Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

 

   UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    (UIN) MALANG

Jl. Gajayana 50 Dinoyo Malang 65144 Telp. 62-341-551354 Facs. 62-341-572533 Jawa Timur

Konsep Pendidikan
Home Konsep Pendidikan Program Pendidikan Program Studi Pascasarjana Adm. Akademik Kalender Akademik Lembaga & Unit Pendaftaran Kolom Berita

 

[Under Construction]

[ Warta UIN ]

Minggu, 08 Mei 2005

Perempuan Berandil Besar Ciptakan Perdamaian [detail]

 

Selasa, 19 Okt 2004 

Sehari Sebelum Diganti, Menteri Agama Lantik Pejabat [detail]

 

Kamis, 14 Okt 2004

Menjadikan UIN Pusat Kajian Islam [detail]

 

Jumat, 08 Okt 2004

Hari ini UIN Malang Diresmikan 4 Kali Ganti Nama [detail]
 

Jumat, 08 Okt 2004

Hari Ini UIN Diresmikan, Dapat Dana Rp 300 M untuk Kualitas Kampus [detail]

 

Dua PT Islam Berubah Menjadi Universitas [detail]

 

Kamis, 30 Sept 2004  

IAIN akan Ditinggalkan Masyarakat Bila tak Berubah [detail]

 

28 Sept 2004

Penyerapan Pinjaman IDB Baru Sekitar 30 Persen [detail]

 

Jum'at, 17 Sept 2004
WACANA PERUBAHAN NAMA INSTITUT, KERJA SAMA UIN ”SUKA” YOGYAKARTA-KR (2); Menatap Masa Depan IAIN Pasca UIN [detail]

 

Jumat, 10 Sept 2004

PTI Perlu Merujuk ke Barat [detail]
 

 

 

 

 

 

 

 

 


Kata Pengantar

Bismillahirrahmaanirrahim,

Segala puji bagi Allah SWT., Tuhan  yang selalu melimpahkan rahmat taufiq dan hidayah. Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Yang selalu memberikan petunjuk dan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya  yang mau mendekatkan diri. Ia Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw., para keluarga, sahabat, pengikutnya dan siapa saja yang mencintainya.

Konsep pendidikan Universitas Islam Negeri (UIN) Malang bertema: Tarbiyatu Ulī al-Albāb: Dzikr, Fikr dan Amal Shaleh dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang filosofis, identitas, arah yang ingin dicapai, budaya, identitas yang miliki serta hal lain yang dipandang penting agar perguruan tinggi Islam ini dikenal secara mendalam, baik oleh warganya sendiri maupun pihak lain.

Selain itu, rumusan konsep ini  merupakan salah satu bagian penting  dari upaya-upaya   dalam melakukan peningkatan kualitas pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekarang, maupun yang akan datang. Setelah STAIN Malang berubah stauts menjadi Universitas dengan membuka program studi umum, banyak pertanyaan menyangkut konsep pendidikan yang akan dikembangkan ke depan. Oleh karena itu, dengan konsep ini diharapkan dapat memberikan penjelasan secukupnya.

Akhirnya,  mudah-mudahan konsep ini bermanfaat bagi pengembangan kampus ini pada khususnya dan bagi upaya-upaya peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya. Semoga Allah SWT, senantiasa menunjukkan  jalan yang lurus dan melimpahkan berkah serta ridha-Nya. Amin.
 

Malang,  Mei 2004
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang

Mukaddimah

Sebagai sebuah kerja bersama, kegiatan pendidikan harus dijalankan berdasarkan sebuah konsep yang dapat dipahami dan dijadikan acuan oleh semua komponen yang terlibat di dalamnya. Konsep pendidikan  yang dimaksudkan itu menyangkut  dasar filosofis, arah yang ingin diraih, kualitas proses dan produk yang diidealkan, karakteristik komponen pendidikan, serta berbagai pendukung yang diperlukan. Kejelasan konsep tersebut berfungsi sebagai penunjuk arah seluruh kegiatan yang dikembangkan dan sekaligus dijadikan sebagai  pemersatu, sumber inspirasi dan kekuatan penggerak bagi semua komponen pendidikan yang ada.

Universitas Islam Negeri (UIN) Malang sebagai perguruan tinggi yang diharapkan berdiri tegak dan kukuh, memerlukan konsep pendidikan yang jelas, utuh  dan komprehensif.  Apa yang selama ini dijalankan,  baru didasarkan pada tradisi dan pedoman legal-formal  yang dikeluarkan oleh pemerintah secara garis besar atau pokok-pokoknya saja. Pedoman itu  masih  memerlukan  elaborasi secara detail  agar mudah dipahami dan sekaligus berhasil melahirkan ciri khas yang disandang.
 

Filosofi Tarbiyatu Ulil Albāb

Sosok manusia ulū al-albāb adalah orang yang mengedepankan dzikr, fikr dan amal shaleh. Ia memiliki ilmu yang luas, pandangan mata yang tajam, otak yang cerdas, hati yang lembut dan semangat serta jiwa pejuang (jihad di jalan Allah) dengan sebenar-benarnya perjuangan. Ia bukan manusia sembarangan, kehadirannya di muka bumi sebagai pemimpin menegakkan yang hak dan menjauhkan kebatilan. 

Ulul al-albāb adalah manusia yang bertauhid. Kalimah syahadah sebagai pegangan pokoknya,  “Asyhadu an lā ilāha illā Allāh, wa asyhadu anna  Muhammad rasūlullāh”.  Sebagai penyandang tauhid, ia berpandangan bahwa tidak terdapat kekuatan di muka bumi ini selain Allah. Semua makhluk manusia berposisi sama. Jika terdapat seseorang atau sekelompok/sejumlah  orang dipandang lebih mulia, adalah oleh karena ia atau mereka  telah menyandang ilmu, iman  dan amal shaleh (taqwa). Penyandang derajad ulū al-albāb tidak akan takut dan merasa rendah di hadapan siapapun sesama manusia. Kelebihan seseorang berupa  kekuasaan, kekayaan, keturunan/nasab dan keindahan/ kekuatan tubuh tidak menjadikannya ia lebih mulia dari pada yang lain. 

