Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

 

   UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    (UIN) MALANG

Jl. Gajayana 50 Dinoyo Malang 65144 Telp. 62-341-551354 Facs. 62-341-572533 Jawa Timur

Warta UIN 008
Home Warta UIN 010 Warta UIN 009 Warta UIN 008 Warta UIN 007 Warta UIN 006 Warta UIN 005 Warta UIN 004 Warta UIN 003 Warta UIN 002 Warta UIN 001

 

[Under Construction]

[ Warta UIN ]

Minggu, 08 Mei 2005

Perempuan Berandil Besar Ciptakan Perdamaian [detail]

 

Selasa, 19 Okt 2004 

Sehari Sebelum Diganti, Menteri Agama Lantik Pejabat [detail]

 

Kamis, 14 Okt 2004

Menjadikan UIN Pusat Kajian Islam [detail]

 

Jumat, 08 Okt 2004

Hari ini UIN Malang Diresmikan 4 Kali Ganti Nama [detail]
 

Jumat, 08 Okt 2004

Hari Ini UIN Diresmikan, Dapat Dana Rp 300 M untuk Kualitas Kampus [detail]

 

Dua PT Islam Berubah Menjadi Universitas [detail]

 

Kamis, 30 Sept 2004  

IAIN akan Ditinggalkan Masyarakat Bila tak Berubah [detail]

 

28 Sept 2004

Penyerapan Pinjaman IDB Baru Sekitar 30 Persen [detail]

 

Jum'at, 17 Sept 2004
WACANA PERUBAHAN NAMA INSTITUT, KERJA SAMA UIN ”SUKA” YOGYAKARTA-KR (2); Menatap Masa Depan IAIN Pasca UIN [detail]

 

Jumat, 10 Sept 2004

PTI Perlu Merujuk ke Barat [detail]
 

 

 

 

 

 

 

 

 

Thursday, 14 October 2004

Menjadikan UIN Pusat Kajian Islam


SESUNGGUHNYA ada kekhawatiran sebagian sivitas akademika, IAIN berubah menjadi UIN. Pro kontra terhadap perubahan tersebut adalah wajar dan merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Pihak yang pro dengan UIN berpendapat bahwa kemajuan keilmuan di kampus ini harus dilakukan dengan perubahan nama menjadi universitas. Dengan demikian berbagai bidang kajian keilmuan bisa muncul, mulai dari bidang keislaman hingga bidang sosial, humaniora dan eksak.

Di sisi lain pihak yang kontra dengan UIN berpendapat bahwa perubahan tersebut akan menjadi bumerang bagi fakultas-fakultas agama yang ada selama ini. Seiring dengan perubahan nama menjadi UIN, akan muncul nanti fakultas-fakultas umum. Kehadiran fakultas umum ini diperkirakan lebih diminati oleh mahasiswa dibanding fakultas agama. Ini berarti akan membuat fakultas umum suverior, sedangkan fakultas agama menjadi inverior. Kalau prediksi ini benar-benar terjadi sungguh memprihatinkan perkembangan fakultas agama. Padahal kalau belajar pada sejarah, kelahiran IAIN justru dimaksudkan untuk menjadi pelopor kajian-kajian keislaman di tanah air. Jadi sekali lagi adalah wajar kalau ada pihak yang kontra terhadap perubahan IAIN ke UIN.

Eksistensi IAIN Sunan Kalijaga tampaknya terus menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat. Di satu sisi, IAIN sering dipuja sebagai lembaga pendidikan Islam yang diharapkan mampu menjadi benteng moralitas. Namun di sisi lain, IAIN juga sering dinilai sinis sebagai pendidikan kelas kedua (second class). Penilaian sinis itu adalah beralasan, sebab, perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Departemen Agama ini boleh dikatakan perguruan tinggi yang termiskin. Bahkan ada tanggapan, bahwa mahasiswa yang kuliah di IAIN orang-orang desa yang miskin, dan mereka yang tidak diterima di PTN umum. Selain itu prestasi menonjol juga jarang muncul dari kampus ini. Kalau pun kampus ini dikenal lebih luas di tengah masyarakat, bukan karena prestasi akademik, tapi justru dari maraknya demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa .

Kini kualitas IAIN Sunan Kalijaga menjadi sorotan masyarakat. Kejayaan IAIN tatkala Prof Dr Mukti Ali masih aktif di dalamnya sudah berubah dibanding dengan kondisi saat ini. Barangkali kalau dilihat dari pembangunan gedung-gedung perkuliahan ada kemajuan, namun dari gairah keilmuan barangkali ada kemunduran. Dibanding dengan IAIN Sumatera Utara saja sebagai IAIN termuda, IAIN Suka tampaknya sudah tertinggal. Kalau misalnya ukuran kemajuan dilihat dari jumlah dosen yang berpredikat Doktor, jelas IAIN Suka harus mengakui ketertinggalannya.

Di tengah ketertinggalan tersebut tentu IAIN Suka harus berpikir keras membenahi diri. Predikat sebagai IAIN tertua tentu menjadi beban berat sekaligus tanggung jawab besar untuk menunjukkan kualitas yang bisa dibanggakan. Tatkala IAIN Jakarta sudah melangkah lebih maju dengan perubahan nama menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), IAIN Suka juga harus melakukan perubahan. Budaya lamban dan konflik internal yang ada selama ini harus ditinggalkan agar IAIN Suka bisa mengejar ketertinggalan. Apakah IAIN Suka akan mengubah nama menjadi UIN atau tetap IAIN, yang jelas pengembangan keilmuan di IAIN harus segera dilakukan.

