertahan dan beradaptasi
  dengan bahasa, budaya dan mengembangkan hubungan baik dengan
  pejabat pemerintah, tokoh agama, adat, para intelektual dan
  usahawan lokal.

* Berdoa agar Tuhan membuat hati orang Bima mengalami kerinduan yang
  mendalam untuk mencari keselamatan.

* Berdoa agar Tuhan akan memperkenalkan diri-Nya kepada orang-orang
  kunci Suku Bima, baik mereka yang berada di daerah Bima maupun yang
  berada di perantauan.

* Berdoa agar selama bulan puasa ini Tuhan akan mengadakan kunjungan
  ilahi bagi orang Bima baik melalui mimpi, penglihatan, penyingkapan
  Isa dalam Al-quran dan berbagai cara lainnya.