Komunitas UIN Malang berjiwa dan berwatak ulū al-albāb. Orientasi hidup ulū al-albāb hanya pada ridha Allah SWT. Kegiatan mendidik dan belajar yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa semata-mata  hanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.  Mencari ilmu bukan untuk memperoleh ijazah dan kemudahan dalam mencari pekerjaan dan rizki. Ulul al-albāb selalu yakin pada janji Allah bahwa rizki seseorang selalu berada di bawah keputusan Tuhan. Tidak selayaknya seseorang merisaukannya. Kebahagiaan bukan semata-mata terletak pada keberhasilan mengumpulkan rizki, tetapi  pada kedekatan dengan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Mahasiswa mencari ilmu pengetahuan lewat observasi, eksperimen dan literatur bukan untuk memperoleh indeks prestasi (IP) dan atau sertifikat/ijazah, apalagi dikaitkan untuk mendapatkan pekerjaan  dan rizki, tetapi adalah kewajiban  agar menyandang derajad ulū al-albāb. 

Identitas Ulul al-albāb  diyakini dapat dibentuk lewat proses pendidikan  yang dipola sedemikian rupa. Pola pendidikan yang dimaksudkan itu ialah pendidikan yang mampu membangun iklim yang dimungkinkan tumbuh dan berkembangnya  dzikr, fikr dan amal shaleh. Menyesuaikan dengan konteks Ke-Indonesia-an, bentuk riil pendidikan itu merupakan penggabungan antara tradisi pesantren (ma`had) dan tradisi perguruan tinggi. Pesantren telah lama dikenal sebagai wahana yang berhasil melahirkan manusia-manusia yang mengedepankan dzikr, sedangkan  perguruan tinggi dikenal mampu melahirkan manusia fikr dan selanjutnya atas dasar kedua kekuatan itu melahirkan manusia beramal shaleh. 

Ukuran Keberhasilan Tarbiyatu Ulil Albāb

Keberhasilan hidup bagi penyandang ulū al-albāb bukan terletak pada jumlah kekayaan, kekuasaan, sahabat, dan sanjungan yang diperoleh, melainkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.  Di dunia ini tak sedikit orang kaya, berkuasa dan disanjung orang banyak tetapi ternyata tidak selamat dan juga tidak bahagia. Ulul al-albāb diberikan oleh Allah SWT rizki yang halal, mungkin juga pengaruh yang luas tetapi tetap selamat dan bahagia.  Penyandang ulū al-albāb selalu memilih jenis dan cara kerja yang shaleh, artinya yang benar, lurus, tepat atau profesional. Oleh karena itu, amal shaleh yang dilakukan oleh ulū al-albāb selalu disenangi oleh manusia dan bahkan oleh Allah SWT. 

Ulul al-albāb meyakini kehidupan jasmani dan ruhani, dunia dan akhirat. Kedua dimensi kehidupan itu harus memperoleh perhatian secara seimbang dan tidak dibenarkan hanya memprioritaskan salah  satunya keberuntungan di dunia harus berdampak positif pada kehidupan akhirat dan tidak justru sebaliknya. Demikian pula kesehatan jasmani harus memberi dampak positif pula pada kesehatan ruhani. Keuntungan material  bisa jadi berdampak positif pada kesehatan jasmani, akan tetapi jika diperoleh dengan cara yang tidak halal akan berdampak pada kesehatan ruhani. Bagi ulū al-albāb hal tersebut harus dihindari. 

Lewat  dzikr, fikr dan amal shaleh, pendidikan ulū al-albāb mengantarkan seseorang menjadi manusia terbaik,  sehat jasmani dan ruhani. Sebagai manusia terbaik, ia selalu melakukan kegiatan dan pelayanan terbaik kepada sesama, “khair an-nās anfa`uhum li an-nās”. Sebagai orang yang sehat harus berusaha menghindar dari segala penyakit baik penyakit jasmani maupun penyakit ruhani. Penyakit jasmani mudah dikenali dan dirasakan, sementara  penyakit ruhani  tak mudah dikenali dan bahkan juga tidak disadari. Beberapa jenis penyakit ruhani itu antara lain: sifat dengki, iri hati,  suka menyombongkan diri (takabbur), kufur nikmat, pendendam, keras kepala, individualistik, intoleran  dan lain-lain. 

Pendidikan ulū al-albāb berhasil jika mampu mengantarkan seseorang memiliki identitas sebagai berikut : (1) berilmu pengetahuan yang luas, (2) berpenglihatan yang tajam, (3) berotak  cerdas, (4) berhati lembut dan (5) bersemangat juang tinggi karena Allah sebagai pengejawantahan amal shaleh. Jika kelima kekuatan ini berhasil dimiliki oleh siapa saja yang belajar di kampus ini, artinya pendidikan ulū al-albāb sudah dipandang berhasil. 

Orientasi Tarbiyatu Ulil Albāb

Arah Pendidikan ulū al-albāb dirumuskan dalam bentuk perintah  sebagai berikut: kūnū ulī al-`ilmi, kūnū ulī an-nuhā, kūnū  ulī al-abshār, kūnū ulī al-al-albāb, wa jāhidū fi Allāh haqqa jihādih.  Betapa pentingnya rumusan tujuan ini bagi pendidikan ulū al-albāb  agar dapat dihayati oleh semua  warga kampus UIN Malang maka ditulis di atas batu besar sebagai sebuah prasasti yang ditelakkan persis di depan ma`had dalam kampus. Tulisan pada prasasti tersebut sekaligus dimaksudkan untuk memberikan kepastian bahwa pendidikan di kampus ini tidak akan mengarahkan para lulusannya untuk menempati posisi atau jabatan atau jenis pekerjaan tertentu di masyarakat. Pendidikan ulū al-albāb memberikan piranti  yang dipandang kukuh dan strategis  agar seseorang dapat menjalankan peran sebagai khalīfah di muka bumi sebagaimana yang diisyaratkan Allah SWT., melalui kitab suci al-Qur’an. 