Gagasan mengubah IAIN menjadi UIN sesungguhnya sudah lama dilontarkan Menteri Agama Tarmizi Taher. Namun dari kalangan Departemen Agama sendiri masih ada pendapat yang pro dan kontra. Bahkan pada tahun 1993, Tarmizi Taher pernah mengusulkan agar di perguruan tinggi umum negeri dibuka Fakultas Agama. Ide ini pun hingga kini masih belum teraktualisasi.

Keinginan mengubah IAIN ke UIN memang mempunyai alasan logis, yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam yang dikelola Departemen Agama. Sebab dengan memakai nama UIN, berarti fakultas-fakultas umum pun akan dibuka di UIN, bagi pihak yang kontra, dengan dibukanya fakultas umum di UIN, akan menjadi bencana bagi fakultas-fakultas agama. Sebab dengan hadirnya fakultas umum di UIN, akan membuat fakultas agama menjadi kelas kedua. Rencana perubahan IAIN ke UIN, bukanlah sekadar perubahan nama. Juga mengubah fakultas yang ada. Apakah perubahan tersebut suatu tindakan yang latah? Sebab IAIN saja hanya memiliki fakultas agama (Adab, Dakwah, Tarbiyah, Syariah dan Ushuluddin), tampaknya kualitasnya masih berada di bawah perguruan tinggi umum negeri.

Ketika IAIN didirikan 51 tahun lalu diharapkan menjadi pusat pengkajian Islam di tanah air. Hal ini sesuai dengan pendapat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam b uku Muslim di Tengah Pergumulan , bahwa Indonesia yang memiliki umat Islam terbesar di dunia, diramalkan akan menjadi pelopor kebangkitan Islam. Fenomena yang ada saat ini tampaknya sudah mulai mendukung pendapat Gus Dur tersebut. Fenomenanya dapat dilihat pada pendidikan Islam yang sudah mulai berkembang pesat dewasa ini. Dalam hal ini IAIN merupakan motor penggeraknya.

Pendapat yang sama juga dikemukakan Deliar Noer dalam bukunya Pendidikan Islam di Indonesia. Ia berpendapat bahwa IAIN mempunyai peran yang cukup besar dalam usaha mengembangkan pemikiran keislaman. Namun Deliar Noer masih khawatir terhadap kemampuan IAIN untuk mengembangkan tugas besar tersebut. Sebab bukanlah hal yang mudah untuk mewujudkan IAIN sebagai pusat pengkajian Islam. IAIN jelas masih menghadapi banyak kendala untuk melangkah ke sana.

Keinginan untuk mewujudkan IAIN sebagai pusat pengkajian Islam haruslah ditopang oleh kualitas akademik yang baik. Dalam hal ini minimal ada dua faktor yang dominan untuk meningkatkan kualitas akademik tersebut, yaitu tenaga pengajar yang berkualitas dan perpustakaan yang lengkap. Apabila kedua faktor tersebut sudah dapat menunjukkan kualitas yang baik, maka IAIN pun diharapkan mampu menjadi pusat pengkajian Islam di tanah air.

IAIN sebagai perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Departemen Agama tampaknya masih banyak menghadapi kendala. Adanya rencana Departemen Agama mengubah IAIN sesungguhnya tidak mendukung realisasi dari pengembangan pusat pengkajian Islam di tanah air. Justru dengan lahirnya UIN akan memperlambat proses pengembangan pusat pendidikan Islam. Sebab dapat dibayangkan fakultas-fakultas agama yang ada di UIN akan terlambat perkembangannya dibandingkan fakultas umum walaupun sama-sama berada di bawah UIN. Ini dapat dilihat dari kasus yang ada di beberapa perguruan tinggi Islam seperti UII, UMY, UMS, dan lain-lain. Pemakaian nama Islam di perguruan tinggi tersebut hanya sekadar label saja. Justru yang maju perkembangannya adalah fakultas-fakultas umum. Sedangkan fakultas-fakultas agama tak ubahnya sebagai pelengkap penderita saja.

Kalau memang pemerintah mempunyai keinginan yang sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam di tanah air, merupakan conditio sin qua non bagi pemerintah untuk memberi dana yang layak kepada IAIN (Departemen Agama). Dengan demikian kemiskinan yang diderita IAIN, yang konon dana14 IAIN sama dengan dana untuk 1 PTN umum, bisa lebih adil dan merata. Sebab bagaimanapun, sivitas akademika IAIN adalah putra-putra bangsa yang turut bahu-membahu dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan membina moral umat yang dilanda krisis moral. q - o

*) M Arif Efendi & Hamdan Daulay, 

Mahasiswa dan Dosen UIN Sunan Kalijaga 

Yogyakarta.

Sumber: http://202.133.81.114/article.php?sid=2954

Untuk saran dan pertanyaan tentang situs ini mohon kirim e-mail ke ariefkom@hotmail.com
Copyright © 2005 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
Update : 05/17/05