Pendidikan ulū al-albāb berkeyakinan bahwa mengembangkan ilmu pengetahuan bagi komunitas kampus semata-mata dimaksudkan sebagai upaya mendekatkan diri dan memperoleh ridha Allah SWT. Akan tetapi pendidikan ulū al-albāb juga tidak menafikan arti pentingnya pekerjaan sebagai sumber rizki. Ulū al-albāb berpandangan bahwa jika seseorang telah menguasai ilmu pengetahuan, cerdas, berpandangan luas dan  berhati yang lembut serta mau berjuang di jalan Allah, insya Allah akan mampu melakukan amal shaleh. Konsep amal shaleh diartikan sebagai bekerja secara lurus, tepat, benar atau profesional. Amal shaleh bagi ulū al-albāb adalah merupakan keharusan bagi  komunitas kampus dan alumninya. Sebab, amal shaleh  adalah jalan menuju ridha Allah SWT.

Pendekatan Tarbiyatu Ulil Albāb

Dzikr, fikr, dan amal shaleh dipandang sebagai satu kesatuan utuh yang dikembangkan  oleh tarbiyatu ulī al-albāb. Dzikr dilakukan secara pribadi maupun (diutamakan) berjama’ah, langsung di bawah bimbingan  dosen/guru. Bentuk kegiatannya berupa  sholat berjama’ah, khatmul  Qur’an,  puasa wajib maupun sunnah, memperbanyak membaca kalimah thayyibah, tasbih, takbir, tahmid dan shalawat. Kegiatan semacam itu dilakukan di masjid atau ma`had, pada setiap waktu. Pendidikan fikr dilakukan untuk mempertajam nalar  atau pikiran. Pendekatan yang dikembangkan  lebih berupa pemberian tanggung jawab kepada mahasiswa untuk mengembangkan keilmuannya secara mandiri---proses mencari sendiri lebih diutamakan. Prestasi atau kemajuan belajar diukur dari seberapa banyak dan kualitas temuan yang  dihasilkan oleh mahasiswa selama belajar. Pendidikan ulū al-albāb lebih merupakan kegiatan riset terbimbing oleh dosen daripada berbentuk kuliah sebagaimana lazimnya dilakukan di perguruan tinggi. Dasar pikiran yang dijadikan acuan pengembangan pendekatan adalah formula dan juga kisah-kisah  dalam al-Qur’an serta evaluasi terhadap hasil yang dilakukan lewat pendekatan kuliah selama ini.

Ayat-ayat al-Qur’an banyak sekali menggunakan formula kalimat bertanya dan perintah untuk mencari sendiri, seperti: Apakah tidak kau pikirkan? Apakah tidak kau perhatikan? Apakah tidak kau lihat? Dan sebagainya. Formula kalimat bertanya semacam itu melahirkan inspirasi dan pemahaman bahwa memikirkan, memperhatikan dan melihat sendiri, seharusnya dijadikan  kata kunci dalam pilihan pendekatan belajar untuk memper luas ilmu pengetahuan. Selain itu, masih bersumberkan al-Qur’an, diambil dari kisah nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan dilakukan  dengan cara membangun hipotesis dan mengujinya  sendiri dengan logika  dan data empirik yang ditemukan. Melalui proses panjang, akhirnya pikiran Ibrahim sampai pada titik buntu, maka Tuhan akhirnya memberikan petunjuk-Nya dengan befirman: aslim (ber-Islamlah) maka Ibrahim pun mengatakan aslamtu (saya ber-Islam dan berserah diri). Kisah ini pula memberikan inspirasi bahwa jika mencari Tuhan saja Ibrahim diberi peluang untuk mencari sendiri, maka selayaknyalah manusia seperti halnya mahasiswa seyogyanya diberi kebebasan seluas-luasnya mencari sendiri dan bukan dituntun dan selalu diberi  petunjuk. Dosen dalam tarbiyatu ulī al-albāb berperan sebagai pemberi petunjuk atau kata putus terakhir setelah mahasiswa sebelumnya melakukan pencaharian sendiri. Dasar pertimbangan ketiga, ialah bahwa ternyata  pendekatan kuliah selama ini tidak memberi peluang mahasiswa mengasah kekuatan nalarnya lewat tantangan yang harus dihadapi. Itu semua dapat diduga sebagai sumber kelemahan pendekatan pendidikan yang selama ini dikembangkan.

Amal shaleh  sedikitnya merangkum tiga dimensi. 
Pertama,  profesionalisme; 
kedua,  transenden berupa pengabdian dan keikhlasan;  dan 
ketiga, kemaslahatan bagi kehidupan pada umumnya. 

Pekerjaan yang dilakukan oleh peserta didik ulū al-albāb harus didasarkan pada keahlian dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Apalagi, amal shaleh selalu terkait dengan dimensi  keumatan  dan transenden maka harus dilakukan dengan kualitas setinggi-tingginya. Tarbiyatu ulī al-albāb menanamkan nilai, sikap dan pandangan bahwa dalam memberikan layanan kepada umat manusia di mana, kapan  dan dalam suasana apapun  harus  dilakukan yang terbaik  (amal shaleh).

Selain itu dalam mengembangkan budaya amal shaleh harus dilakukan dengan cara ibda’ bi nafsika: dimulai dari diri sendiri. Sebaliknya, hal yang menyangkut pengembangan  pemikiran dilakukan dengan pendekan kebebasan, keterbukaan dan  mengedepankan keberanian yang bertanggung jawab. Bebas artinya siapa saja, dengan tidak melihat oleh dan dari mana pikiran itu berasal, dihargai  asal pikiran itu kukuh, baik dari nalar mapun data yang diajukan. Prinsip terbuka  berarti memberikan peluang kepada siapa saja untuk mengajukan nalar dan daya kritisnya. Kebenaran  bagi tarbiyatu ulī al-albāb, tidak mengenal final, artinya masih diberi ruang untuk dikritisi, kecuali menyangkut aqidah atau tauhid. Sedangkan keberanian  ditumbuh-kembangkan, oleh karena sifat ini dipandang sebagai modal dan bahkan pintu  masuk lahirnya keterbukaan dan kebebasan sebagai pilar penyangga tumbuhnya iklim akademik.

Budaya Pendidikan 

Budaya sebuah komunitas, tak terkecuali komunitas pendidikan, dapat dilihat  dari dimensi lahir maupun batinnya. Budaya lahiriah meliputi hasil karya atau penampilan yang tampak atau yang dapat dilihat, misalnya penampilan fisik seperti gedung, penataan lingkungan sekolah, sarana pendidikan dan sejenisnya. Sedangkan yang bersifat batiniah adalah hasil karya yang tidak tampak, tetapi dapat dirasakan. Hal itu misalnya menyangkut  pola hubungan antarsesama, cara menghargai prestasi seseorang, sifat-sifat pribadi yang dimiliki, kekurangan dan kelebihannya dan sebagainya. Budaya adalah sesuatu yang dianggap  bernilai tinggi, yang dihargai, dihormati dan didukung bersama. Budaya juga berstrata, oleh karena itu di tengah masyarakat terdapat anggapan budaya rendah, sedang  dan tinggi. Dilihat dari perspektif organisasi, budaya juga berfungsi sebagai instrumen penggerak dinamika masyarakat. 

Tingkat perkembangan budaya sebuah komunitas masyarakat, dapat dilihat dari sisi yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Lembaga pendidikan disebut berbudaya tinggi, dari sisi lahiriahnya, ketika ia berhasil membangun penampilan  wajahnya sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya, lembaga pendidikan itu: memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, berhasil membangun gedung sebagai sarana pendidikan yang mencukupi –baik  dari sisi kualitas maupun kuantitasnya, mampu menyediakan prasarana pendidikan yang memadai, menciptakan lingkungan bersih, rapi dan indah, memiliki jaringan atau network yang luas dan kuat dan sebagainya. Sedangkan tingkat budaya batiniah dapat dilihat melalui cita-cita, pandangan tentang dunia kehidupan: menyangkut diri, keluarga dan orang lain atau sesama, apresiasi terhadap kehidupan spiritual dan seni, kemampuan mengembangkan ilmu dan hikmah.  Masih dalam lingkup budaya batin dapat dilihat pula dari bagaimana mereka membangun interaksi dan interelasi di antara komunitasnya, mendudukkan dan menghargai orang lain dalam berbagai aktivitasnya, dan bagaimana mensyukuri nikmat serta karunia yang diperoleh.

Suasana yang dinamis, penuh kekeluargaan,  kerjasama serta saling menghargai senantiasa  menjadi sumber inspirasi dan kekuatan penggerak menuju ke arah kemajuan, baik dari sisi spiritual, intelektual dan profesional. Sebaliknya, komunitas yang diwarnai oleh suasana kehidupan yang saling tidak percaya, sū’u azh-zhann, tidak saling menghargai di antara sesama, kufur,  akan memperlemah semangat kerja dan melahirkan suasana stagnan. Pola hubungan sebagaimana disebutkan terakhir itu akan melahirkan atmosfir konflik yang tak produktif serta jiwa materialistik dan hubungan-hubungan transaksional yang akan berakibat memperlemah kehidupan organisasi kampus itu sendiri. Tarbiyatu  ulī al-albāb harus dijauhkan dari budaya seperti itu. Sebab, sebaik-baik fasilitas yang disediakan berupa kemegahan gedung  serta setinggi apapun kualitas tenaga pengajar, jika  lembaga pendidikan tersebut tak mampu mengembangkan budaya tinggi maka pendidikan tak akan menghasilkan produk yang berkualitas sebagaimana yang diharapkan. Bahkan sebaliknya, sekalipun  budaya lahiriah tak  berkategori tinggi, tetapi  jika budaya batiniah dapat dikembangkan setinggi mungkin, produk pendidikan masih dapat diharapkan lebih baik hasilnya. Tarbiyatu ulī al-albāb dalam menggapai tujuan pendidikan secara maksimal, mengembangan budaya lahiriah dan batiniah secara padu,  simultan dan maksimal sesuai dengan potensi dan kekuatan yang ada.

Struktur Keilmuan 

Ilmu yang dikembangkan di UIN Malang bersumber dari al-Qur’an dan hadis Nabi. Petunjuk  al-Qur’an dan hadis yang masih bersifat konseptual selanjutnya dikembangkan lewat kegiatan eksperimen, observasi dan pendekatan ilmiah lainnya. Ilmu pengetahuan yang berbasis pada al-Qur’an dan as-Sunnah itulah yang dikembangkan oleh Universitas Islam Negeri Malang. Dan, jika menggunakan bahasa kontemporer, UIN Malang  berusaha menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum dalam satu kesatuan. 

UIN Malang sesungguhnya tidak sepaham dengan siapa saja yang mengkategorisasikan ilmu agama dan ilmu umum. Sebab kategorisasi itu  terasa janggal dan atau rancu. Istilah umum adalah lawan kata dari khusus. Sedangkan agama, khususnya Islam tidak tepat dikategorikan sebagai ajaran yang bersifat khusus. Sebab, lingkup ajarannya begitu luas dan bersifat universal, menyangkut berbagai aspek kehidupan. Jika keduanya dipandang sebagai ilmu, maka agama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu, sedang ilmu umum  berasal dari manusia. 

Kedua jenis ilmu yang berasal dari sumber yang berbeda itu harus dikaji secara bersama-sama dan simultan. Perbedaan di antara keduanya, ialah bahwa mendalami ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis hukumnya wajib `ain bagi mahasiswa UIN Malang, sedangkan mendalami ilmu yang bersumber dari manusia hukumnya wajib kifāyah. Artinya, terhadap jenis ilmu yang disebutkan terakhir ini, mahasiswa diperkenankan memilih salah satu cabang disiplin ilmu yang diminati.  Penguasaan salah satu cabang ilmu dianggap telah gugur atas kewajiban mengembangkan disiplin ilmu lainnya.

Dalam perspektif bangunan kurikulum,  struktur  keilmuan yang dikembangkan UIN Malang  digunakan metafora sebuah pohon yang kukuh dan rindang. Sebagaimana layaknya sebuah pohon  menjadi kukuh, berdiri tegak dan tak mudah roboh dihempas angin jika memiliki akar yang kukuh dan menghujam ke bumi. Pohon yang berakar kuat itu akan melahirkan batang yang kukuh pula. Batang yang kukuh akan melahirkan cabang dan  ranting yang kuat serta  daun dan buah yang sehat dan segar.  Pohon dengan ciri-ciri seperti itulah yang dijadikan perumpamaan ilmu yang dikembangkan di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Akar yang kukuh menghujam ke bumi itu digunakan untuk menggambarkan kemampuan berbahasa asing (Arab dan Inggris), logika dan filsafat, ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Bahasa Asing –Arab dan Inggris—harus dikuasai oleh setiap mahasiswa. Bahasa Arab digunakan sebagai piranti  mendalami ilmu-ilmu yang bersumber dari al-Qur’an, hadis Nabi, serta kitab-kitab berbahasa Arab lainnya. Sudah menjadi keyakinan bagi UIN Malang bahwa  mengkaji Islam pada level  perguruan tinggi harus menggunakan sumber asli.  Mempelajari Islam hanya  menggunakan buku terjemah dipandang tidak mencukupi. Penggunaan Bahasa Inggris dipandang penting sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi dan bahasa pergaulan internasional. Selanjutnya, kemampuan logika/filsafat, ilmu alam dan ilmu sosial perlu dikuasai oleh setiap mahasiswa agar dijadikan bekal dan instrumen dalam menganalisis dan memahami isi al-Qur’an, hadis maupun fenomena alam dan sosial  yang dijadikan obyek kajian-kajian selanjutnya. Jika hal-hal tersebut dikuasai secara baik, maka mahasiswa akan dapat mengikuti kajian  keilmuan selanjutnya secara mudah. Dan sebaliknya, jika mahasiswa gagal mendalami ilmu alat tersebut dipastikan akan mengalami kesulitan  dan bisa jadi akan mengalami kegagalan dalam studinya. 

Batang yang kukuh digunakan menggambarkan ilmu-ilmu yang terkait dan bersumber langsung dari al-Qur’an dan hadis Nabi. Yaitu,  studi al-Qur’an, studi hadis, Pemikiran Islam dan sirah Nabawiyah. Ilmu semacam ini hanya dapat dikaji dan dipahami secara baik oleh mereka yang telah memiliki kemahiran Bahasa Arab, logika, ilmu alam dan ilmu Sosial. 

Dahan dan ranting dari pohon yang kukuh dan rindang tersebut digunakan untuk menggambarkan disiplin ilmu modern yang dipilih oleh setiap mahasiswa. Disipilin ilmu ini bertujuan untuk mengembangkan aspek keahlian dan  profesionalismenya. Disiplin ilmu modern itu misalnya: ilmu kedokteran, filsafat, psikologi, ekonomi, sosiologi, teknik  serta cabang-cabang ilmu lainnya. Ibnu Sina dalam sejarah hidupnya selain menguasai sumber-sumber ajaran Islam berupa al-Qur’an dan hadis sehingga dikategorikan sebagai ilmuwan dan filosof Islam, ia juga ahli di bidang kedokteran, psikologi, sosiologi dan filsafat. 

Lebih lanjut, jika metafora berupa pohon dikembangkan, dan harus menyebut buah pohon tersebut, maka buah itu adalah ilmu, iman dan amal shaleh. Ketiga kata: ilmu, iman dan amal shaleh sengaja ditulis dengan huruf tebal untuk menunjukkan betapa pentingnya hal itu dalam kehidupan di alam ini. Ridha Allah SWT., tergantung pada kadar iman dan amal shaleh seseorang. Iman dan amal shaleh lahir dari  hidayah dan kekayaan ilmu pengetahuan. Seseorang yang kaya ilmu, iman dan amal shaleh yang dihasilkan oleh kampus ini disebut : ulama’ yang intelek profesional dan atau intelek profesional yang ulama’. UIN Malang hadir bertujuan melahirkan manusia yang berilmu, beriman dan beramal shaleh itu.

Dosen, Mahasiswa dan Karyawan

Ketiga komponen pendidikan – dosen, karyawan dan mahasiswa — bekerja di kampus ini harus dilandasi oleh niat memenuhi kewajiban dan agar menjadi dekat dan memperoleh ridha  Allah SWT. Niat secara tegas seperti itu dikedepankan, sebab bagi setiap muslim dan muslimat, thalab al-`ilm hukumnya adalah wajib, bahkan berlangsung sepanjang hayat: min al-mahd ilā al-lahd.

Kesamaan tujuan berupa sama-sama menggapai ridha Allah itu harus melahirkan hubungan yang saling mencintai dan menghargai di antara seluruh komunitas kampus. Sekalipun pada intinya lingkup pendidikan, tak terkecuali pendidikan di perguruan tinggi, secara langsung hanya sebatas hubungan antara dosen dan mahasiswa, tetapi tidak niscaya mengabaikan peran-peran pihak lain seperti, karyawan. Tata krama pendidikan Islam mengajarkan bahwa  siapapun yang memudahkan jalan bagi pengembangan ilmu harus dihargai. Bahkan, Allah SWT. dalam salah satu hadis Nabi berjanji akan memberikan balasan berupa surga. 

Eratnya hubungan antara dosen dan mahasiswa  harus  ditunjukkan sebagaimana hubungan antara orang tua dan anaknya, antara petani dan tanamannya, atau antara gembala dengan binatang piaraannya. Kedua belah pihak, antara dosen dan mahasiswa, harus ada nuansa kasih sayang yang mendalam.  Perasaan sukses bagi dosen  bukan tatkala menerima reward atau ma`īsyah pada setiap bulannya, tetapi justru tatkala  mahasiswanya mengalami kemajuan. Lebih dari itu,  kegembiraan lebih terasa tatkala melihat dan atau mendengar bahwa mahasiswanya telah mampu dan berhasil melakukan sesuatu amal shaleh di tengah masyarakat.  Sebaliknya, dosen akan merasa susah tatkala menyaksikan mahasiswanya tak mengalami kemajuan yang berarti. Dosen sebagaimana petani ataupun penggembala, bergembira ria tatkala tanaman dan ternaknya tumbuh subur dan berkembang biak. Itulah gambaran dan metafora hubungan dosen dan mahasiswa di kampus yang beridentitas Islam ini. Hubungan dosen dan mahasiswa tidak cukup diikat oleh peraturan atau  perundang-undangan yang tertulis, hubungan itu diikat oleh suasana batin, rasa dan kasih sayang yang mendalam.

Agar terjadi jalinan hubungan yang erat dan kukuh antara semua komponen perguruan tinggi ini harus dikembangkan ta`āruf atau keterbukaan. Ta`āruf akan melahirkan tafāhum. Saling memahami akan melahirkan tadhāmun atau saling menghargai. Tadhāmun akan memunculkan tarāhum dan akhirnya terjadilah suasana ta`āwun di antara semua warga kampus. Hubungan seperti ini, bagi kaum Muslim dijamin tak akan membunuh daya kritis, sebab dalam Islam juga harus ditumbuh-kembangkan suasana tawāshaw bi al-haqq wa tawāshaw bi ash-shabr. Hubungan dosen dan mahasiswa diikat oleh suasana kasih sayang dan bukan yang lain, yang  merugikan salah satu atau kedua belah pihak.

Sikap dan perilaku buruk dan tidak terpuji, harus dihindari oleh semua pihak. Hubungan dosen dan mahasiswa  harus dijauhkan dari nuansa transaksional, hegemonik dan kooptatik. Mereka yang merasa memiliki kelebihan tidak sombong karena kelebihannya, dan yang  berkekurangan tidak boleh direndahkan dan  merasa rendah diri. Hubungan antar warga kampus harus mencerminkan sebagai masyarakat yang berbudaya tinggi, memperoleh sinar nūr Ilāhi dan menyandang budaya adiluhung yaitu budaya orang-orang yang berpendidikan tinggi Islam.

Identitas dan Bahasa Pergaulan Warga Kampus 

Peribahasa Jawa mengatakan: “ajining diri songko lathi, ajining rogo songko busono” Artinya,  cara berbicara dan cara berbusana (berpakaian) akan selalu dijadikan dasar pemberian penghormatan kepada seseorang. Dari peribahasa Jawa itu dapat diambil pengertian secara lugas bahwa jika seseorang ingin dihormati orang lain, maka hargailah orang lain dengan cara berbicara dan berbusana yang baik atau sopan.  Cara bicara dan berbusana menjadi cermin kehormatan seseorang. 

Warga kampus – dosen, mahasiswa dan karyawan - baik secara individual maupun kolektif adalah representasi atau cermin kebesaran dan kewibawaan UIN Malang, lembaga pendidikan tinggi Islam di mana semua warga kampus bekerja dan belajar harus dijunjung dan dimuliakan namanya. Siapa yang merusak nama baik almamater atau kampus Islam ini harus mempertanggung-jawabkan kepada seluruh komponen kampus ini. 

Semua dosen, mahasiswa dan karyawan UIN Malang di mana dan kapan saja harus berbusana dan menggunakan bahasa  yang mencerminkan harkat dan  derajat Islam yang amat agung dan tinggi. Menyangkut  cara berpakaian, Islam  sudah memberikan tuntunan yang jelas, wajib menutup aurat. Dosen, mahasiswa dan karyawan boleh menggunakan mode yang disenangi, tetapi  selalu dilarang menyimpang dari norma yang digariskan oleh ajaran Islam. Menampakkan aurat, baik secara terang-terangan atau tersamar (berpakaian terlalu ketat), harus dihindari oleh seluruh komunitas kampus Islam ini. 

Secara lebih detil perlu dikemukakan bahwa  semua mahasiswa  di kampus harus bersepatu, laki-laki tidak diperkenankan memakai kaos,  giwang,  kalung dan berambut panjang. Perempuan harus mengenakan pakaian yang  menutup aurat wanita secara sempurna.

Menyangkut bahasa pergaulan sehari-hari, cepat atau lambat, atau paling tidak secara bertahap menggunakan bahasa Arab dan atau Inggris. Penggunaan bahasa asing bukan semata-mata menyesuaikan tuntutan zaman  sehubungan dibukanya dunia perdagangan bebas, lebih dari itu dimaksudkan  sebagai upaya membangun identitas atau citra kampus Islam yang seharusnya memiliki kelebihan dibandingkan kampus-kampus lainnya. Alasan strategis lainnya, bahwa sebagai kampus yang melakukan kajian berbagai ilmu yang bersumber dari literatur  asing (Arab dan Inggris) maka kedua bahasa tersebut harus dikuasai secara baik dan oleh karena itu berbahasa asing tersebut harus menjadi bagian dari kehidupan kampus ini.

Manajemen Pengelolaan dan  Pengembangan Kampus

Al-Qur’an bagi umat Islam adalah  petunjuk  segala kehidupan, tak terkecuali dalam mengembangkan organisasi pendidikan yang melibatkan orang banyak. Membangun  kampus sama artinya dengan membangun orang, baik dari sisi karakter, perilaku,  keilmuan maupun keterampilan. Mengatur orang banyak  dengan berbagai sifatnya harus menggunakan pendekatan kemanusiaan. Sebab, manusia selain memiliki potensi maslahah, sekaligus juga menyandang potensi sifat-sifat mafsadah. Kedua sifat yang berlawanan itu tidak akan dapat dihilangkan, oleh karena itu harus disalurkan pada hal yang menguntungkan.

Selanjutnya harus dibedakan antara manajemen pengelolaan kampus dan manajemen pengembangan kampus. Manajemen pengelolaan kampus lebih tertuju pada penataan atau pengaturan terhadap seluruh kegiatan pelayanan pendidikan. Sedangkan manajemen pengembangan kampus lebih diarahkan pada upaya menumbuh-kembangkan kampus  agar tahap demi tahap mengalami kemajuan. Kedua jenis manajemen tersebut diuraikan secara garis besar.

(1) Manajemen Pengelolaan Kampus 

Manajemen yang dikembangkan agar lembaga ini tumbuh secara wajar, dinamis, inovatif  dan terhindar dari hambatan psikologis harus selalu menumbuh-kembangkan suasana kebersamaan,  keterbukaan, tanggung jawab, amanah  dan  profesional. Sebagai lembaga pendidikan, kampus ini memiliki peran dan tanggung jawab menumbuh -kembangkan anak-anak muda yang  penuh harap agar kelak menjadi manusia ulū al-albāb. Lembaga ini tak ubahnya sebidang persemaian anak manusia yang harus tumbuh secara wajar, sehat dan sempurna. Sedemikian berat peran yang harus diemban oleh lembaga pendidikan tinggi ini. Oleh karena itu, lembaga ini harus disangga oleh orang banyak, dan bukan justru saling memperebutkan amanah. Perebutan yang berlebihan hanya akan memperlemah kekuatan yang diperlukan untuk menyangga beban berat tersebut. Sebagai langkah antisipatif untuk  menjaga kebersamaan yang kukuh   kampus ini harus menjauhkan diri dari atmofir politik. Sebab, kampus bukan lembaga politik, melainkan lembaga akademik.  Selain itu untuk menjaga keutuhan bersama maka harus selalu diwaspadai, jika muncul gejala seseorang atau sekelompok orang merasa terpinggirkan, maka harus segera dihimpun. Keutuhan dan kebersamaan dalam kampus ini harus ditempatkan pada posisi strategis yang tak boleh diabaikan.

Partisipasi semua pihak, sebagai syarat agar organisasi dapat tumbuh sehat,  harus didasarkan atas profesionalisme. Penetapan seseorang menduduki jabatan tertentu harus dipilih secara fair, obyektif dan demokratis. Penempatan seseorang untuk menduduki jabatan tertentu yang hanya didasarkan pada pertimbangan kedekatan hubungan kelompok atau primordial akan meruntuhkan semangat partisipasi. Profesionalisme menuntut rasionalisme yang merupakan ciri khas  perguruan tinggi. Hal lain  yang tidak boleh dilanggar adalah tumbuhnya rasa ketidak-adilan, termasuk dalam pembagian informasi. Perasaan tidak adil akan melahirkan friksi-friksi yang mengakibatkan lembaga menjadi tidak sehat.  Siapa saja akan ikhlas mendarmabaktikan apa saja yang dimiliki, jika mereka merasa diberlakukan secara adil dan jujur. Sikap tidak fair, tidak jujur dan tidak adil, selalu dibenci oleh semua orang. Relevan dengan itu, tepatlah rumusan sebuah prinsip manajemen kontemporer yang mengatakan bahwa  pemimpin harus cerdik, tetapi sekali-kali jangan mencoba-coba menggunakan kecerdikannya untuk mengibuli orang lain. Di sini suasana keterbukaan lagi-lagi penting untuk menghindari lahirnya sū’u azh-zhann atau saling tidak mempercayai yang akan berdampak negatif pada pertumbuhan organisasi.

Polarisasi warga kampus  atas dasar perbedaan paham keagamaan, etnis atau asal daerah diberi toleransi, dan bahkan dikembangkan sepanjang tidak mengganggu keutuhan warga kampus secara keseluruhan. Perbedaan yang melahirkan polarisasi itu suatu ketika  menjadi penting jika dengan polarisasi itu dapat ditumbuh-kembangkan suasana fastabiqū al-khairāt, sehingga dapat memacu pertumbuhan dan dinamika kampus. 

(2) Manajemen Pengembangan Kampus

Dalam al-Qur’an terdapat petunjuk bagaimana mengembangkan komunitas manusia. Beberapa ayat  yang dikenal sebagai awal turunnya  al-Qur’an, yakni awal surat al-`Alaq dan awal surat al-Muddatstsir, memberikan inspirasi bagaimana sebuah gerakan membangun masyarakat seharusnya dilakukan. Surat al-`Alaq diawali dengan kata qirā’ah atau iqra’, yaitu perintah membaca. Kemudian pada ayat pertama surat al-Mudatsir, yang selama ini dikenal sebagai  ayat-ayat  yang turun setelahnya, berisi seruan pada kaum berselimut (muddatstsir), mereka diperintah untuk qiyam atau bangkit. Perintah selanjutnya adalah melakukan bersuci (thahārah). Dalam konteks bersuci terdapat ayat perintah meninggalkan angkara murka dan larangan terhadap orang yang berharap atau mengangan-angankan  sesuatu yang mustahil terjadi atau memberi sesuatu yang jumlahnya sedikit agar memperoleh sesuatu yang jumlahnya lebih banyak.(wa ar-rujza fahjur, wa la tamnun tastaktsir). Ada dua ayat lagi, yang penting sekali kaitannya dengan perjuangan atau berjihad. Berjuang  harus dimaksudkan untuk mengagungkan asma Allah (wa rabbaka fa kabbir). Selain itu harus bersabar (wa li rabbika fashbir). Sebagai makhluk beriman maka seluruh rangkaian amal dan pengabdiannya harus  diarahkan pada tujuan tunggal,  yaitu menggapai ridha Allah SWT. 

Seharusnya pengembangan lembaga pendidikan tinggi Islam mengacu pada  petunjuk ayat-ayat al-Qur’an ini. Pertama dimulai dari membaca (qirā’ah) kondisi internal maupun eksternal kampus, meliputi: potensi, tantangan, maupun peluangnya. Pemahaman terhadap hal itu semua melahirkan kesadaran. Muddatstsir adalah gambaran orang yang lagi pasif (berselimut), maka hal itu merupakan  sebuah seruan untuk melahirkan kesadaran  agar berlanjut terjadi  qiyam atau kebangkitan. Kesadaran akan menjadi sebuah kekuatan pendorong  terjadinya kebangkitan. Perguruan tinggi Islam harus bangkit. Mereka seharusnya bertekad tak mau diungguli oleh perguruan tinggi manapun dan di manapun. Munculnya semangat itulah yang disebut  telah lahirnya kebangkitan. Selanjutnya, UIN Malang sebagai perguruan tinggi yang ingin menjadikan Islam sebagai pegangan dan pedoman hidup harus menjauhkan diri dari hal apa saja yang bersifat merugikan diri maupun pihak lain (kemungkaran dan bersikap subyektif). UIN Malang harus dikembangkan dalam konteks berjuang (jihad)  mengagungkan asma Allah. Oleh karena itu, diperlukan kesabaran, kesungguhan, kebersamaan dan  pengorbanan. Itu semua dilakukan  sebagai bentuk kesungguhan dalam mendekatkan diri serta menggapai ridha Allah SWT.

Selain ber-iqra’ (membaca) secara terus menerus untuk melahirkan inspirasi dan kekuatan penggerak seluruh komponen yang ada, dibutuhkan pula rumusan  visi, misi, core of value dan  core of belief secara jelas. Sejak  1998 STAIN Malang yang saat ini berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) telah berhasil merumuskan visi, misi dan tradisinya.  Rumusan ini penting artinya untuk selanjutnya dijadikan sebagai dasar menyusun strategi pengembangan yang di dalamnya termasuk susunan skala prioritasnya. Selain itu, STAIN Malang dalam hal ini telah berhasil pula menyusun strategi pengembangan sehingga melahirkan konsep yang disebut dengan Rukun al- Jami`ah yang terdiri atas sembilan macam komponen yang  meliputi : 

(1) sumber daya manusia yang handal, 
(2) masjid, 
(3) ma`had, 
(4) perpustakaan, 
(5) laboratorium, 
(6) ruang belajar/kuliah, 
(7) perkantoran sebagai pusat pelayanan, 
(8) pusat pengembangan seni dan olah raga, dan 
(9) sumber-sumber pendanaan yang luas dan kuat. 

Sembilan komponen itu, merupakan satu kesatuan utuh yang harus diadakan sebagai karasteristik perguruan tinggi Islam, yang diharapkan mampu mengantarkan mahasiswa memiliki empat kekuatan sekaligus, yaitu: 

(1) kedalaman spiritual, 
(2) keagungan akhlak, 
(3) keluasan ilmu dan 
(4) kematangan profesional. 

Walhasil,  semua usaha-usaha  itu dimaksudkan sebagai upaya mendekatkan diri  dan mencapai ridha  Allah SWT. Konsep tersebut dilanjutkan dan dikembangkan pula oleh UIN Malang ke depan.

Penutup

Sebagai sebuah konsep awal, Tarbiyatu ulī al-albāb ini masih memerlukan pengujian  yang saksama. Sebab, konsep ini disusun  semata-mata  didasarkan atas pandangan-pandangan yang lebih bersifat idealis, yang bisa jadi jauh dari kebutuhan nyata atau aspirasi masyarakat yang sedang berkembang. Sebuah konsep dapat dijalankan dengan baik dan maksimal jika ada kesesuaian dengan kekuatan dan kenyataan di lapangan. Sementara realitasnya akhir-akhir ini masyarakat sedang dilanda oleh budaya ekonomi kapitalistik yang serba menuntut  keuntungan besar dan cepat dari usaha dan  modal yang serendah-rendahnya. Jika ungkapan tersebut betul maka konsep ini sangat kontradiktif dengan budaya masyarakat yang berkembang  saat ini 

Akan tetapi, sadar akan fenomena kualitas pendidikan yang semakin hari  tidak menunjukkan kemajuan,  bahkan cenderung merosot, maka  konsep ini diharapkan, sekalipun mungkin dinilai berifat utopis, menjadi bukti bahwa ternyata masih ada sebagian masyarakat yang benar-benar menaruh keprihatinan terhadap kualitas pendidikan. Atas dasar keprihatinan yang amat mendalam tentang pendidikan kita selama ini, konsep ini disusun.

Mudah-mudahan konsep Tarbiyatu Ulī al-Albāb  membawa manfaat bagi upaya-upaya mencari jalan keluar untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan semoga Allah SWT selalu melimpahkan petunjuk, berkah, pertolongan  dan ridha-Nya. Amin.

 

Untuk saran dan pertanyaan tentang situs ini mohon kirim e-mail ke ariefkom@hotmail.com
Copyright © 2005 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
Update : 05/17/05